
Di rumah Zahra terdengar umi berteriak melihat suaminya yang sudah tergeletak di kamar mandi, kemungkinan besar suaminya terjatuh terpeleset. Zahra yang sedang belajar bersama adik-adiknya berlari mendekat ke asal suara.
" astaghfirullah kenapa umi". Zahra menutup mulutnya seketika melihat Abi yang sudah tergeletak.
" ayo kita bawa ke rumah sakit umi". adik Zahra berlari ke depan untuk meminta pertolongan warga keluar untuk menolong Abi Zahra untuk di bawa ke rumah sakit.
Langsung masuk ke ruang ICU keadaan Abi Zahra kritis ia terluka cukup parah di bagian kepalanya, ada sedikit gumpalan dan har Yous di lakukan operasi.
" bagaimana keadaan Abi saya dokter". ucap Zahra air matanya masih mengalir.
" maaf nona dengan berat saya mengatakan jika ayah anda harus secepatnya di operasi, ada gumpalan di kepalanya". umi dan Zahra terkejut dengan kabar yang tidak baik ini.
" umi bagaimana dengan Abi mi". ucap Zahra sembari menangis.
" umi tidak tau harus bagaimana lagi nak, apa umi akan minta ke rentenir itu lagi. itu namanya kita tidak menghormati nak Najwa yang sudah menolong kita dari jeratan hutang itu". ucap umi berusaha kuat.
" lalu bagaimana umi di mana kita akan dapat uang untuk membayar Operasi Abi". cukup banyak dan mereka hanya punya rumah satu-satunya yang mereka tinggali.
" kita berdoa dulu kepada Allah ya semoga ada jalan keluar, jangan putus asa kita punya Allah sebisa mungkin kita menghindari hutang. Allah sudah baik kepada kita lepas dari para rentenir itu, seharusnya tidak mengecewakan Nya." umi menerangkan kepada Zahra yang panik.
Umi masuk ke dalam ruang ICU untuk melihat keadaan abi sebentar. Sekuat tenaga umi menahannya agar tak menangis. Ia tahu jika Allah sangat menyayangi nya hingga Allah memberikan ujian bertubi-tubi. Suaminya orang yang sangat baik dan suka memberi kala itu, ia yakin jika nanti ada keajaiban Allah. Di sepertiga malam umi bangun dan memohon kepada Allah untuk kesembuhan suaminya begitu juga dengan Zahra, ia akan melakukan apapun demi sang Abi.
Hari ini Zahra tidak masuk sekolah ia izin berada di rumah sakit, Abi belum bisa melaksanakan operasi karena sama sekali belum ada biaya. Harta mereka tinggallah rumah satu-satunya itu, tak ada yang bisa ia tengok yang lain lagi dengan berat hati mau gak mau umi akan menjual rumah itu. Zahra menunggu di rumah sakit dan umi pulang untuk menawarkan ke beberapa tetangga untuk menjual rumahnya.
Najwa sejak tadi celingukan mencari keberadaan Zahra namun ia tak menemukan Zahra di manapun. biasanya Zahra berada di perpustakaan atau di bawah pohon itu, Zahra jarang sekali pergi ke kantin ia selalu membawa bekal. Zahra harus irit uang jajannya ia pakai sewaktu-waktu untuk keperluan sekolah yang tak terduga.
" Anisa di mana Zahra sejak tadi ibu tak melihat". tanya Najwa ke salah satu teman kelas Zahra.
" izin Bu sedang menemani abinya di rumah sakit". jawab Anisa dengan ramah.
__ADS_1
" rumah sakit, Abi nya sakit atau bagaimana". Najwa sangat penasaran, Zahra termasuk siswi rajin tak pernah izin ke sekolah.
" semalam Abi nya terpeleset di kamar mandi Bu"
" innalilahi, kamu tau di rawat di rumah sakit mana". tanya Najwa lagi ia sangat ingin ke sana.
" Rumah sakit sehat Bu, semalam di bawa di puskesmas dekat rumah tapi tak sanggup harus di bawa ke rumah sakit kota". Anisa adalah tetangga Zahra jadi ia tau detail tentang apa yang terjadi semalam.
" terimakasih atas informasinya ya" Anisa mengangguk dan ia berlalu menunju kantin.
Hari ini Najwa tidak ada jam siang ia berniat akan ke rumah sakit, pasti Zahra sangat sedih apalagi sampai harus di rumah sakit kota. Najwa berniat mengajak Jihan sahabatnya itu, ia langsung melajukan motornya ke rumah jihan. di jalan Najwa bertemu dengan ibu nya Zahra, ia berhenti hendak menemui ibunya Zahra.
" eh nak Najwa mau kemana". umi Zahra menyembunyikan raut wajah sedihnya ia tak ingin ketahuan Najwa, malu jika Najwa tau bahwa ia akan menjual rumahnya.
" mau ke rumah jihan Bu, ibu di sini saya dengar suami ibu masuk rumah sakit".
" iya semalam terpeleset, bapak tidak apa-apa nak Najwa " umi Zahra tersenyum.
" ibu mau jual rumah" tanya Najwa.
" iya untuk biaya rumah sakit suaminya, suaminya harus di operasi lukanya lumayan parah". ucap tetangga yang di tawarkan rumah, umi hanya diam saja ia sangat malu.
" maaf nak Najwa saya tak punya apa-apa selain rumah itu, kemarin sudah nak Najwa tebus dari rentenir. bukannya saya tak tau di untung tapi saya sangat membutuhkan uang itu nak. maaf kan ibu nak maaf, ". umi nya Zahra duduk untuk memohon memegang kaki nya Najwa akan bersimpuh. namun Najwa langsung menangkap umi nya Zahra ia tak mungkin menerima simpuh orang yang umurnya lebih tua darinya.
" jangan lakukan ini bu,".
" maaf nak Najwa". umi menangis, di pelukan nya sang umi oleh Najwa.
" coba ceritakan Bu sebenarnya ada apa, tolong katakan supaya saya bisa membantu ibu". ucap Najwa ia mengajak umi nya Zahra untuk duduk.
__ADS_1
" Abi harus melakukan operasi karena jatuhnya kepala Abi mengalami gumpalan harus segera di operasi, ".
" innalilahi, ayo Bu kita ke rumah sakit". ucap Najwa mengajak ibu ke rumah sakit di bonceng motor oleh Najwa.
" tapi nak ibu harus dapat uang hari ini, sebentar ya ibu mau hitung-hitungan dengan Bu eti". Najwa mencekal ibu.
" ayo Bu kita segera ke rumah sakit saja tak usah pikirkan biaya nya lagi, cepat Bu jangan menunda waktu". desak Najwa.
Sesampainya di rumah sakit terlihat zahra menangis. Umi dan Najwa segera menghampiri zahra.
" ada apa Zahra, ada sesuatu dengan Abi". tanya umi namun najwa langsung mencari dokter yang menangani Abi nya Zahra.
" pasien sempat kejang sebentar kita harus cepat melakukan tindakan, gumpalan di kepalanya harus cepat di operasi.". kata dokter menjelaskan kepada Najwa.
" cepat lakukan tindakan operasi langsung dok saya yang akan menanggung biayanya". dokter terdiam.
" kenapa diam dok saya akan bayar berapapun".
" tapi biayanya tidak sedikit nyonya". ucap dokter.
" saya Najwa istri dari Faras pemilik perusahaan Brawijaya". dokter langsung melongo itu perusahaan besar pasti semua orang mengenalnya.
" silahkan lakukan admistrasi dulu Bu, maaf saya tak bisa banyak membantu".
" baik". Najwa langsung berlari bergegas ke administrasi dan menyelesaikan administrasi nya. Zahra memberikan kartu atm yang tak pernah ia pakai semenjak menikah dengan Faras karena uangnya dari mengajar cukup untuk kebutuhan Najwa. meski banyak uang Najwa tak pernah mengahamburkan uangnya.
"""
bersambung
__ADS_1
tinggalkan jejak ya kakak like, komen, hadiah dan vote.