
Matahari mulai nampak bersinar terang, ia masuk ke celah jendela rumah sakit. Faras tak membiarkan sinar itu masuk takut jika membuat Najwa silau akan sinarnya. Faras yang sudah bangun sejak tadi ia merapikan kamar rawat inap yang saat itu di tempati oleh Najwa istrinya, cinta pertama Faras yang selalu utama dalam hatinya. Faras menyelimuti kembali Najwa, di lihatnya selimut sudah melorot hingga ke bawah. Terdengar pergerakan dari ranjang itu, Najwa terbangun. Ia tersennyum melihat suaminya sudah duduk di dekatnya sembari merapikan ranjang.
" sudah bangun sayang". ucap Faras melihat Najwa tersenyum.
" iya mas". senyuman Najwa menyambut paginya seolah ia sudah lupa jika ia sedang sakit.
" Mau gosok gigi, biar ku ambilkan airnya". ucap Faras
" biar Najwa ke kamar mandi sendiri mas".
" jangan sayang biar mas ambilkan saja jahitanmu masih akan terasa sakit". Faras melarang Najwa ia tak tega melihat Najwa harus bangun.
" tidak apa-apa mas, Najwa juga ingin latihan untuk berdiri".
" mas melarang mu, jika mau latihan nanti saja". Najwa selalu menuruti apa yang Faras katakan, akhirnya ia berhenti menunggu Faras mengambilkan air, sikat gigi juga pasta gigi.
Najwa tersenyum melihat sang mentari yang
sangat cerah. Semangat nya mulai bangkit apalagi mengingat si kecil fathan. Fathan belum boleh di keluarkan karena berat badan yang belum stabil. Faaras keluar dari kamar mandi membawa air untuk Najwa gosok gigi.
" pelan-pelan sayang". Najwa mengangguk.
" kenapa tadi tak bangunkan Najwa pagi mas, ini sudah cukup siang malu sama mentari".
" tak apa biarkan mentari yang membangunkan mu sayang tak setiap hari juga kan".
" mas, zahra kenapa belum datang. Fathan pasti akan menangis ia lapar". Najwa khawatir dengan bayinya karena asi Najwa tak kunjung keluar juga.
" sabar sayang sebentar lagi pasti datang". belum lama Faras berkata Zahra pun datang membawa sarapan untuk Faras.
" assalamu'alaikum". suara lembut Zahra ia tersenyum terlihat sangat bahagia.
" wa'alaikumsalam". Zahra mencium tangan suaminya lalu Najwa.
" mas sarapan dulu atau nanti. mba sudah sarapan". tanya Zahra sembari ia meletakkan bekal yang di bawanya di atas lemari kecil yang ada di ruangan itu.
__ADS_1
" nanti saja mas sarapannya setelah Najwa sarapan sebentar lagi juga datang sarapan dari rumah sakit". petugas membawakan sarapan untuk Najwa.
Zahra menyiapkan dulu sarapan untuk Faras, Najwa yang melihatnya tersenyum ia merasa haru Zahra benar-benar bisa menjadi madu yang baik untuk nya.
" mas sarapan dulu, Zahra suapi mba Najwa makan bersama"
" kamu sudah makan sayang" tanya Faras, panggilan sayang yang Faras sematkan itu dulu atas permintaan Najwa karena Najwa ingin suaminya bisa berlaku adil terhadap Zahra.
" sudah kalau aku tak makan duluan bisa pingsan mas di sedot Rafa dan Fathan nanti " Zahra terkekeh diikuti Najwa dan Faras.
" trimakasih Zahra, trimkasih untuk semuanya mba titip Fathan padamu"
" kita besarkan bersama-sama mba anak-anak kita". Faras langsung mendekat mencium kepala kedua istrinya.
" terima kasih sayang kalian adalah kekuatan ku untuk tetap berdiri tegak".
" mas semuanya akan ada akhir mas di dunia tak lain kita semuanya hanya menunggu giliran saja".
" itu takdir nyata sayang, jangan pikirkan itu kita serahkan semuanya kepada Allah ya,"
mereka sarapan bersama, senyum terukir bahagia untuk ketiganya.
" semuanya cukup baik, tapi belum bisa pulang. besok jika sudah stabil baru bisa pulang".
" kenapa ASI ku belum keluar mba Zaskia" tanya Najwa ia melihat Zahra sedang menyusui Fathan.
" tunggu saja mungkin hari ini akan keluar, makanlah yang banyak".
" Fathan sudah sangat pandai sekali menyusu". Faras melihat anaknya yang tak henti menyusu pada Zahra.
" gimana coba jika Zahra tidak makan tadi sudah pingsan jadinya disedot oleh dua jagoan yang luar biasa ini, mereka sangat pintar sekali." Zahra mengusap kepala Fathan.
" MasyaAlloh aku juga sudah tak sabar untuk menyusui nya Fathan juga Rafa" . semuanya terkekeh mendengar Najwa.
" mas tidak ke kantor dan kamu Zahra tidak ke kampus".
__ADS_1
" tidak sayang kami akan menemanimu".
" Najwa rindu Rafa mas, biasanya setiap pagi ia sudah berlari mencari Najwa".
" kamu ingin melihatnya hmmm..." Najwa mengangguk kemudian Faras mengambil handphone untuk video call dengan Rafa lewat handphone nenek Rafa.
" assalamu'alaikum ada apa Faras." umi langsung bertanya ia khawatir dengan menantunya Zahra mengingat kemarin saat melahirkan Najwa mengkhawatirkan kondisinya.
" wa'alaikumsalam mana Rafa umi, Najwa merindukan nya". umi tersenyum ia kemudian berjalan ke depan mencari Rafa yang sedang bermain dengan suster. Rafa berlari bermain gelembung air di taman depan.
" Rafa sayang sini, Abi menelepon". Rafa langsung berlari mendekati neneknya, meski larinya masih seperti robot namun Rafa sudah pandai untuk berjalan.
" Abi..." Rafa hanya bisa mengucapkan satu dua patah kata namun suara itu sangat di rindukan orang tuanya.
" halo jagoan Abi yang hebat, sudah makan sayang". Rafa mengangguk lalu ia tersenyum lebar ketika layarnya di dekatkan kepada umi Najwa.
" umi..." senyum terukir lebar dari wajah Rafa, begitupun Najwa ia sangat merindukan Rafa.
" sayang umi kangen sekali, ini adek Fathan adek Rafa sudah keluar besok kita akan pulang. Rafa anak hebat tak boleh merepotkan suster dan nenek ya." Rafa hanya menggeleng kan kepalanya tanda ia mengerti ucapan Najwa uminya. Zahra yang sudah selesai menyusui Fathan ia dekatkan di layar handphone nya. terlihat bayi mungil sosok Fathan, Rafa langsung girang ia senang melihat Rafa.
" kakak rafa perkenalkan ini adik fathan, adik juga sudah tak sabar untuk bermain dengan kakak". Rafa tersenyum lebar di usap-usap nya layar handphone itu tanda ia ingin menyentuh adiknya.
Terdengar suara anak berlari masuk ke ruangan Najwa. siapa laki kalau bukan laki-laki absurd Zayn anak dokter Zaskia.
" Zayn pelan-pelan nak nanti adiknya terbangun". teriak Zaskia, semuanya tertawa. Zayn langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
" Yee aku punya dua adik, nanti bisa banyak teman bermain". ucap Zayn mendekati Fathan ia mengusap pipinya, senyum lebar terukir merasakan halusnya pipi Fathan...
Faras kemudian mengakhiri teleponnya dengan Rafa Karana juga sudah terlalu lama. ada Zayn yang pasti akan membuat nya sibuk menjawab setiap pertanyaan Zayn. Zaskia meninggalkan Zayn di ruangan Najwa, ia harus visit pasien pagi hari. Zayn tak henti-hentinya menatap Fathan ia nampak senang.
" aku akan minta mama untuk bikinkan adik buat Zayn, supaya ada yang menemani Zayn. pasti mama bisa, mamakan dokter hebat". ucap Zayn.
" mintalah nanti sama mamamu pasti akan di buatkan" ucap faras. Zayn tersenyum lebar ia senang.
" mas ..." Najwa menyenggol Faras membuat semua terkekeh..
__ADS_1
___