
" mas Faras astaghfirullah". Faras mengerjapkan matanya mendengar Najwa berteriak, Zahra yang masih terlelap juga kaget mendengar teriakkan Najwa.
" mba ada apa". tanya Zahra bingung.
" kenapa sayang ada apa". Faras yang baru bangun juga kaget.
" Kenapa mas Faras tidur di sini, Zahra..." Najwa minta keterangan pada zahra matanya ke arah Zahra.
" semalam mas Faras tidur di dekat Zahra mba, mas...". Zahra minta keterangan pada Faras. mereka saling pelototan, Faras hanya bisa garuk-garuk kepala.
' gini aja udah pusing'. gumam faras.
" Semalam memang mas tidur di kamar Zahra tapi mas ngga bisa tidur lalu keluar mau ke kamar kamu, kamar Najwa di kunci akhirnya mas tidur di sofa baru bisa terlelap". Najwa geleng-geleng kepala.
" ini malam pengantin kalian pasti tau kan pengantin itu jika malam pertama ngapain, setidaknya kalian tidur di kamar yang sama".
" maafkan mas Najwa, mas belum bisa ".
" iya mba maafkan Zahra".
" Ya sudah malam ini aja ada pemandangan seperti ini mas Faras, mas Faras harus mencobanya. Kalian harus lebih dekat pelan-pelan, sudah jam 3 kita shalat malam berjamaah". ucap Najwa lalu ia turun.
Kembali Faras bingung mau masuk di kamar yang mana, faras memang belum terbiasa dengan Zahra. Faras diam mematung tetap duduk di sofa.nzahra yang melangkah turun kembali lagi melihat suaminya bingung.
" mas jika waktunya mas ada di kamar Zahra ya dalam tiga hari ke depan apapun yang mas lakukan tetap di kamar Zahra, temui kamar najwa setelah tiga hari berlalu". akhir nya Faras ke kamar Zahra, Zahra menyiapkan alat sholat Faras.
" trimkasih". ucap Faras, Zahra hanya mengangguk.
_
_
Tiga hari berlalu Faras senang karena ia akan berada di kamar Najwa, sudah sangat rindu meski baru tiga hari saja. Rindu peluk Najwa, bersama Zahra Faras masih canggung. Zahra belum berani melepas jilbabnya jarak tidur antara mereka berjarak jauh. Tak ada obrolan santai seperti saat Faras bersama Najwa saat di kamar, Faras takut jika Zahra tak berkenan sampai detik ini Zahra masih ting-ting.
" Najwa mengajar agak siang mas, kita ke kampus dulu untuk mendaftarkan Zahra. Setelah itu antarkan Najwa ke madrasah, Zahra kamu ikut ke kantor mas Faras saja ya." ucap najwa Faras melongo ia masih malu sama orang-orang kantor membawa istri mudanya.
__ADS_1
" Zahra pulang saja ya mba".
" mas Faras akan kesiangan nanti Zahra". Najwa memang sengaja membuat Zahra dan Faras dekat.
Setelah sarapan mereka bertiga melaju ke kampus yang di tuju, awalnya Zahra ngga mau karena kampus itu mahal. Zahra mau ke kampus yang biasa saja, tapi Najwa kekeh ia tetap ingin memberikan yang terbaik untuk pendidikan Zahra. Semua sudah lengkap pengisian formulir pendaftaran menjadi mahasiswa. Karena Zahra prestasinya baik jadi Zahra langsung di terima tak perlu pakai tes.
" biar Zahra naik taksi saja pulangnya mba". Zahra masih tak enak jika harus ikut ke kantor Faras.
" jangan Zahra orang tua mu menitipkan kepada mba dan mas Faras untuk menjagamu" Zahra tidak bisa menolak lagi.
Najwa ke madrasah karena ada jam, Zahra ikut dengan Faras. Seisi kantor melihat bos dan istri nya masuk, tak ada yang berani berkomentar Zahra menyapa karyawan dengan senyuman. Kabar pernikahan kedua Faras sudah terdengar sampai ke telinga karyawan. Setelah keduanya masuk baru suara riuh karyawan membicarakan bosnya.
" masih muda dan sangat cantik". ucap Dio yang matanya tak lepas memandang Zahra.
" hus.. bos kita itu".
" pandai sekali bos mencari istri muda".
" namanya juga bos duitnya banyak, kalau mau cari empat istri mah gampang". Fauzi terkekeh.
" ada ya zaman gini istri rela di madu sampai begitu".
" namanya istri saliha".
" sudah-sudah lanjutkan pekerjaan kalian jangan gosip". sekretaris Faras membubarkan mereka.
" i iya pak".
Zahra merasa bosan, ia hanya membaca buku saja menunggu Faras bekerja. Faras malah seakan lupa jika ada Zahra di ruangannya. Tak lama Zahra tertidur masih sedang memegang buku, ketika Faras berdiri akan ke toilet ia baru sadar jika ada Zahra yang sekarang sudah terlelap.
" eh bocah tertidur". Faras tertawa melihat wajah Zahra baginya lucu. Faras membenarkan posisi tidurnya Zahra.
' mas ngga perlu jemput, Najwa sudah pulang tadi bareng sama baba mau ceramah keluar desa' . pesan terbaca di handphone nya Faras.
" Najwa pasti ini perbuatan mu" gumam Faras .
__ADS_1
Zahra menggeliat bangun di liatnya posisinya yang sudah berbeda, ia benar-benar ketiduran. Di lihatnya suaminya sednag berkemas sudah sore dan akan pulang.
" nyenyak tidurnya" sapa Faras.
" maaf mas, Zahra ketiduran". ucap Zahra
" ya sudah cuci muka sudah sore kita pulang". Zahra mengangguk dan melangkah ke toilet.
" duduk di depan jangan di belakang saya bukan supir kamu". Zahra bingung ia takut jika tak sopan.
" ayo buruan sudah sore, Najwa sudah menunggu di rumah". Zahra lalu Pindah naik ke kursi depan.
" mba Najwa sudah pulang, biasanya di jemput mas Faras sepulang kerja"
" iya tadi katanya bareng baba yang mau ceramah ". Zahra mengangguk.
" Zahra jangan pikirkan apapun ya, aku tak akan memaksamu jika belum siap" Zahra hanya mengangguk, ia tau jika suaminya sangat mencintai Najwa.
" gimana kamu suka kampusnya tadi". tanya Faras mencairkan suasana agar Zahra tidak tegang.
" suka sih, tapi kampus itu terlalu mahal mas". Faras terkekeh.
" tak apa-apa ada hak uangmu juga, kamu mendapatkan bagian yang sama dengan Najwa." Zahra benar-benar polos memang dia tak mau di kira hanya mau uangnya Faras. Padahal hak Faras belum Zahra berikan, jika Zahra ingin mendahului itu juga tak mungkin ia tak tau. saking polosnya Zahra.
" Zahra menikah sama mas Faras itu atas kemauan mba Najwa, mb Najwa menginginkan keturunan dari rahim Zahra". Faras lalu menghentikan mobilnya menepi.
" husst, jangan membahas hal itu. keturunan itu hak Allah yang memberi, kita mengenal dulu aku juga ngga mau menyakitimu Zahra. Lakukan dengan keikhlasan diri masing-masing, kamu mau kan bantu mas Faras. mas Faras juga tak ingin merasa bersalah padamu seumur hidup".
" mas Faras tidak bersalah, Zahra percaya jika memang ini jalan yang di pilihkan Allah. Zahra menjadi istri ke dua mas Faras"
" kedudukan kalian sama di mataku, sama-sama istriku. tapi maafkan aku Zahra aku sangat mencintai Najwa lebih dari apapun, aku harap kamu tidak perlu cemburu berlebihan denganku. kita sama-sama mencoba untuk dekat dulu, mudah-mudahan Allah juga menumbuhkan rasa itu ada dalam diri kita" Zahra mengangguk kini sudah tak kaku lagi dekat dengan suaminya, tapi Zahra masih menjaga jarak.
____
bersambung
__ADS_1