
Faras berjalan bersama paman beriringan menuju masjid pondok, di daerah santriwati juga terdapat Najwa akan ke masjid bersama arsi juga umi Aisya. Shalat Maghrib berjamaah kini Faras di minta Abah Hasan untuk mengimami, sebenarnya Faras menolak ia tak enak dengan Abah Hasan namun Abah Hasan memaksanya. Akhirnya Faras mengikuti perintah Abah Hasan, suara Faras memang sangat merdu membacakan surat An Nisa.
Tiga rakaat sudah mereka tunaikan, berdzikir juga shalat ba'diyah kemudian seperti biasa abah mengisi kultum sebentar di dengarkan oleh seluruh santri.
" Takdir yang kita jalani ini baik menurut Allah, jangan pernah kalian menyalahkan takdir. Manusia di beri ujian dengan porsinya masing-masing, karena kalian kuat untuk menghadap ujian kalian. Seperti saat kalian ujian semester, dengan ujian itu kalian akan naik kelas. Jika kalian tak mengikuti ujian guru pasti tak akan menaikkan anda ke kelas lebih tinggi. Dengan ujian hidup di dunia itu berarti Allah akan menaikkan derajat kalian, cukuplah bersabar itu kuncinya." Abah Hasan menutup ceramahnya kali ini,.memang hanya sebentar karena ada tamu di rumahnya.
Semuanya kembali me tempat masing-masing, makanan sudhs siap di meja makan. umi Aisha masak lumayan banyak.
" makan yang banyak nak Faras supaya lekas sehat". pinta umi Aisya.
" iya umi terima kasih jadi merepotkan gini".
" Tidak nak sekalipun kalian tidak pernah merepotkan umi, kesinilah jika sedang tak sibuk dan bawalah Rafa serta Zahra umi ingin melihat mereka,"
" pasti umi nanti Najwa akan ajak Zahra ke sini juga rafa mereka pasti akan senang sekali".
Faras duduk bersama Abah Hasan di teras rumah, Abah Hasan sengaja setelah ia mengisi kajian anak-anak. Abah Hasan memang menyempatkan waktu agar bisa mengobrol dengan suami keponakannya itu.
" Bagaimana Faras kamu sudah baikan nak". tanya Abah melihat Faras sudah cukup dari ia datang tadi.
" Alhamdulillah paman sudah baik".
" Alhamdulillah, bagaimana dengan rumah tangga kalian". tanya Abah Hasan.
" Semua mengerti dengan posisi masing-masing paman, hanya saja Faras masih sulit memberi nasehat untuk Najwa. Faras khawatir dengan Najwa".
" Yakin, percaya sama Allah nak minta petunjuk dariNya. insyaAlloh yang terjadi adalah yang terbaik. Seberapa kuat kita mempertahankan nya jika Allah menghendaki yang lain itu akan terjadi sesuai kehendak Nya. Seperti saat ini Allah memberimu dua istri yang saling pengertian, tidakkah kamu terus bersyukur". Faras mengangguk mengiyakan ucapan Abah Hasan. kedua istri nya tak ada yang pernah menuntut satu sama lain untuk adil.
" terima kasih paman, karena paman bisa menasehati Najwa hingga ia memberitahu keberadaan nya sekarang. Faras akan jaga Najwa dengan baik terus memperhatikan nya".
__ADS_1
" Tapi ingat harus adil antara kedua istrimu, kamu harus menghormati keduanya".
" insyaAlloh paman".
" paman yakin kalian bisa menjalani kehidupan rumah tangga kalian dengan baik. Allah telah memilihmu dan kamu pasti mampu". Faras kembali tersenyum. Obrolan mereka hingga larut, banyak sekali nasehat yang paman utarakan kepada Faras. Di sisi lain Najwa juga sedang mengobrol dengan arsi juga umi. umi Aisha juga memberi petuah kepada Najwa lagi, mengingatkan posisi sebagai istri. Apalagi pernikahan Faras dan Najwa adalh permintaan dari Najwa sendiri.
***
Karena semakin larut Faras masuk langsung ke dalam kamar, Najwa yang melihatnya kemudian pamit masuk kepada umi dan arsi.
" Sini sayang tidur besok kita pulang". ucap Faras membawa istrinya naik ke ranjang.
" besok, memang mas sudah sehat betul".
" insyaAlloh sudah, apa kamu masih ingin beberapa hari di sini. tak apa jika iya".
Pagi-pagi umi bangun membuat sarapan, Abah dan arsi sedang packing membawakan oleh-oleh untuk kiyai Umar juga keluarga Faras. Najwa menyusul ke dapur melihat umi sedang sibuk, Faras setelah shalat subuh di masjid ia melanjutkan tilawahnya.
" Umi masak apa".
" jamur najwa pamanmu kemarin bawa dari belakang pondok "
" ambil sendiri".
" iya, di sini umi bahkan hampir tidak pernah beli sayuran semua pamanmu tanamkan". Najwa tersenyum melihat m
keasrian desa ini begitu indah.
" Paman sedang apa"
__ADS_1
" ini kardus yang ini nanti kamu antar untuk baba mu Umar dan yang ini untuk keluarga nak Faras juga Zahra. hanya ini yang paman bisa berikan ya".
" MasyaAlloh paman banyak banget, terimakasih paman. lain kali Najwa akan ke sini lagi, akan ajak Rafa juga Zahra".
" Alhamdulillah kamu baik-baik sama suami dan madu mu, bicarakan semuanya dengan baik ya. ngga ada masalah yang tidak bisa terpecahkan". Najwa mengangguk mengiyakan.
Pagi itu mereka sarapan bersama, Faras dan Najwa sudah siap untuk pulang. Selama Najwa pergi pekerjaan di kantor banyak yang Faras tunda dan sekarang pasti sangat menumpuk. Faras dan Najwa pamit, sebelumnya Faras memberikan cek untuk paman Hasan bantuan untuk pondok pesantren nya.
" Paman Faras pamit, terima kasih banyak sudah menjaga Najwa beberapa hari. ini ada sedikit untuk paman juga pondok pesantren". Faras menyerahkan selembar kertas.
" sama-sama nak Faras, lain kali berkunjung lah ke sini bawa kedua istrimu. Dan ini paman banyak terima kasih semoga rezekimu makin berlimpah dan keluarga kalian Allah berkahi dengan kebahagiaan ". ucap paman.
Umi dan arsi memeluk Najwa dan Faras memeluk paman, mereka berpamitan meski bagi Najwa berat meninggalkan tempat itu namun itulah hidupnya bukan di tempat ini. hidup Najwa mengabdi kepada suaminya di tempat di mana suaminya tinggal. Di perjalanan Najwa menitikkan air mata, sedih meninggalkan tempat itu juga ia sedih mengingat kesalahan nya untuk pergi dari rumah. Berharap ia akan lebih bersabar menjalani ujian hidup nya yang Allah gariskan untuk nya.
" kenapa sayang, jangan menangis lagi mas ngga mau melihatmu menangis". Faras mengusap kepala Najwa sembari menyetir pelan.
" ngga apa-apa mas, di tempat itu Najwa mendapatkan kedamaian meski hati Najwa tidak begitu. Najwa sangat merasa bersalah dengan mas Faras dan semuanya. maafkan Najwa mas."
" mas selalu memaafkan mu tapi ingat jangan lakukan lagi, kita bicarakan semuanya baik-baik. selain itu sayang menjadi contoh untuk Zahra, Zahra banyak melihatmu kamu adalah gurunya saat itu dan sampai sekarang Zahra masih menganggap mu seorang guru".
" iya mas begitu baik nya Zahra mas dengan Najwa, Najwa saja yang sering egois. Dia sudah rela dengan hidupnya demi Najwa". Faras tersenyum kemudian mengusap kepala Zahra lagi.
" Bersyukur dengan semuanya sayang ujian ini tanda Allah sayang dengan kita. insyaAlloh kehidupan kita akan bahagia setelah ini".
" aaminn"...
Mobil sudah keluar dari desa lalu melewati jalanan besar menuju ke arah pulang.
_____
__ADS_1