
Najwa mengajar seperti biasa, murid-murid sangat menyukai Najwa mengajar ia jadikan muridnya sebagai teman. Ngobrol dengan santai bahkan sering banyak yang curhat tentang kepribadian mereka masing-masing, hingga Najwa tau sifat satu-satu anak didiknya. Ada satu anak didiknya yang sangat di kagumi oleh Najwa namanya Zahra, ia sangat serius mengenyam pendidikan nya meski ia bukanlah santri pesantren milik baba. Hafalannya sudah lumayan banyak ia pendiam dan mendapat beasiswa bisa berada di madrasah tersebut. Zahra termasuk pendiam di banding dengan teman-teman nya yang lain.
" Zahra kamu sendiri di sini ngga gabung dengan teman yang lain". tanya Najwa.
" tidak bu, Najwa sedang belajar nanti ada ulangan ustadz Zaki." jawab Zahra tersenyum.
" oh ya sudah ibu ke kantor dulu ya". sebelum beranjak Najwa melihat ke arah kaki Zahra, sepatu nya sudah lama kusam sudah tak berwarna lagi bahkan ada sedikit sobekan. Najwa tersenyum melihatnya kemudian ia beranjak pergi.
Seperti biasa Najwa mengajar hingga jam 12 siang. Bel berbunyi tanda pulang Najwa buru-buru ia keluar dan memanggil Zahra yang baru saja keluar dari kelas.
" Zahra.." panggil Najwa.
" iya Bu". Zahra berhenti dari langkah nya.
" bisa ikut ibu sebentar saja ke rumah kiyai".
" maaf ada apa ya Bu". Zahra bingung.
" ayo ikut sebentar saja," Zahra tak berani menolak akhirnya Zahra mengikuti Najwa ke rumah baba.
" Tunggu sebentar ya ibu masuk dulu". ucap Najwa ia berlalu masuk Najwa menunggu di teras depan. tempat yang sejuk ada banyak bunga dan pepohonan di tanam rindang sekali. sekitar 10 menit saja Najwa keluar membawa beberapa barang ada sepatu, tas, juga gamis yang udah tidak di pakai Najwa lagi dan masih bagus.
" Zahra ini punya ibu sudah tak terpakai lagi, kamu pakai ya jangan menolak sayang kalau tak di pakai ibu juga. nanti Zahra pakai ya."
" tapi Bu Zahra tak ada uang buat mengganti nya" Najwa tersenyum.
' polos sekali Zahra ini ' batin Najwa.
" kamu pakai saja gantinya kamu harus belajar dengan giat" ucap Najwa.
" ini terlalu banyak bu buat zahra". ucap Zahra sambil melihat-lihat dua pasang sepatu satu tas dan ada beberapa gamis.
" tak apa itu udah tak di pakai, biarkan itu jadi amal jariah ibu. maaf hanya bekas saja." ucap Najwa.
" MasyaAlloh Bu tapi ini masih bagus sekali, Zahra terimakasih banyak sama ibu. Zahra bisa mengganti tas dan sepatu Zahra ini".
Najwa tersenyum ia senang melihat zahra tersenyum senang. Zahra mencoba sepatunya ternyata pas juga gamis-gamisnya matanya berbinar sekali.
" Zahra pamit ya Bu ini sudah siang nanti Abah Zahra mencari, sekali lagi Zahra terimakasih. assalamu'alaikum".
" wa'alaikumsalam". jawab Najwa yang masih menatap Zahra pulang dengan sangat senang.
" siapa nak"
" tanya umma baru keluar dari dalam"
" murid Najwa ma, ambil sepatu Najwa yang sudah tidak terpakai oleh Najwa".
" ya memang sebaiknya begitu barang yang sudah tidak kamu pakai lebih baik kasihkan ke orang lain yang lebih membutuhkan". ucap umma.
__ADS_1
" umma sehat"
" Alhamdulillah sehat nak, kamu bagaimana di sana kerasan kan "
" iya umma, umi dan Abi sangat baik".
" ya umma tau mereka orang yang sangat baik, bersyukur lah beruntung kamu memperoleh suami dan mertua yang baik".
" kapan rencana pindah ke rumah baru nak". tanya umma sembari menyiapkan makan siang.
" mas belum bilang ke Abi dan umi, mungkin di tunda rasanya Najwa lihat mas Faras tak tega meninggalkan keduanya"
" Faras itu anak yang baik ia pasti punya perhitungan tentang orang tuanya, apalagi sekarang kalian kan baru saja pengantin baru".
" iya ma Najwa nurut saja mau tinggal di manapun Najwa tidak apa-apa".
" ya memang begitu seorang istri harus menurut dengan suaminya selama tidak melanggar syariat". Najwa tersenyum senang dengan nasihat umma.
***
Faras selalu sibuk dengan pekerjaan nya di kantor, di tinggal beberapa hari banyak sekali yang tertunda meski sebagian sudah di selesaikan oleh asisten nya. Sudah pukul satu siang ia menghubungi istrinya.
" assalamu'alaikum mas". salam Najwa di seberang telepon.
" wa'alaikumsalam sayang, sudah makan".
" ini mas baru mau makan, telepon dulu mas kangen" Najwa tertawa kecil.
" ya udah buruan mas makan, pasti sudah laper kan"
" iya kalau gitu kamu makan juga, tunggu di rumah baba "
" iya mas, assalamu'alaikum"
" wa'alaikumsalam sayang". Najwa tersenyum kecil meski mereka dekat setelah ijab kabul masih terlihat begitu romantis.
Setelah makan siang Najwa istirahat di kamarnya rasanya begitu lelah, semenjak menjadi pengantin baru tidurnya sangat kurang di waktu malam selalu ada ritual terus.
-
-
" nak Faras sudah pulang nak kapan umma baru tau".
" barusan saja umma". sambil Salim. tadi Faras mengucapkan salam tidak ada yang menyahut jadi Faras langsung masuk saja, masih agak siang jam 14.30 Faras sudah pulang.
" Najwa ada di mana umma".
" ada di kamarnya mungkin masih tidur". ucap umma.
__ADS_1
" Faras ke kamar dulu ya ma" umma mengangguk mempersilahkan Faras masuk ke kamar Najwa. pintu kamar tak di kunci oleh Najwa membuat Faras dengan mudah masuk.
Diliat nya Najwa yang tertidur pulas. Najwa menyampirkan rambut Najwa di belainya sang istri di ciumnya kening Faras kemudian merebahkan tubuhnya di samping Najwa. Najwa terbangun saat ia merasa ada tangan melingkar di pinggangnya, Najwa mengusap wajah suaminya yang di tumbuhi oleh bulu-bulu halus.
' tampan' batin Najwa ia tersenyum, di pandangnya terus tiada henti.
" memang suamimu ini tampan sayang". Najwa melotot ia tersipu malu.
" mas kok bangun"
" ssntuhanmu membuat ku tak tahan sayang, temani mas tidur lagi masih ngantuk tiap malam tenagaku terkuras habis" Najwa tertawa kecil, di tariknya Najwa dalam pelukan Faras.
Najwa bersiap untuk pulang ke rumah orang tua Faras, ia sudah mandi terlebih dahulu masih ada ganti di rumah itu. Najwa pun tadi mempersiapkan baju ganti untuk suaminya.
" assalamu'alaikum"
" wa'alaikumsalam". Najwa yang sudah siap keluar ia melihat zahra ada di depan.
" maaf Bu ini tadi umi suruh saya antarkan ke rumah pak kiyai, ibu juga titip pesan terimakasih untuk semua nya pada Bu Najwa " Najwa memberikan singkong goreng matang dan juga singkong yang masih mentah.
" MasyaAlloh Najwa tak perlu repot-repot juga, banyak sekali". ucap Najwa mengambil singkong yang di berikan Zahra. baba nya memang suka sekali dengan kolak singkong, Zahra membawakan yang mentah juga.
" ada yang matang juga Zahra, ya Allah ucapkan terimakasih ibu y pada umi mu, nanti ini ibu sampaikan pada pak kiyai. baba sedang tak ada di rumah umma ada di belakang".
" baik Bu Zahra permisi, assalamu'alaikum"
" wa'alaikumsalam"
" apa sayang"
" ada murid yang mengantar singkong, kesukaan baba di bikin kolak"
" yang ini apa"..
" ini singkong goreng yang matang"
" boleh mas minta". Najwa mengangguk dan memberikan karena itu makanan kesukaan Faras, Faras langsung memakannya membuat Najwa tertawa kecil
' CEO demennya singkong lulusan Istanbul ' Najwa terkekeh.
" kenapa sayang"
" tak apa mas habiskan saja"
" oh tentu.."
____________
bersambung
__ADS_1