Rahim Untuk Suamiku

Rahim Untuk Suamiku
Laila


__ADS_3

Tiga hari sudah berlalu setelah resepsi pernikahan Bilal dan arsi. kini saatnya Bilal dan arsi akan kembali ke kota tempat dimana Bilal menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter. dan Zahra adalah pasien pertama nya di rumah sakit tersebut.


Hari ini Zahra akan membuka perbannya, seluruh keluarga mengantar Zahra seperti waktu Zahra akan melakukan operasi tersebut. Najwa selalu menggandeng tangan Zahra tiada henti dan Faras tak setia berada di sampingnya.


Zahra mulai diperiksa oleh Bilal, semua menunggu dengan begitu tegang. berharap jika operasi Zahra berhasil, setelah tubub Zahra diperiksa stabil kemudian Bilal mengucapkan bismillah. ia berdoa terlebi dahulu sebelum membuka perban Zahra.


" mba Zahra sudah siap mba, ikhlas ya mba apapun yang terjadi. semoga Allah mengijabah semua doa kita yang ada di sini". semua mengaminkan ucapan Bilal.


" insyaAlloh mba siap Bilal apapun yang terjadi, keputusan Allah lah yang terbaik semua pasti ada hikmahnya". semua lega dengan pengucapan Zahra.


" saya buka perbannya, tapi mba jangan langsung membuka mata jika saya belum memberi aba-aba". Zahra mengangguk, dengan mengucapkan basmalah Bilal membuat perban mata Zahra secara perlahan. Najwa memegang jemari Najwa Faras dan yang lainnya melantunkan dzikir.


" mba buka mata secara perlahan, sangat perlahan jangan di paksa membuka langsung. karena mata mba akan terasa ngilu sudah satu Minggu mba terpejam" Zahra berusaha membuka matanya perlahan membuat semua yang ada di situ merasa tegang. Bilal tersenyum ia melihat ada pantulan dirinya di mata Zahra.


" Bagaimana mba, mba Zahra bisa melihat kita semua. Kita semuanya menunggu mba, kita semua sangat menyayangi mba Najwa". ucap Bilal menguatkan pasien nya yang kini sebagai kakak sepupu nya.


" dimana Rafa ". semua ia lihat kecuali anaknya Rafa. Semua menyimpulkan jika kini Zahra yang bisa melihat, benar Rafa tidak di perkenankan ikut di rumah sakit karena itu gak baik.


" kamu sudah melihat kita semua zahra, ucap Faras". Zahra mengangguk.


" Alhamdulillah". kebahagiaan menghampiri semuanya yang ada di ruangan itu, arsi sontak langsung memeluk suaminya Bilal ia begitu berterima kasih kepada suaminya...


" Zahra ya Allah". najwa memeluk Zahra, kemudian Faras memeluk kedua istrinya.


" Zahra sudah melihat ya Allah, Alhamdulillah". Isak tangis bahagia membanjiri ruangan itu para umi bergantian memeluk Zahra.


" mas di mana Rafa". ..

__ADS_1


" Rafa tak di perkenankan ikut sayang, ia di rumah bersama suster tak baik jika ikut ke ruamh sakit.". Zahra berfikir betul yang di katakan suaminya jika Rafa lebih baik berada di rumah.


" mba Zahra, selama belum kontrol tolong mba Zahra hindari melihat televisi ataupun handphone. untuk sementara agar mata mba sehat terlebih dahulu, mata mba sedang menyesuaikan dengan pemiliknya yang baru". Zahra mengangguk mengiyakan.


" dok, apa belum ada info siapa orang yang mendonorkan mata ini kepada Zahra. Zahra mau berterima kasih kepada keluarganya".


" belum mba, mereka merahasiakan nya katanya suatu saat nanti mereka akan menuai mba Zahra setelah mba Zahra sudah melihat". ucap Bilal.


" ku mohon dok, saya sangat ingin bertemu keluarga nya".


" iya mba, kami tak punya wewenang mba jika itu adalah permintaan dari pendonor untuk merahasiakan identitas nya". Zahra lesu ia belum mengucap kan terima kasih kepada keluarga pendonor mata.


" tenang sayang, suatu saat mereka akan menemui kita. tadi Bilal sudah mengucapkan begitu kan. mungkin mereka sekarang sedang berduka atas kepergian kerabatnya belum ingin di ganggu".


" mba jangan banyak pikiran dulu, fokuskan pada kesehatan mba agar lekas pulih". ucap Bilal. Zahra mengangguk ia akan lebih fokus kepada kesehatan nya.


Sedangkan di tempat lain ada seorang ibu yang masih saja bersedih karena kehilangan seorang anak yang sangat ia sayangi. Takdir berkata lain jika anaknya memang harus pergi secepat ini, mencoba mengikhlaskan tapi masih sulit. ibu selalu mengingatnya kembali.


" ma jangan menangis terus, anak kita tak suka jika ia dari sana melihat mama menangis". ucap papa menenangkan mama.


" Laila pa, mama rindu dengan Laila".


" Laila sudah bilang kepada kita, jika mama rindu datang saja ke rumah Zahra. Zahra itu anak yang baik pasti ia akan menerima kita dengan tangan terbuka.".


" ayo pa kita ke rumah Zahra". mama menarik tangan papa.


kemudian papa mengikuti untuk berkunjung ke rumah Laila. sesampainya di sana sepi seperti tak ada orang, lalu papa turun mendekat ke security.

__ADS_1


" pak di mana nona Zahra". tanya papa.


" semuanya sedang ke rumah sakit pak, nona Zahra hari ini membuka perban dari operasi nya kemarin".


" baik terimakasih pak". papa menghampiri mama yang sedang berada di mobil, tapi mama ingin ke rumah sakit untuk melihat Zahra. karena di sana ada mata Laila yang tersimpan, mata yang sangat indah dengan bola mata sedikit berwarna coklat.


" mama tenang ya, sebaiknya kita menemui dokter terlebih dahulu. Kita tanya apa bisa menemui Zahra sekarang, papa takut jika kita belum bisa menemui Zahra karena kesehatan nya". mama mengangguk ia akan menuruti papa.


Kemudian Khoirul dan Nita orang tua dari Laila ke rumah sakit, ia meminta kepada suster ingin bertemu dokter yang menangani Zahra. Pak Khoirul dan ibu nita di perintahkan untuk menunggu sebentar karena dokter Bilal masih visit. Setelah selesai Bilal langsung mengunjungi kedua orang tua paruh baya itu.


" ada yang bisa saya bantu bapak ibu". tanya dokter Bilal.


" dok sebelumnya kami minta maaf, kami adalah orang tua dari pendonor mata untuk Zahra. Maaf jika kami merahasiakan ini terlebih dahulu, karena ini permintaan anak saya yang mendonorkan mata ke pada Zahra. dan istri saya sangat merindukan anak saya yang telah meninggal, di dalam mata Zahra ada mata anak saya sebagai pengobat rindu kami. dok bisakah saya menemuinya sekarang juga". tanya Khoirul.


" maaf bapak ibu, sebagai dokter sekaligus kerabat dari mba Zahra kami sangat berterima kasih sekali dengan kebaikan anak ibu dan bapak. tapi maaf sebelumnya untuk saat ini Zahra belum boleh mengetahuinya siapa pendonor nya, ini lebih mengutamakan kesehatan Zahra. nanti Bu satu bulan lagi ibu bisa menemui Zahra, sekarang ibu bisa melihatnya dari jauh saja. maafkan kami pak Bu". jelas Bilal memang demi kesehatan Zahra, takut terjadi sesuatu kepada Zahra.


". jadi tak bisa hari jni dok". desak mama.


" maaf ibu belum bisa maafkan kami, jika memang ibu sangat ingin bertemu nanti satu bulan lagi ketika mba Zahra benar-benar pulih. boleh tau kalian mengenal mba Zahra dari mana, anak ibu hingga rela mendonorkan mata untuk kakak saya". tanya Bilal serius ia penasaran.


" Laila adalah sahabat Zahra di kampus, Laila ingin merahasiakan terlebih dahulu. karena jika Zahra tau ia tak akan mungkin mau menerima donor mata ini". jelas pak Khoirul


" nah apalagi kasusnya anak ibu adalah sahabat mba Zahra, ia pasti syok mendengar kabar sahabat nya telah tiada". pak Khoirul mengangguk.


" baiklah dok terima kasih, kami akan melihat nya dari jauh saja. tolong rahasiakan ini dulu dok kami akan menemuinya sebulan lagi".


" terimakasih pak atas pengertian nya".

__ADS_1


___


__ADS_2