
Tegang semua nya tanpa terkecuali, bayi pun belum di keluarkan dalam ruang operasi. Di dalam semua dokter berkeringat mencoba mengembalikan kesadaran Najwa kembali, karena setelah operasi di larang untuk tidur. Ketiga dokter berusaha menolong Najwa agar selamat.
" tekan lagi dok". dokter Bilal mengangguk ia menghentakkan kejut alat nya memompa jantung.
" sekali lagi dok". semua lega akhirnya detak jantung Najwa kembali berdetak.
" MasyaAlloh Allah masih menginginkan kehidupan untuknya". ucap dokter Arif.
" Najwa begitu kuat ia bisa bertahan sampai detik ini". ucap Zaskia sembari mengusap keringat nya.
" tak lain Allah yang mengizinkannya". Bilal meletakkan alat kejut jantungnya. ia lega kakak sepupu dari istrinya selamat.
" bawa bayi keluar agar segera di adzani, setelah saya melakukan pemeriksaan pasien akan di pindahkan". ucap Zaskia ia melihat ke arah bayi yang sudah di lilit kain diberi topi biar tak kedinginan dalam rusngan AC.
Suster menggendong bayi mungil semua melihat bayi yang sudah tak menangis lagi.
" mas anak kita sudah keluar ayo mas adzani mas harus kuat." ucap Zahra melerai pelukan Faras. Zahra meraih bayi yang di bawa suster di gendong olehnya di dekatkan ke Faras suaminya. Dengan tubuh gemetar Faras mengadzani anak laki-laki nya bersama Najwa, tak kuat menahan air mata di kalimat adzan yang terakhir air mata Faras luluh tak tertahankan lagi. Di kecupnya pelan pipi halus bayi mungil itu. Semua yang melihat pun ikut menangis, penantian seorang Najwa yang sangat panjang berbuah manis meskipun nyawa yang ia taruhkan.
" bagaimana keadaan istri saya dok". tanya Faras ia sudah tak tahan ingin dengar kabar istrinya.
" masih di tangani dokter pak". Bilal dan dokter Arif keluar, senyum terukir dari wajah keduanya. Faras belum bisa menyimpulkan arti senyuman para Dokter hebat itu.
" istri anda akan ssgera di pindahkan ke ruangan nya setelah stabil dan bayi anda biarkan suster yang mengurus nya karena berat badannya 2.2 kg tidak boleh banyak di luar".
" istri saya sehat dok".
" ya istri anda sangat hebat, hanya saja butuh perawatan insentif agar segera pulih". ucap dokter arif.
" Alhamdulillah ya Allah". ucap Faras ia kembali memeluk Zahra, saat ini kekuatan nya adalah Zahra. Zahra yang bisa menguatkannya untuk menerima kenyataan hidupnya. Najwa masih terbaring lemah di dalam namun keluarga belum bisa menjenguk nya. di perbolehkan setelah Najwa siuman.
__ADS_1
" tak ada yang bisa melawan kekuatan Allah nak meski dokter orang pintar sekalipun". ucap baba Umar mertuanya. Najwa di vonis hidupnya tak akan lebih dari dua tahun tapi kini dua tahun nya sudah terlewati. Najwa masih bisa menghirup nafas dengan tenang ia masih bisa mengeluarkan bayinya dengan sehat dan Najwa masih bisa ikut merawat Rafa hingga kini.
" iya baba Allah sangat baik dengan kami". Faras duduk di kursi tunggu, Zahra masih setia menemaninya. sebelum ia melihat Najwa sadar ia masi belum tenang meskipun dokter mengatakan Najwa baik-baik saja.
" terima kasih sudah menjadi kekuatan ku saat ini".
" sudah menjadi kewajiban Zahra mas, aku akan selalu menemani mu saat suka ataupun dukamu. bahagia dan sedihmu." Faras tersenyum kemudian ia mengecup tangan Zahra yang sejak tadi memegangnya memberikan kekuatan untuk nya.
_
Najwa sudah sadarkan diri suster lalu memeriksanya, Zaskia datang setelah di panggil oleh suster. kemudian Zaskia memeriksa Najwa , Zaskia tersenyum mendapati Najwa yang sudah stabil. kini ia akan di pindahkan ke ruangan rawat inap.
" anakku..." suara Najwa tercekat mulutnya terasa kering, setelah beberapa jam ia tak kemasukan apapun. sebelum operasi memang di perintahkan untuk berpuasa terlebih dahulu dan di perbolehkan nanti setelah beberapa jam pasca operasi.
" ada di rawat oleh suster nanti akan di bawa ke sini". zakia membenarkan infus yang menancap di tangan Najwa.
Suster membawa anak Najwa di ikuti Faras dan Zahra di belakangnya. bayi mungil itu memejamkan matanya tertidur begitu pulas.
" mba ini anak mba Najwa".
" anak kita Zahra, ini anak kita".
" iya mba anak kita". Najwa menitikkan air mata ia meraba anaknya seperti tak percaya ia bisa melahirkan seorang bayi.
" mas ..."
" iya sayang anak kita". Faras mengusap air mata bahagia yang mengalir di wajah Najwa.
" Najwa titip anak kita ya mas, rawat lah dengan penuh kasih sayang. Zahra, mas Faras Najwa titip anak kita Fathan . Muhammad Fathan".
__ADS_1
" kita akan besarkan bersama-sama sayang, tak perlu kamu titipkan kita besarkan Rafa dan Fathan mas suka nama itu. kedua anak kita kita didik bersama-sama".
" iya mba, mba harus kuat kita bsarkan anak kita bersama-sama". Zahra memegang jemari Najwa menguatkan.
" percayalah sayang kamu pasti bisa akan sembuh, tak ada yang bisa mengalahkan kekuatan Allah. Bukti Fathan adalah kekuasaan Allah yang Allah tunjukkan kepada kita." najwa tersenyum ia mbenarkan ucapan suaminya. Fathan menangis sedangkan asi Najwa belum keluar.
" susui anak kita Zahra, berikan ASI untuknya." ucap Najwa karena ia belum bisa menyusuinya. Zahra melihat ke arah Faras juga dokter Zaskia. Faras mengangguk begitu juga dengan dokter Zaskia. Fathan dengan lahap meminum ASI nya. Setelah kenyang kini Fathan tertidur kembali. Karena Fathan belum boleh di luar terlalu lama, suster kembali membawanya ke ruangan khusus bayi.
" Suster pasien sudah sehat tolong pindahkan ke ruangan VVIP, ruangan sudah siap".
" baik dok". Najwa meminta Faras dan Zahra untuk keluar terlebih dahulu, Zaskia ingin memeriksa nya agar kondisi Najwa benar-benar stabil.
" makan yang banyak ya agar asimu cepat keluar dan jangan stres berpikir lah dengan tenang percayakan semuanya pada Allah". ucap Zaskia dokter sekaligus temannya.
" iya mba, insyaAlloh Najwa akan berusaha sekuat mungkin".
" seperti usaha mu mempertahankan janinmu, usahamu bertahan untuk kembali bersama keluarga mu. Kamu sangat hebat dan kuat Najwa".
" terima kasih mba".
" sama-sama Najwa, ingat pesan ku ya ". kemudian suster mendorong ranjang Najwa untuk di bawa ke ruangan VVIP di ikuti Faras dan Zahra serta keluarga yang lainnya. senyum kebahagiaan terukir dari semua keluarga melihat Najwa yang tampak baik-baik saja.
Zahra tak bisa ikut menunggu Najwa, karena Rafa di rumah ia juga masih minum asi tak bisa di tinggal terlalu lama.
" mba, mas Zahra pamit ya. Zahra tak bisa ikut menunggu mba".
" iya Zahra kasihan Rafa di rumah sendirian pasti dia kesepian". ..
" sebentar lagi rumah kita akan ramai mba dengan adanya Fathan". Zahra mencium tangan faras untuk pamit. Faras mencium keningnya, Faras ingin jika Zahra merasa tetap di perhatikan meski dirinya sedang menunggu Najwa. Usaha Faras yang ingin ia menjadi suami yang adil. kemudian Zahra mencium Najwa ia pamit untuk pulang.
__ADS_1
____