
Zahra menunggu sopir untuk pulang meski di tawari teman-temannya untuk bareng Zahra tetap menolak. ia mengingat kata Faras jika sopir akan menjemput ia di minta untuk menunggu.
" Zahra sedang menunggu siapa". tanya Dodi teman satu kelasnya.
" menunggu jemputan" jawab Zahra.
" bareng aku saja nanti ku antar sampai rumah". ucap Dodi.
" trimakasih aku menunggu saja".
" tak apa Zahra aman sama aku". Zahra tersenyum ia tetap menolak.
Hampir satu jam Zahra menunggu namun sopir belum datng, tetap ia tak mau beranjak. Lima menit kemudian yang datang adalah Faras suaminya, ia sedikit tergesa-gesa Zahra sudah pasti lama menunggu.
" maaf sayang mobil sopir ban nya pecah masih ada di bengkel, kemana handphone mu". tanya Faras sejak tadi ia menghubungi Zahra tidak bisa.
" astaghfirullah, maaf mas aku silent juga tak ada getaran nya. waktu di kelas tadi belum Zahra betulkan". Faras tersenyum ia tidak marah, melihat wajah Zahra yang imut dan lucu bikin ia ingin tertawa.
" ya sudah tak apa, tadi mas takut kamu kelamaan menunggu"
" ngga apa tadi Zahra menunggu cuma satu jam". Faras melongo untuk nya satu jam itu lama, namun Zahra masih tetap setia menunggu.
" maaf ya, ayo masuk keburu telat nanti Abi ke rumah sakit". ucap Faras meminta Zahra agar cepat masuk.
" mas antar saja Zahra nanti biar naik taksi ke rumah sakitnya, mas ke kantor saja". Faras tersenyum melihat zahra, Zahra benar-benar takut jika Faras tak bekerja padahal Faras itu bos nya.
" tidak ada yang begitu penting hari ini di kantor sayang biar mas temani Abi ke rumah sakit, mas juga pengen tau perkembangan pengobatan Abi". namun sebelumnya Faras sudah memberi kabar kepada Najwa jika sopir ada masalah sama mobilnya dan Faras yang akan jemput Zahra. Najwa mengiyakan dan ia yang meminta agar Faras menemani Abi Zainal kontrol supaya tau kondisi mertuanya.
Faras lagi-lagi mengusap kepala Zahra ia sudah terbiasa melakukannya, dan Zahra merindukan hal itu.
" mas kalau bolos nanti tak di marah bos nya mas Faras". Faras terkekeh, ternyata Zahra belum tau jika itu adalah perusahaan suaminya. Pasti tentu bos nya Faras yang menggantikan Abi nya.
" Biarin aja marah, nanti cepet tua kalau marah". Faras terkekeh.
__ADS_1
" nanti kalau mas di pecat gimana, nyari kerja sekarang itu susah mas. mas juga menghidupi aku dan mba Najwa, kuliah Zahra gimana juga mas." wajah ketakutan Zahra terlihat sekali membuat Faras terkekeh kembali.
" ngga sayang kamu tenang aja ngga perlu pikirin soal biaya, kamu belajar yang rajin biar cepet lulus". ucap Faras kembali mengusap kepala Zahra.
Sesampainya di rumah pak Zainal terlihat mereka sedang menunggu, Zahra mau ikut ia tak mengizinkan kedua orang tuanya berangkat dahulu.
" assalamu'alaikum". ucap Faras dan Zahra bersamaan.
" wa'alaikumsalam". jawab umi dan Abi.
" maaf Abi kami telat".
" tidak apa-apa nak Faras, jika memang sibuk sebaiknya kami tadi naik taksi juga tak apa ".
" Faras tak begitu sibuk Abi, Faras juga ingin melihat perkembangan pengobatan Abi. ". ucap Faras.
Mereka bergegas pergi ke rumah sakit tak harus menunggu lama nama pak Zainal di panggil. Semua dengan seksama mendengarkan penjelasan dokter, Alhamdulillah keadaan pak Zainal cukup membaik.
_
" tumpahkan semua Najwa, luapkan kesedihan mu, kemarahan mu ". ucap jihan ia tau isi hati Najwa. Najwa masih terus menangis.
" Rasanya sakit sekali Jihan lebih sakit dari penyakit ku" ia memegang dadanya yang sesak.
" aku sudah memberitahu mu sejak awal Najwa, tapi kamu sendiri yang bilang ingin memberi kebahagiaan untuk Faras".
" aku sangat mencintai nya Jihan dan terlalu mencintainya hingga aku rela membagi suami ku dengan yang lain agar saat aku pergi nanti mas Faras sudah ada yang menemani aku bisa tenang."
" tapi apa yang kamu peroleh sekarang, apa Faras tak adil terhadap mu atau Zahra sekarang mulai ngelunjak ia selalu mencari perhatian suamimu". tanya Jihan menginterogasi Najwa.
" tidak sama sekali tidak Jihan, mas Faras selalu bersikap adil dan ia menjaga sikapnya di depan kami berdua. dan Zahra ia gadis yang sangat polos ia juga tidak mengambil farasku aku yang memberikannya. Selama tiga bulan pernikahan mereka pun tak melakukannya jihan, baru kemarin malam itu pun karena perbuatan ku aku yang memberi mas Faras obat kuat. dan itu semakin membuat ku sakit" Jihan mengehela nafas berat mendengar cerita Najwa. ia sendiri yang membuat lubang luka itu.
" Najwa kamu yang mengawali semuanya kamu juga yang merasakan kepedihan nya, lalu apa maumu bagaimana kelanjutan kalian".
__ADS_1
" aku akan tetap berjalan menjalani kehidupan ini Jihan hingga ujung waktuku"
" Apa tidak sebaiknya kalian tidak satu atap Najwa ". ucap Jihan.
" tidak Jihan aku kasihan dengan Zahra ia begitu polos tak mungkin aku membiarkan nya berada di rumah sendiri, aku akan tetap menjaganya".
" baiklah jika itu maumu, ingat atur emosi kamu Najwa dan mulailah lakukan kemoterapi agar penyakit mu tak semakin menyebar". nasehat Jihan.
" aku akan lakukan kemoterapi jika aku tau Zahra hamil, itu tujuan ku Zahra di nikahi oleh mas Faras. Mas Faras akan mempunyai anak dari Zahra". Najwa mengusap air matanya ia mulai tersenyum.
" aku tak habis pikir sama kamu Najwa".
" Sudahlah sebentar lagi mereka akan menjemput ku, aku pulang ya Jihan terima kasih selalu memberikan pundakmu untuk ku. kamu teman terbaikku." ucap Najwa memeluk Jihan.
" kamu juga teman terbaikku Najwa". Najwa pamit pulang ke rumah orang tua nya.
_
Selesai dari rumah sakit Faras dan zahra istirahat sebentar di kamar rumah baru Abi Zainal, keduanya merebahkan tubuhnya. Zahra melepaskan jas yang dipakai suaminya.
" terimakasih" ucap faras, Zahra tersenyum. lalu Faras merebahkan tubuhnya.
" Zahra kamu pernah menyukai seseorang". Zahra menggeleng.
" kenapa, biasanya pasti ada orang yang pernah kamu sukai semasa sekolah"
" di saat sekolah Zahra selalu fokus dengan pelajaran dan aku tak pernah memikirkan yang lain. aku takut jika tak bisa mendapatkan nilai terbaik". Faras lalu menarik tubuh Zahra ke dalam pelukannya, Zahra malu tak berani menatap Faras.
" aku tau pernikahan kita bukan karena cinta tapi perjodohan oleh istriku sendiri, aku akan menjadikan kalian berdua adalah ratu dalam hidupku. kita sama-sama belajar Zahra, jangan pernah kecewakan Najwa". ucap Faras.
" mas Faras sangat mencintai mba Najwa".
" iya melebihi apapun ia cinta pertama ku sebelumnya aku tak pernah mengenal wanita istriku adalah orang pertama dan kamu kedua". Faras mengusap kepala Zahra.
__ADS_1
,___
bersambung