Rahim Untuk Suamiku

Rahim Untuk Suamiku
maaf Faras


__ADS_3

Seperti biasa Faras akan menjemput Najwa di jam yang sama setelah shalat ashar. Najwa yang melihat suaminya langsung berpamitan dengan baba dan umma. Najwa langsung menyambut tangan suaminya seperti biasa, kali ini Faras tak mampir ia cukup lelah.


" mas kita mampir di ujung jalan ya beli singkong yang kemarin Abi beli, enak Najwa suka". Najwa hanya ingin melihat zahra juga mempertemukan lagi Faras dan zahra.


" baik permaisuri ku". Najwa terkekeh dengan ucapan suaminya.


Sampai di sana benar Najwa melihat Zahra sedang melayani pembeli. Najwa minta dua di bungkus dan satu akan di makan di sana bersama suaminya.


" Kenapa tak di bungkus semua sayang". tanya Faras sebenarnya ia ingin cepat pulang.


" kita makan di sini yang satu ya Najwa lapar mas, ". di situ memang di sediakan tempat duduk bagi yang ingin makan di sana namun tak banyak karena keterbatasan tempat.


" ini bu pesanan nya silahkan di nikmati". Najwa menarik tangan Zahra,


" duduk di sini dulu Zahra temani kami makan". ucap Najwa.


" tapi Bu..." Zahra menoleh ke arah ibunya meminta persetujuan takutnya ibunya sibuk melayani pembeli. ibu Najwa mengangguk mengiyakan. Faras yang masih menunduk tanpa melihat ke arah Zahra ia menikmati makanan kesukaannya itu.


" sampai jam berapa jualannya Zahra". tanya Najwa.


" jika sudah habis langsug pulang, tak pasti. paling malam sampai jam 10 saja kami tak buka hingga larut malam". terang Zahra ia juga hanya tersenyum saja, Faras masih dalam mode menunduk tak sedikit pun melirik ke arah Zahra.


" kenalin ini suami ibu, mas.." Faras menoleh sebentar dan menangkupkan tangannya di depan dada begitu juga dengan Zahra.


" gimana kesehatan Abi mu Zahra".


" Alhamdulillah Bu , jika tak kelelahan Abi tak akan merasakan sakit. hanya saja kadang Abi itu ngeyel ingin kerja terus padahal tak mampu". kekeh zahra.


" sebentar lagi kamu lulus kamu bisa membantu keluarga mu, mau bekerja di mana Zahra". Najwa hanya berbasa-basi.


" di mana aja Bu asal halal ".

__ADS_1


" kamu bisa kuliah jika kamu mau, bekerja sama ibu". ucap Najwa menoleh ke arah suaminya, namun Faras hanya tersenyum.


" tidak bu, ibu sudah banyak membantu saya dan saya tak akan merepotkan ibu lagi. maafkan saya dan keluarga saya ya Bu". ucap Zahra.


" ngga Zahra sebagai manusia memang kita harus saling menolong, kamu pun akan melakukan jika berada di posisi ibu". najwa menghendus nafas begitulah suaminya tak pernah memandang lawan jenis. Zahra itu cantik senyumnya manis siapapun yang melihat nya pasti akan melihatnya lebih dalam tapi tidak dengan Faras. Hanya Najwa yang menurut nya adalah segalanya. Tanpa sadar Faras yang menghabiskan singkongnya Najwa hanya makan beberapa potong saja.


" mas laper atau doyan". Faras mengarah ke arah piring itu iya habis...


" astaghfirullah maaf sayang mas habiskan". Faras garuk-garuk kepala malu ia Najwa dan Zahra terkekeh.


Mereka berpamitan pulang, umi nya Zahra memberikan satu bungkus sebagai bonus untuk Najwa. Najwa tak bisa menolak nya, takut justru mereka tersinggung.


" mas laper atau doyan ". goda Najwa di dalam mobil.


" doyan lah sayang kamu kan tau kesukaan mas". Najwa terkekeh di ikuti Faras.


" singkong nya enak empuk sesuai dengan lidah mas, pantas saja Abi juga suka beli di sini. itukan wanita yang pernah antar ke rumah pesanan Abi kan." tanya Faras.


" mas rupanya masih ingat, cantik yah mas" tanya Najwa.


" tapi Zahra ini beda mas, ia menyeimbangkan antara pendidikan dan agamanya. hafalannya sudah sangat banyak dalam pelajaran dia pun pintar, sebentar lagi ia lulus tapi sayang ia tak bisa melanjutkan kuliah karena harus bekerja membantu ibunya. adiknya akan melanjutkan ke SLTA mau tak mau Zahra sebagai anak tertua harus ikut mencari nafkah karena ayahnya cacat".


" cacat kenapa." tanya Faras bukan Zahra yang menjadi pusat perhatiannya, namun ayah Zahra. Faras mempunyai sifat dermawan ia tak suka melihat orang kesusahan.


" dulu ayahnya kecelakaan dan jalannya sudah tak normal lagi sekarang yang menjadi tulang punggung nya adalah ibunya. Zahra membantu ibunya" . ucap Najwa.


' selalu tak pernah merespon jika membicarakan wanita' batin Najwa.


" semua orang punya ujian nya masing-masing sayang, dan itu salah satu ujian keluarga Zahra".


" iya juga sih mas dan ujian kita adalah belum memiliki anak. uang mas banyak bisa membeli apapun"

__ADS_1


" bersyukur lah atas setiap keadaan sayang ujian itu bukan untuk di rutuki tapi agar kita sabar. Sampai mana tingkat kesabaran kita jika di uji". terang Faras membuat Najwa mengingat penyakit nya.


" mas nikah lagi ya biar kita punya anak". Faras langsung menginjak remnya membuat mobil berhenti, untung saja kendaraan di belakang jaraknya masih jauh.


" sayang ku mohon jangan bicarakan itu lagi". Faras menatap tajam Najwa.


" Najwa ingin punya anak mas meskipun bukan dari rahim Najwa tapi darah daging mas Faras".


" kita bisa mengadopsi anak besok kita cari ke panti". ucap Faras.


" Najwa tak mau mas, Najwa mau mas menikah lagi ku mohon mas".


" tidak Najwa, kita akan terus bersama tak ada pernikahan lagi". Faras mengeras rahangnya merasa marah.


" tapi mas umur kita semakin hari semakin tua , tak menutup kemungkinan jika Najwa tak bisa hamil dan mas normal kan".


deg


Faras mengingat hasil medisnya yang tersimpan di tas kerjanya apa mungkin Najwa tau.


" tak usah bingung mas, aku tau hasil medis mas. maaf Najwa tak sengaja membacanya kertas itu terjatuh dari tas mas saat Najwa membersihkan meja". Faras menunduk ia tau kesalahan nya tak jujur soal itu dengan Najwa.


" maaf sayang ". Faras menoleh ke arah Najwa ia melihat wajah Najwa yang sendu, Faras tak pernah menyimpan kebohongan kepada Najwa kecuali untuk satu ini hanya tak ingin istrinya terluka.


" Kenapa mas saat itu tak mengajak Najwa untuk ke dokter mas, apa karena memang Najwa tak bisa memberikan anak untuk mas ".


" sayang bukan begitu maaf mas benar-benar minta maaf. saat itu mas hanya ingin mengetahui kesuburan mas dan mas tak ingin memeriksa dirimu, apapun yang terjadi pada dirimu mas tak akan pernah meninggalkan mu. aku mencintaimu Najwa.". Faras tanpa sengaja mengeluarkan air matanya rasanya sakit di dalam hatinya ketika melihat Najwa kecewa.


" tapi mas sudah berbohong sama Najwa".


" ya sudah kalau begitu besok kita periksakan dirimu biar kita tau apa yang bisa kita tempuh, kalau pun tidak yang penting kita sudah ikhtiar. jangan paksa aku untuk menikah lagi sayang tak pernah sama sekali di benakku. kamu adalah istri ku satu-satunya Sampai kapanpun". Najwa menangis karena tak ingin berlanjut Faras melajukan mobilnya pulang.

__ADS_1


____


bersambung


__ADS_2