
Najwa sangat senang hari itu di panti ia ikut mendongeng bersama Zahra, Najwa selalu memperhatikan Zahra anak yang begitu baik. Faras setelah ia bermain dengan jeko dan anak yang lainnya ia menemui Najwa, Zahra hanya menunduk saja ketika melihat suami dari ibu gurunya. Zahra pamit jika ia akan membantu di dapur panti karena satu jam lagi Zuhur dan akan makan siang setelahnya.
" Bagaimana jeko kamu senang". tanya Najwa ia melihat jeko masih memegang mainan yang di bawakan Faras tadi.
" sangat senang sekali umi, terima kasih banyak". jawab jeko dengan senyum polosnya.
" jeko suka tinggal di panti ini, kenapa tak mau ada yang mengadopsi jeko. mereka semua orang baik dan akan memberikan apa yang jeko mau". jelas Najwa jika jeko mau ia ingin membawa jeko pulang ke rumah mertuanya.
" jeko senang di sini temannya banyak, semua baik sama jeko umi. jeko tak ingin ikut mereka jeko kasihan nanti ibu panti tak ada teman," jawab polosnya jeko.
" jika yang mengadopsi jeko umi sama abi, mau". jeko pun menggeleng, ia tetap tidak mau.
" kenapa" tanya Najwa lagi, Faras hanya berdiam hanya melihat interaksi antara keduanya. Faras juga sebenarnya berharap jika jeko mau pulang bersamanya.
" jeko tetap mau di panti, jeko suka di sini ramai teman-teman jeko banyak". ucap jeko lagi.
" di sana nanti juga akan ada umi, Abi, nenek dan kakek. jeko bisa minta apa yang jeko mau, kita pun bisa jalan-jalan makan es krim". jeko kembali menggeleng. Faras mengusap punggung Najwa, memberi isyarat agar tak memaksa jeko lagi. Najwa terlihat sendu wajah, tak berhasil ia membujuk jeko anak yang di sukai suaminya.
" jangan di paksa sayang, jeko masih anak-anak" ucap Faras mengahadap ke Najwa.
" iya mas".
" jeko sayang umi dan Abi mau pamit ya, jeko harus belajar yang giat supaya pintar". Faras mengusap kepala jeko.
" iya Abi, umi, jeko ingin sukses seperti Abi supaya bisa bantu ibu panti dan anak-anak di sini". Faras dan Najwa tersenyum mendengar penuturan jeko, anak itu ternyata juga menyimpan kekaguman kepada Faras.
__ADS_1
Jeko pamit kepada Faras dan Najwa, ia di panggil temannya di ajak bermain. Setelah jeko mencium tangan Faras dan Najwa ia berlari menuju sumber suara yang memanggil nya.
Najwa merangkul istrinya yang masih memandangi jeko berlari. Faras sangat mengerti hati Najwa yang sangat kecewa, ia tak bisa membujuk jeko.
" jeko itu luar biasa, ia tidak peduli dengan rayuan tentang dirinya yang akan memiliki apa-apa jika ada yang mengadopsi. bahkan dengan kita yang sudah ia kenal sejak lama ia pun tidak mau, kebahagiaan nya adalah panti ini. jeko sudah merasa cukup dengan kasih sayang yang diberikan oleh ibu panti dan teman-teman nya". jelas Faras ia berharap najwa mengerti dan tidak membuat Najwa kecewa lagi.
" iya mas, pertama bertemu dengan nya Najwa pun langsung suka dengan jeko".
" keunikan dari dirinya itulah yang membuat mas menyayangi nya". Faras kembali tersenyum lalu menggenggam erat tangan Najwa mengajak nya pulang, umi dan abinya sudah menunggu di depan.
***
Faras dan Najwa beristirahat setelah mereka makan siang bersama orang tua nya diluar, Faras memeluk Najwa sangat erat ia menghujani puncuk kepala Najwa dengan ciuman. Faras tau jika Najwa masih kecewa, Faras tak ingin membuat istrinya sedih.
" sayang lusa mas akan berangkat ke Malaysia". ucap Faras kemudian, Najwa menyamankan dirinya di pelukan Faras.
" mas sebenarnya ingin mengajakmu sekalian kita jalan-jalan, semenjak menikah kita belum pernah pergi ke luar negeri untuk sekedar berlibur". dengan alasan murid-muridnya Najwa selalu menolak. ia lebih suka berlibur dalam negeri saja.
" maafkan Najwa mas, masih banyak yang harus Najwa kerjakan di madrasah". Faras mendengus halus, selalu itu alasan Najwa.
" ya sudah tak apa, tapi mas harus tetap pergi ada urusan pekerjaan". Faras mengeratkan pelukannya ia sudah terasa ngantuk sekali.
" iya mas pergilah itu penting dan menyangkut nasib banyak karyawan". Najwa selalu peduli dengan orang yang terkadang lupa akan dirinya sendiri, itulah yang membuat Faras jatuh cinta berkali-kali dengan istri nya.sedikitpun ia tak ingin menyakiti Najwa, walaupun sudah dua tahun lamanya mereka tak memiliki anak Faras tetap menyayangi Najwa dan tak ada niatan sama sekali untuk menikah lagi.
Terdengar dengkuran halus suaminya, Najwa mengusap wajah sang suami.
__ADS_1
" maaf mas hanya ini kesempatan untuk aku periksakan diriku ke dokter" Najwa berkata dengan suara sangat lirih agar tidak terdengar suaminya.
***
Zahra pulang dari panti sudah sore hari, ia mandi dan langsung ke warung ibunya untuk membantu. Tak ada lelah baginya setiap hari membantu ibunya berjualan, sekolah Najwa ia tak membayar karena ada beasiswa dari sekolah. selain mendapat keringanan orang yang kurang mampu ia juga mendapat prestasi sebagai beasiswa. Uang saku dari ibunya ia pakai untuk keperluan lain saat di sekolah, ia pun sangat jarang sekali untuk jajan.
" jika kamu lelah istirahat di rumah saja Zahra". ibunya tau jika ia dari panti dan pasti Zahra lelah mengayuh sepeda beberapa kilometer.
" tidak apa-apa umi, lelah Zahra akan hilang jika bisa bantu umi di sini". ia tersenyum agar ibunya percaya dan dengan sigap membantu ibunya menyiapkan dagangan nya.
" ya sudah tapi jika kamu sudah sangat merasa lelah pulanglah, jangan kamu forsir tenagaku". pinta seorang ibu .
" siap.umi, Zahra mengerti maksud umi. tenang pokoknya ya umi insyaallah Zahra bisa menakar diri Zahra". baru saja buka sudha ada banyak pelanggan yang menunggu.
" mau beli berapa Bu". tanya Zahra kepada salah satu pelanggan.
" 20.000 saja neng ". Zahra mengangguk ia cepat dalam bekerja. setelah selesai ia berikan pesanan pelanggan nya.
" Alhamdulillah sudah dapat pelaris baru saja buka belum penuh. emang rezeki itu tak akan kemana". Zahra terkekeh ia selalu tetap ceria.
Kemudian Zahra meneruskan membantu ibu membuka warung nya. Zahra sembari bernyanyi lagu nasyid kesukaannya, ia bahagia jika sudah mengunjungi panti. bersyukur meski kehidupan nya bisa di katakan serba kekurangan tapi ia masih punya orang tua. Zahra belajar sangat giat mudah-mudahan dengan beasiswa nya bisa mengantarkan nya menjadi seorang guru seperti cita-citanya. Zahra juga setelah lulus punya keinginan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi, Zahra anak yang pintar di pendidikan nya. selama ini prestasinya tak pernah menurun sama sekali.
____
bersambung
__ADS_1
boleh coret-coret komentar tentang novel ini.