
Sebelum Zahra naik ke atas Zahra sudah menyiapkan makan malam, ia bergegas mandi badannya udah bau bumbu dapur semua. kini hatinya yang tadi sedih sudah mulai membaik dengan ia sibuk melakukan kegiatan, Zahra memang suka dengan memasak.
Umi dan Abi sudah menunggu di meja makan, entahlah hati umi masih belum membaik mengingat bagaimana kehidupan anaknya dengan dua istri nanti. umi masih banyak diam dan Abi selalu mengusap lengan umi agar umi tenang.
" umi tak ada tangisan lagi ya, kita berdoa semoga rumah tangga anak-anak baik-baik saja. umi jangan terlalu khawatir ingat kesehatan umi". nasehat Abi.
" tapi bi umi belum habis pikir dengan kehidupan rumah ini satu suami dua istri hiks..." umi menangis kembali.
" hussst jangan perlihatkan tangisan umi kasihan Faras". Abi mengusap air mata umi menyuruhnya untuk diam sebentar lagi mereka akan turun.
" Mana Zahra mas dia belum keluar kamar ya". ucap Najwa ia melihat ke arah pintu kamar Najwa yang berada di ujung.
" Mungkin masih siap-siap turun".
" kita samperin mas". kata Najwa.
Najwa dan Faras menghampiri kamar Najwa Najwa mengetuk pintunya mengajak Zahra untuk turun.
" Zahra ayo makan malam kita turun".
" iya mba, nanti Zahra menyusul". suara Zahra sudah tidak serak lagi.
" mba sama mas Faras duluan ya, kamu cepetan turun". teriak Najwa.
" iya mba sebentar" Najwa masih merapikan alat sholatnya dan menyimpan mushaf.
" mana nak Zahra" tanya Abi.
" sebentar lagi turun bi tadi sudah Najwa panggil katanya sebntar lagi".
Akhirnya Zahraa turun dengan berpakaian seperti biasa ala Zahra, gamis yang sedikit longgar dan Khimar isntan yang biasa ia pakai di rumah.
" makan yang banyak Zahra, jika kamu ingin makanan sesuatu tinggal bilang sama bibik saja. kami belum tau apa selera kamu". Najwa tersenyum.
__ADS_1
" Zahra suka semua makanan mba, ngga ada pantangan". Zahra terkekeh.
Najwa karena biasa melayani Faras di rumah ia mengambilkan nasi serta lauknya.
Zahra berdiri untuk melayani Abi dan umi, seketika senyum umi merekah menantu yang satunya juga perhatian. Hatinya mulai tidak resah lagi, Zahra terlihat lincah juga sudah mulai tersenyum.
" Rasanya beda makanannya ini lebih enak, nambah sayang sayurnya enak". ucap Faras melahap makanannya, Najwa menambahkan lagi. Bibik berjalan menaruh makanan penutup di meja makan.
" den Faras makannya lahap amat, enak ya den".
" masakan bibik selalu enak tapi hari ini lebih enak bik."
" itu yang masak bukan bibik den tapi non Zahra". seketika Faras langsung mendongak melihat ke arah Zahra semuanya juga meminta penjelasan ke arah Zahra.
" Kamu tadi tidak istirahat Zahra, kan sudah ada bibik".
" maaf mba, tadi Zahra ngga bisa tidur belum terbiasa tidur di jam segitu mba. Zahra cuma bantu bibik kok mba".
" bantu sampai selesai semua ini yang masak non Zahra, bibik cuma bantu kupas bawangnya aja".
" tapi kamu pintar masak Zahra, mas Faras suka banget masakan kamu". Faras diam saja tetap melahap makanannya.
" nak zahra jika lelah istirahat saja sudah ada bibik yang membantu di dapur"
" tidak apa-apa umi Zahra sudah terbiasa di rumah, kalau diam saja nanti Zahra bosan". Zahra tersenyum.
kemudian semuanya melahap makanan, memang sangat enak bahkan umi Abi dan Najwa merasakannya.
Berbincang di depan televisi itu menjadi kebiasaan mereka setelah makan malam sembari menemani Abi melihat berita. Zahra duduk lebih dekat dengan umi, Faras masih tetap menempel pada Najwa.
" Besok kamu daftar kuliah Zahra, mau di kampus mana". Zahra terangkat wajahnya ia juga melihat ke arah Faras, karena seorang istri tak akan bisa melakukan apapun kecuali seizin Faras.
" mas mengizinkan Zahra kan".tanya Najwa
__ADS_1
" iya besok kita antar Zahra untuk mendaftar kuliah".
" ngga perlu khawatir Zahra, di kampus tidak ada larangan mahasiswa bersuami ataupun mahasiswa yang sedang hamil". Najwa terkekeh.
" iya mba, terimakasih". dalam hati Zahra tennag, ia tak akan lagi bosan di rumah itu ada kegiatan lain lagi.
saatnya istirahat umi dan Abi masuk ke kamarnya, Najwa Faras dan Zahra juga naik ke atas. Faras bukannya belok ke kiri di kamar Zahra justru mengikuti Najwa.
" mas mau ke mana".
" ya tidur lah sayang" Najwa tersenyum.
" ini malam pengantin mas sama Zahra, mas seharusnya ke kamar Zahra". Faras garuk-garuk kepala ia masih belum terbiasa bersama Zahra. Najwa mendorong Faras agar berbalik ke kamar Zahra. Zahra masuk kamar di ikuti Faras dari belakang, Zahra kaget ia belum terbiasa ada laki-laki dekat dengan nya.
" maaf Zahra, Najwa memintaku ke sini".
" i iya mas". Zahraa gugup.
Zahra merapikan tempat tidur nya, Faras ke kamar mandi untuk bebersih dan berwudhu. Setelahnya Faras keluar melihat Zahra masih menepuk bantalnya.
" Zahra jangan khawatir aku tidak ingin meminta hak ku sekarang, kita mengenal lebih dekat dulu ya. Aku tau kamu masih gugup, jangan takut kita sama-sama belajar bantu aku untuk bersikap adil dengan kalian". Zahra mengangguk ia langsung masuk ke kamar mandi.
Seperti biasa Faras akan murajaah hafalannya dulu sebelum tidur. Zahra keluar dengan piyama panjang namun tebal yang ia bawa dari rumah masih mengenakan jilbabnya.
" Zahra sampai mana hafalanmu"
" Zahra baru hafal 15 juz mas".
" kita murajaah sebelum tidur ya" Zahra mengangguk lalu ia mengambil mushaf nya. Hati Zahra terenyuh ini impiannya mempunyai suami yang bisa ia ajak untuk murajaah bersama. Faras dan Zahra melakukan murajaah terlebih dahulu, masih banyak yang di benahi oleh Faras hafalannya Zahra. Zahra justru malah lebih senang ia mengulang-ulang hafalannya lagi. Setelah selesai mereka beristirahat Zahra masih lengkap dengan jilbab nya merebahkan tubuh ke ranjang. Faras tidak bisa tidur biasanya ia bersama Najwa tidur dalam keadaan saling memeluk. Di lihatnya Zahra yang terlelap lalu Faras keluar kamar, ia ke kamar Najwa di bukanya kamar Najwa naas terkunci Najwa sengaja menguncinya. Lalu Faras tidur di sofa , di antara kamar Faras dan Zahra ada pembatas ruangan terdapat tempat duduk sofa biasa mereka pakai untuk Najwa mengoreksi nilai anak-anak.
Faras tertidur di sofa tanpa Najwa ketahui juga Zahra, kedua istri Faras sudah terlelap ke alam mimpinya karena memang lelah acara tadi siang. Najwa bangun ia haus air di kamarnya habis, saat melewati ruangan itu Najwa melihat-lihat seperti ada orang yang tidur di sofa. Ruangan itu gelap karena Faras biasa tertidur dengan ruangan gelap, Najwa sedikit takut. Takut itu adalah maling, Najwa mengendap- endap menyalakan lampu di lihatnya sosok suaminya tidur meringkuk tanpa selimut juga bantal. Najwa melongok menggelengkan kepalanya
" mas Faras....
__ADS_1
_____
bersambung