Rahim Untuk Suamiku

Rahim Untuk Suamiku
dimana Laila


__ADS_3

Khoirul dan Nita melihat Zahra dari kejauhan, Nita tak bisa lagi menahan ia menangis melihat Zahra yang kini sudah bisa melihat. Zahra tertawa bahagia bersama keluarganya kini ia bisa melihat lagi. melihat sosok suami yang ia sangat cintai.


" pa Laila pa". tangis Nita


" Laila pasti akan bahagia pa, apalagi kita mendonorkan mata pada orang yang tepat. Zahra sahabat Laila, Laila sangat menyayangi nya. Sudah yuk kita pulang, sudah lega kita melihat mata Laila ada di matanya Zahra. sebulan lagi kita pasti akan bisa lebih dekat melihat nya dan mama bisa memeluk Laila". Nita mengangguk ia kemudian menuruti suami untuk ikut pulang.


Arsi datang menemui suaminya yang duduk melihat riwayat mata Zahra yang ia tangani. Zahra adalah pasien pertama nya di rumah sakit ini.


" lelah mas". Bilal tersenyum melihat ke arah istrinya.


" kenapa mau pijitin boleh sini". arsi lalu berdiri ia memijit bahu Bilal suaminya.


" MasyaAlloh sayang pijitan kamu enak sekali, mas harus bayar berapa ini satu jamnya". canda Bilal.


" cinta mas, arsi mau mas membayar dengan cintanya mas". Bilal tersenyum.


" cinta mas tak akan pernah dijual sayang, semuanya untuk mu tak ada yang lain sayang. terimakasih sudah menerimaku menjadi suamimu". arsi tersipu malu.


" tadi pasien yang baru keluar mas".


" sebenarnya itu..." Bilal menjada perkataannya ia ragu.


" ya sudah jika itu adalah privasi seorang dokter arsi tak akan bertanya".


" itu adalah orang tua yang mendonorkan matanya untuk mba zahra". arsi terkejut.


" kenapa mereka tak temui mba Zahra, padahal mba Zahra sangat ingin bertemu dengan mereka setidaknya mengucapkan terima kasih". Bilal menarik arsi agar duduk di pangkuan nya.


" mas yang melarangnya sayang demi kesehatan mba Zahra, karena yang mendonorkan matanya adalah sahabat mba Zahra. sekarang mba Zahra belum stabil mas ngga mau terjadi sesuatu dengan mba Zahra. mba zahra pasti akan syok jika tau jika sahabat nya telah tiada dan ia mendapat donor mata nya. mas minta kepada orang tua nya agar menemui sebulan lagi, biar mba Zahra siap menerima kenyataan ini". Bilal menatap intens bibir arsi.

__ADS_1


" Masya Allah baik sekali sahabat mba zahra itu ya mas".


" begitulah sayang mungkin karena mba Zahra juga baik, jadi kebaikannya kembali kepada mba Zahra. Makanya kita disuruh terus berbuat baik terus. kamu juga harus berbuat baik sama mas". arsi mengerutkan alisnya.


" maksud mas apa." arsi mencolek hidung suaminya yang sangat dekat dengan wajahnya.


" begini sayang aku mencintaimu". Bilal mel**** bibir arsi dengan lembut, arsi pun membalas dan ia menikmatinya.


Zahra tidak dirawat karena keadaannya yang baik ia di perbolehkan untuk langsung pulang dengan syarat yang Bilal ajukan. Faras pun tak khawatir karena dokter nya itu sepupu nya Najwa, jika sewaktu-waktu ada sesuatu ia akan mudah menghubungi sang dokter.


" tetap banyak istirahat dulu ya mba, jangan banyak melakukan aktivitas dulu biar mba cepat pulih. dua Minggu lagi kontrol ke rumah sakit ya, Bilal tak bisa lakukan di rumah mba karena alat nya ada di rumah sakit".


" terima kasih ya Bilal sudah membantu Zahra, kami sangat berterima kasih".


" itu sudah menjadi tugas saya mas".


kemudian mereka pulang ke rumah, semua mengikuti kepulangan Zahra. Senang dan bahagia Zahra sudah melihat lagi. Sesampainya di rumah Rafa menyambut Zahra, ia tertawa melihat uminya Zahra sudah pulang. Faras berjalan lebih dulu untuk menggendong Rafa, senyum terukir dari wajah Najwa melihat Faras bahagia memiliki Rafa. itulah tujuan utama Najwa meminta Faras untuk menikahi Zahra, ia ingin Faras mempunyai keturunan.


" Zahra sudah tau kini siapa orang-orang yang dekat dengannya bahkan ia sudah tau jika ia punya dua ibu." ucap umi melihat ke arah anaknya.


" iya umi Rafa anugerah terindah yang kita miliki, Abi ikut bahagia". orang tua Faras bahagia melihat anaknya juga bahagia. meski anaknya menikah dengan dua istri namun kehidupan rumah tangga Faras baik-baik saja dan bahagia. dua istri yang saling pengertian dan menghormati satu sama lain.


Zahra di tuntun Faras untuk naik ke atas menemani nya beristirahat. Najwa yang memintanya, Najwa ingin di bawah menemani Rafa yang masih asik bermain.


" Alhamdulillah sayang akhirnya Allah berikan kemudahan untuk donor mata untuk mu, mas sangat senang".


" jika kemarin Zahra buta terus bagaimana dengan mas Faras".


" Allah memberi kita ujian itu pasti ada hikmah di balik semuanya sayang. walaupun kamu akan buta seumur hidup kamu masih tetap istriku aku akan tetap menyayangi mu, yang buta hanya matanya hatinya kan tidak. dan kamu juga masih bisa melayani mas sebagai seorang istri". ucap Faras.

__ADS_1


" terima kasih ya mas, terima kasih atas semuanya yang mas dan keluarga ini berikan untuk Zahra. Zahra bahagia mas sangat bahagia." Zahra mulai merebahkan tubuhnya di temani oleh Faras.


" Alhamdulillah sayang jika kamu bahagia, mas juga sangat bahagia Allah memberi mas lebih". Zahra menoleh.


" memiliki dua istri yang sama-sama mencintai mas, istri yang begitu perhatian dengan mas. terima kasih sayang, kamu melengkapi kebahagiaan ku dengan hadirnya Rafa dan akan bahagia lagi jika Najwa melahirkan, lengkap sudah kebahagiaan mas". Zahra tersenyum ia mulai mencari posisi ternyaman di pelukan suaminya.


" mas bagaimana diagnosa penyakit mba Najwa mas, akhir-akhir ini kalian belum memeriksakan nya ke dokter". Faras menghela nafas kasar.


" najwa belum mau mas bawa ke dokter untuk penyakitnya sayang, mungkin ia takut dokter menyuntikkan sesuatu yang berpengaruh pada janinnya. doakan saja ya, Najwa akan sembuh ia akan bisa merengkuh kebahagiaan bersama kita".


" iya mas, Zahra juga sangat berharap untuk itu". Zahra mulai terpejam, sekilas ia mengingat sahabat nya Laila yang semenjak sebulan terakhir ini tak menemuinya. Laila seperti tersenyum saat mata itu terpejam, kemudian Zahra membuka matanya kembali.


" mas apa Laila tak pernah ke sini, kemana anak itu ya mas. biasanya ia selalu membacakan buku untukku".


" saat kamu ada di kamar mandi ia pamit, katanya akan pergi sama orang tuanya keluar negeri, ah mas lupa menyampaikan nya padamu mas minta maaf".


" keluar negeri untuk apa, kenapa ia tak menunggu ku dulu mas". tanya Zahra penasaran.


" mungkin ia terburu-buru sayang pesawat nya akan take off, makanya ia hanya sebentar".


" kenapa ia tak menelepon ku ya, ia pasti kaget melihat ku sudah bisa melihat lagi". Zahra tak bisa menelepon nya karena pesan dokter untuk sebulan ini menghindari cahaya dari sinar yang ada di handphone dan sejenis layar elektronik lainnya.


" mungkin ia sibuk sayang atau di sana kesulitan menelepon mu, ia ada di negara orang lain". Zahra membenarkan apa yang di bilang suami.


" setelah sebulan Zahra berangkat kuliah lagi ya mas, Zahra ingin cepat selesai".


" setelah ada izin oleh dokter kamu boleh kuliah lagi, kenapa ingin cepat selesai. ingin bikin adik lagi untuk Rafa ya".


" aamiin insyaAlloh mas doakan saja, kalau sekarang Rafa masih kecil kasihan kalau udah punya adik nanti ia tak maksimal mendapatkan ASI.". Zahra kemudian tidur di pelukan Faras dengan tenang.

__ADS_1


____


__ADS_2