
Enam bulan kemudian
Rumah tangga Faras, Najwa dan Zahra berjalan seperti biasa tak punya masalah sedikit antara mereka. Faras tetap berusaha untuk adil dengan kedua istrinya. kini kandungan Najwa berumur tujuh bulan 7, sudah ada pergerakan dalam perutnya membuat Najwa bahagia juga Faras sang suami. Faras sudah ikhlas dengan segala yang ia jalani kali ini dan akhir-akhir ini menurutnya Najwa tidak pernah mengeluh sekalipun. Padahal tidak di ketahui oleh Faras, Najwa merasakan sakitnya yang teramat. demi buah hatinya Najwa menahan rasa sakit itu yang ia alami setiap harinya.
" Ada kelas hari ini Zahra ". tanya Faras di sela sarapannya.
" iya mas pagi ini Zahra ada dua mata kuliah".
" berangkat bareng kalau begitu". Zahra mengangguk.
Najwa tersenyum merasakan pergerakan dalam perutnya. Hal itu dilihat oleh Zahra, Zahra sudah menyelesaikan makannya lalu Zahra mendekati Najwa ia mengusap perut Najwa.
" jadi anak Soleh sayang bergerak nya jangan bikin umi kesakitan ya." Najwa tersenyum semua melihat ke arah Najwa juga Zahra.
" tidak umi Zahra aku pintar, aku hanya ingin ikut sarapan bersama kalian". ucap Najwa menirukan suara anak kecil.
Faras yang duduk di sampingnya ikut mengusap perut najwa, ketika Faras meletakkan tangannya bayi itu bergerak kuat membuat Najwa menjerit.
" aw..."
" mba ..." Zahra panik, Faras langsung mengangkat tangannya ia kaget.
" tidak apa-apa ia ingin menyambut Abi dan umi Zahra". di letakkan nya oleh najwa tangan Zahra juga Faras .
" jaga Abi dan umi Zahra ya sayang, mereka adalah orang tuamu. kalian harus janji sama Najwa kalian akan hidup bahagia membesarkan anak-anak kita". ucap Najwa di sela obrolan yang tadinya bahagia kini sedih.
" kita akan membesarkan anak kita bersama-sama mba, kita bertiga". ucap Zahra, Najwa tersenyum dan mengangguk.
" Iya sayang kita besarkan anak kita bersama-sama". ucap Faras kemudian.
Mereka mengakhiri obrolan ini karena sudah siang, Faras akan segera ke kantor dan zahra ke kampus.
__ADS_1
Di perjalanan Faras hanya diam saja, ucapan Najwa masih terngiang-ngiang di benaknya. apakah pertanda jika Najwa benar-benar akan pergi. Faras menepis pikiran itu, ia mengingat jika semuanya di dunia ini adalah titipan juga pemilik nya akan mengambilnya kita harus ikhlas untuk melepaskan nya.
" mas kenapa". Zahra tau jika Faras seperti nya sedang tidak baik-baik saja.
" tidak apa-apa sayang mas sedang memikirkan pekerjaan". Zahra mengusap lengan Faras ia menenangkan suaminya. ia tau jika Faras sedang memikirkan Najwa.
" mas di dunia nanti semuanya akan kembali, entah kita akan pulang disaat sedang bahagia atau bersedih. Kita tidak tahu siapa yang akan pulang lebih dulu, tak harus orang yang sakit akan pergi lebih dulu . bahkan orang yang masih sehatz segar bisa saja Allah panggil karena ia menyayangi makhluknya itu".
" iya sayang mas juga memikirkan hal itu. mas akan ikhlas dengan semua yang terjadi dalam hidup kita." Faras mengusap kepala Zahra.
Akhirnya mobil sampai di depan kampus Zahra pamit ia Salim, Faras kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang hingga ke kantor.
Faras fokus dengan pekerjaan nya namun ia tak bisa, Faras sejak tadi merasa gelisah ia tak tau kenapa ia gelisah. Faras sudah menelepon Najwa di rumah menanyakan Najwa juga Rafa, semuanya baik-baik saja. akhirnya Faras mengambil air wudhu ia shalat dua rakaat kemudian berdoa.kemudian membuka kitab sucinya di baca nya dengan Tartil.
Zahra mengikuti kuliahnya dengan baik, Faras sudah mengirim kan pesan jika akan pulang di minta menghubungi Faras terlebih dahulu karena ia juga akan pulang kepalanya terasa pusing untuk nya.
" Zahra bagaimana kabar Rafa kamu tak pernah membawanya keluar rumah, aku ingin melihatnya". tanya Laila sahabat Zahra di kampus itu, Laila salah satu teman yang sangat dekat dengan Laila.
" pasti Rafa terlihat lucu sekali, aku gemas rasananya ingin aku cubit, berapa berat badannya sekarang".
" 10 kg Laila ia sangat banyak minum asi ku, aku sampai kewalahan". Zahra terkekeh.
" kamu sekarang sedikit kelihatan kurus Zahra, makanlah yang banyak untuk Rafa. jangan takut gendut Zahra demi Rafa mu itu harta berharga kalian".
" aku sudah makan sangat banyak Laila, Rafa laki-laki ia kuat sekali minum asinya".
" aku tak sabar melihatnya Zahra, aku akan ke rumahmu".
" bareng denganku saja mas Faras akan menjemput ku". kbali zahra membuka bukunya.
" aku malu jika harus bersama mu, lebih baik kamu pulang bersama ku naik taksi saja".
__ADS_1
" maaf Laila aku tak bisa menolak suamiku". Zahra memasang wajah sendu.
" sepertinya sekarang kamu sangat mencintai suamimu Zahra".
" bagaimanapun juga dia suamiku Laila, meski aku adalah istri kedua baginya tapi mas faras memperlakukan ku dengan sangat baik Laila. aku tidak menempatkan cinta yang karena dia suamiku seharusnya itu memang yang aku lakukan mencintai yang halal". jelas zahra, benar yang Zahra katakan jika ia harus menempatkan cintanya dengan sangat benar.
" lalu bagaimana mba Najwa dengan kehamilannya". Laila sangat kepo sekali dengan kehidupan sahabat nya itu. Menjadi istri kedua tinggal satu atap dengan madunya dan kehidupan mereka begitu sangat baik.
" kehamilan mba Najwa sudah sangat besar menginjak delapan bulan sebentar lagi kemarin kami sudah mengadakan syukuran".
" tak menyangka ya jika mba Najwa bisa hamil juga, lalu bagaimana dengan penyakitnya". tanya Laila makin penasaran sudah lama ia tak kepo dengan keluarga sahabat nya itu.
" Alhamdulillah kebesaran Allah, akhir-akhir ini penyakit mba Najwa jarang sekali kambuh".
" masuk yuk sebentar lagi dosen kita masuk".
Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam kelas. Zahra sudah tak peduli dengan segala berita miring yang tertuju padanya. Karena kenyataannya Zahra bukanlah pelakor perebut suami orang, tapi Najwa yang memintanya menikah dengan suaminya dan kehidupan mereka sangat baik-baik saja.
Faras pamit kepada sekretaris nya jika ia akan pulang cepat, kepalanya sedikit berdenyut.
" Akbar aku pulang dulu ya".
" siap bos". Faras berjalan keluar dari kantor.
Faras sudah sampai di depan kampus Zahra, ia tidak masuk karena banyak sekali mahasiswa saat itu Faras menunggu Zahra di depan. Faras sudah mengirimkan Zahra pesan jika ia sudah sampai.
Zahra jalan beriringan dengan Laila, hari itu Laila akan ikut Zahra ke rumahnya. Laila tak bawa mobil kebetulan mobilnya masuk ke bengkel.
" aghhrrr....brak..."
" Zahra....
__ADS_1
____