
Di bilik pesantren Najwa masih merenungi dirinya, Najwa duduk di dekat jendela sembari melihat anak-anak yang sedang menghafal. Dirinya di sini namun hati dan pikiran nya masih berada di rumahnya. ia pun sangat merindukan Rafa anak suaminya bersama Zahra.
" Mba di suruh makan sama Abah". pinta arsi anak dari Abah Hasan adik dari kiyai Umar. Najwa kali ini berada di pesantren milik adik dari baba nya, ia ingin tenang berada di sana.
" mba masih belum lapar dek, kalian duluan tidak apa-apa" ucap Najwa ia masih merasa tak enak makan.
" tapi mba Abah meminta arsi buat panggil mba Najwa". di pesantren milik kiyai Hasan tak pernah ada satupun orang yang menolak panggilan kiyai, untuk itu arsi tak enak jika panggilan abahnya tidak di indahkan oleh Najwa kakak sepupunya.
" tunggu sebentar kamu ke sana dulu nanti mba menyusul ya". arsi tersenyum kemudian ia pamit menyusul orang tua nya di meja makan. kiyai Hasan memiliki tiga anak arsi, Arya, Aira. arsi adalah anak sulung dari Abah Hasan ia juga belum menikah..
" mana mbak mu Najwa ndok". tanya umi Aisha istri dari Abah Hasan.
" katanya sebentar lagi umi mba Najwa menyusul". tak berselang ljma menit akhirnya Najwa datang dan ikut duduk bersama mereka.
" makan yang banyak ndok biar sehat". ucap umi Aisha.
" iya terima kasih umi". ucap Najwa namun ia mengambil hanya sedikit sekali, sebenarnya ia sangat malas sekali makan tapi karena pamannya yang meminta akhirnya ia mau agar tidak mengecewakan pamannya. pamannya yang sejak tadi melihat Najwa menghela nafas kasar.
" sedih boleh tapi jangan berlebihan, jangan kamu hukum dirimu Najwa apalagi janin dalam perutmu kasihan dia butuh nutrisi". Najwa langsung mendongak kan wajahnya ke arah pamannya, najwa tidak memberi tahu jika ia hamil. Kiyai Umar yang telah memberitahu nya.
" paman...".
__ADS_1
" paman tau kamu sedang hamil makanlah yang banyak, tak usah di pikirkan dari mana paman tau. Aku ini pamanmu semua tentang mu paman tau". ucap pamannya kemudian meminta istrinya untuk menambah makanan Najwa. Umi Aisha pun kemudian memberinya satu centong nasi ke piring Najwa.
" sudah umi terima kasih". Najwa kemudian ikut makan meski sulit untuk nya tapi ia berusaha memakan sampai habis.
Abah Hasan sengaja mengosongkan jadwalnya hari ini ia ingin mengobrol dengan sepupunya. Najwa sedang berada dalam kamar bersama arsi, arsi pun tak berani menanyakan perihal datngnya Najwa ke sini apakah sampai ia menginap.
" mba paling senang ada di sini karena udaranya masih alami segar". Najwa mencoba berbicara menghidupkan suasana, arsi itu anak penurut ia juga pendiam.
" iya mba Alhamdulillah".
" arsi kamu sudah siap untuk menikah dek, jika sudah ada jangan lama-lama cepat lah menikah." ucap Najwa
" doakan saja mba InsyaAlloh, Arsy masih ingin mengabdi di pondok Abah dulu". senyum Arsy terlintas.
" paman "
" nak Najwa, gimana kamu betah di sini". tanya Abah Hasan.
" Alhamdulillah paman Najwa betah, Najwa suka tempatnya sejuk masih banyak pepohonan. maaf paman jika Najwa merepotkan".
" tidak sama sekali, kamu keponakan paman kapanpun kamu di sini paman akan senang pintu ini selalu terbuka untuk mu nak. Tapi yang kamu lakukan untuk pergi dari rumah tanpa seizin suami itu tak baik nak. Begitulah kita di dunia di hadapkan dengan ujian, berat ataupun ringan. Allah menguji kita karena sayang dengan kita, ujian itu menguatkan bukan melemahkan. Serahkan semuanya kepada Allah, hilangkan rasa was-was atau khawatir dalam dirimu nak. Berikan kabar kepada suamimu nak jika kamu di sini, tak apa jika memang kamu ingin lama di sini. Kasihan suamimu pasti mencarimu, bicarakan masalah nya dengan baik-baik bukan lari seperti ini. Lari dari masalah tidak akan menyelesaikan masalahmu justru hatimu semakin terbebani. Bagaimana sampai sekarang apa kamu bisa merasa hatimu tenang,". tanya Abah, nasehat nya panjang lebar ia tau apa yang Najwa rasakan namun apa yang Najwa lakukan salah ia pergi tanpa pamit. Jika keluar rumah seorang istri harus dengan seizin suaminya. Najwa justru menangis dengan pertanyaan Abah, karena benar yang Abah katakan hatinya sangat tidak tenang ia terus memikirkan suaminya dan Rafa.
__ADS_1
" maafkan Najwa paman, Najwa begitu gelisah". buliran air mata jatuh bercucuran ia begitu merasa bersalah.
" Hidup kita ini memang ada di antara kapan dan kafan, Allah sudah menggariskan kapan itu terjadi siap ataupun tidak. Tugas kita di sini hanya untuk beribadah tidakkah kamu ingat dengan ayat Allah surat az zariyat ayat 56 ' Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada Ku '. Beginilah hidup nak banyak batu kerikil nya, apapun yang kita mau belum tentu itu baik untuk kita menurut Allah." terang Abah Hasan.
" apa yang harus Najwa lakukan paman, Najwa tidak sanggup jika harus kehilangan janin Najwa. bertahun-tahun Najwa menginginkan janin ini paman dan di saat Najwa ingin memilikinya tapi Allah menguji Najwa dengan penyakit Najwa ".
" itu adalah bukti kasih sayang Allah kepada mu nak, Ia sedang menguji mu bagaimana cintamu terhadap Nya lebih besar atau lebih kecil dengan cintamu terhadap makhluk Nya". Najwa tak henti mengeluarkan air mata nya, ia sadar selama beberapa hari hatinya di buat bimbang hingga ia pergi dari rumah tanpa seizin suami padahal ia tau bagaimana hukumnya.
" paman hiks...hiks..." mendengar najwa menangis umi Aisha masuk kedalam, Najwa pasti butuh bahu untuk bersandar.
" beritahu suamimu nak di mana dirimu sekarang ia pasti mencarimu mertua serta madumu, umi tau dari baba mu jika madumu itu sangat baik".
" iya umi, Zahra begitu baik dengan pengorbanan nya. mas Faras juga sangat baik demi Najwa mas Faras mau melakukan apa yang Najwa minta".
" Alhamdulillah begitu banyak orang-orang yang sangat menyayangi mu nak, tetaplah bersyukur itu akan menenangkan hatimu. jika memang Allah berkehendak janinmu akan bisa di lahirkan walaupun banyak rintangan yang di hadapi bayimu akan tetap lahir ke dunia ini. Semua hanyalah cobaan hidup dan manusia menghadapi ujiannya masing-masing sesuai porsi yang Allah tetapkan. Ujian itu sesuai dengan kadar kita nak, Allah yakin jika kita mampu." umi menambahkan sembari mengusap-usap kepala Najwa.
Umi Aisha dan Abah Hasan menasehati Najwa, meski ia keponakan tapi umi dan Abah menyayangi Najwa layaknya anak sendiri.
___
maaf baru bisa up 🙏
__ADS_1
ada hal yang penting di dunia nyata.