Rahim Untuk Suamiku

Rahim Untuk Suamiku
kenyataan


__ADS_3

Satu bulan sudah operasi Zahra kini Zahra sudah di perbolehkan untuk banyak melakukan aktivitas nya. Hari ini adalah hari pertama Zahra masuk kuliah ia di antar oleh Faras hingga ke kampus, teman-teman nya menyambut Zahra dengan bahagia. Tapi ia heran sahabat yang paling dekat dengannya tak menyambut nya ia menoleh ke sana kemari mencari dimana Laila.


" Mona dimana Laila apa dia belum pulang dari luar negeri, dari kemarin aku tak bisa menghubungi nya". Mona terdiam ia tak bisa mengatakan yang sebenarnya.


" anak itu sudah lama sekali tak menghubungi ku, apa dia tak ingin melihat aku sembuh.". Mona masih terdiam ia juga yang paling dekat dengan Laila sebelum Laila mengenal Zahra. Mona tau Laila sudah tiada dan ia juga tau bahwa mata yang ada di Zahra adalah mata Laila.


" Mona ia tak pernah menelepon mu". Mona menggeleng.


" apa ia ganti nomor, kenapa dia tak memberitahu ku dasar Laila awas ya jika bertemu".


" apa Laila ambil cuti begitu lama, sebenarnya siapa yang sakit sampai ia harus mengambil cuti. apa om Khoirul atau Tante Nita yang sakit. kamu tau Mona, selain aku kamu yang paling dekat dengan Laila".


" maaf aku tak tau Zahra, aku permisi ya sebentar lagi ada kelas." Mona memang dekat dengan Laila tapi mereka berbeda jurusan. Mona sengaja pergi untuk menghindari semua pertanyaan Laila.


Semua orang menatap Zahra saat ia masuk ke kelas, sebenarnya bukan tatapan untuk melihat Zahra tapi tatapan mereka mengarah kepada mata Zahra saat ini mata peninggalan dari seorang Laila. Zahra masuk dengam tersenyum bisa kembali lagi ke kampus, belajar karena ia memang suka belajar. Semua teman-temannya juga tau jika dalam mata Zahra ada Laila, sewaktu mereka bertakziah om Khoirul memberitahu mereka agar Zahra untuk sementara tak boleh tau.


Zahra mengikuti kuliah seperti biasa, rasanya ada yang kurang tanpa kehadiran Laila. setelah pulang ia berniat akan ke rumah Laila menanyakan nomor Laila yang bisa di hubungi, setidaknya ada pembantu ataupun security yang menunggu rumah Laila.


Zahra menunggu di pinggir jalan, hari jni ia akan di antar oleh Faras. Faras tak terlalu banyak pekerjaan, jika waktunya bisa ia akan selalu menemani salah satu Istrinya.


" gimana kuliahnya sayang".


" Alhamdulillah lancar mas hanya ada yang masih kurang, takn ada Laila aku kekurangan teman mengobrol. jadinya sepi biasanya ia cerewet ngajak Zahra untuk makan".


" kamu belum makan sayang". Zahra menggeleng.


" kita makan dulu ya, mas juga belum makan tadi buru-buru jemput kamu."


" di tempat biasa saja ya mas yang lebih hemat". Faras mengangguk ia melajukan mobilnya.

__ADS_1


Siang itu mereka makan ayam bakar, Zahra merayu Faras agar mau mengantar ke rumah Laila. ia sangat merindukan Laila sahabatnya, setidaknya dengar suaranya cukup baginya.


" lelah sayang kita istirahat pulang ya".


" mas, Zahra ingin ke rumah Laila sebentar saja".


" ada yg penting sayang".


" ingin minta nomor Laila mana yang aktif, setidaknya ada mbok jumi dan security yang menjaga rumah mereka. mereka pasti tau no yang bisa di hubungi.".


" oke tapi janji hanya sebentar ya, kamu harus banyak istirahat dulu". Zahra mengangguk, kemudian ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah Laila.


" assalamu'alaikum".


" wa'alaikumsalam". mbok jumi yang membuka pintunya.


Mbok jumi terkejut melihat Zahra, ia langsung menatap mata Zahra dimana mata itu masih merasakan kehadiran Laila. mbok jumi terdiam mematung.


" ini non Zahra nyonya". Nita tak bisa memendam ia langsung berlari memeluk Zahra dan menangis begitu juga dengan mbok jumi, mbok jumi juga menangis. Zahra dan Faras jadi bingung sebenarnya ada apa dengan mereka.


" Tante ada apa Tante tenang, Tante jangan menangis". untung saja pak Khoirul datang setelah security mengabari jika ada non Zahra datang ke rumahnya. pak Khoirul langsung menyerobot masuk memegang Istrinya.


" maafkan kami om". pak Khoirul langsung mempersilahkan mereka masuk.


" Mama tenang dulu ya, kasihan Zahra". akhirnya Nita terdiam.


" Maaf om, Tante kedatangan saya kesini tadinya ingin menanyakan nomor Laila yang sejak ia pergi tak bisa di hubungi. jadi Laila tidak bersama kalian om Tante.".


" Laila..." mama Nita tak sanggup berkata lagi.

__ADS_1


" Laila pergi ia tak bisa di hubungi lagi".


" maksud om apa". Khoirul lalu mengambil selembar kertas yang ditulis oleh Laila sebelum ia pergi. ia memberikan nya kepada Zahra dan Zahra langsung membuka dan membaca nya.


dear Zahra


Begitu kehidupanku sangat indah bisa bertemu dengan mu, kamu sahabat aku yang paling aku sayang. tak ada yang bisa menghalangi persahabatan kita meskipun maut.


Kamu tau aku sangat tak suka jika kamu tak mau aku ajak makan. Aku tak suka jika kamu melarang ku banyak makan sambal juga es. Hanya kamu sahabat yang sangat cerewet memperingatkan aku.


Zahra tak ada yang bisa menyalahkan takdir, karena semua takdir adalah yang terindah. aku menyukai takdirku bertemu denganmu, dari sini aku belajar sebuah pengorbanan yang tulus. Salam untuk Rafa ya, meskipun sekarang ragaku jauh tapi aku tetap masih bisa ikut mengawasi Rafa.


Setelah kamu baca surat ini kamu pasti sudah tak bisa bertemu aku lagi Zahra. aku menyayangimu sangat menyayangimu, jaga Rafa ya Zahra aku menyayanginya dialah alasan ku untuk tetap bisa ada dalam dirimu.


*aku pamit Zahra aku pergi, terima kasih semuanya atas hari-hari terindah yang pernah kita lalui. atas pengorbanan nyawamu telah menyelamatkan ku. jaga diriku yang ada dalam dirimu.


Salam sayangku selalu sahabat mu Laila Amalia*.


" apa ini maksudnya om". Laila bertanya dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.


Faras sudah mengetahui maksud dari surat yang telah Zahra baca karena Faras ikut membacanya. Faras memegangi Zahra agar ia tenang. Khoirul belum bisa menjawab suaranya tercekat yang bisa mereka lakukan hanyalah menangis. Kedua orang tua Laila menangis mengiringi air mata Zahra yang mulai tumpah. Faras langsung memeluk Zahra dengan erat, zahra sudah mengira jika ini yang terjadi. Tapi Zahra menepisnya ia ingin tau dari orang tua Laila sendiri.


" katakan pada zahra om maksud dari surat ini apa". teriak Zahra.


" tenang sayang tenang, kamu tenang ya dengarkan om dan Tante dulu". Faras mengusap punggung Zahra menenangkan.


" maafkan kami Zahra ini permintaan Laila agar memberitahu mu setelah kamu sembuh. Laila sudah pergi ke surga yang terindah ". Khoirul dan Nita tak bisa membendung lagi ia menangis.


" Laila...

__ADS_1


_____


__ADS_2