Rahim Untuk Suamiku

Rahim Untuk Suamiku
menuju rumah faras


__ADS_3

Zahra pamit kepada kedua orang tuanya ia memeluk erat umi dan Abi serta kedua adiknya. Tangisan yang ada bukan kebahagiaan di hari itu, bahkan kini tiga keluarga tak ada yang berbahagia. Semua miris melihat Najwa, Faras dan Zahra.


" nak menurut lah sama suamimu, juga nak Najwa mereka adalah panutan mu sekarang di sana. Lakukan kewajibanmu dengan baik ". ucap umi mengusap kepala Zahra. Zahra tak bisa berkata-kata hanya tangisan saja yang meleleh.


" nak Najwa nak faras titip Zahra, didik lah ia dengan baik".


" insyaAlloh Abi ". kini panggilan kepada pak Zainal sudah berubah, Faras dan Najwa menyebutnya dengan panggilan abi.


Para besan juga pamit kini tiga keluarga menjadi satu bertambah lagi keluarga. Sopir sudah siap untuk mengantar pengantin ke rumah Faras. Faras duduk di depan Najwa dan Zahra duduk di kursi belakang. Najwa mengusap air mata Zahra yang sejak tadi masih terisak.


" Zahra sudah jangan menangis lagi kamu ngga sendirian ada mas Faras juga mba, di sana ada umi dan Abi mertua kita. Orang tua yang akan menggantikan orang tua di rumah yang lama, jangan nangis lagi ya. ini adalah hari kebahagiaan jangan di hujani oleh tangisan". Zahra mengangguk ia mencoba menarik nafas dan menghembuskan perlahan. Zahra berhenti menangis namun tatapannya kosong melihat ke arah luar mobil, Najwa selalu menggemgam tangan Zahra.


Mobil sudah sampai di rumah semuanya masuk di sambut oleh bibik dan para pekerja lainnya. Mereka di perkenalkan dengan nyonya barunya. Najwa mengantar Zahra dan Faras ke kamar pengantin kemudian Najwa pergi.


" ini kamar kalian, itu pakaian mu ada di situ semua zahra". Zahra masuk ia duduk di ranjang dengan taburan bunga mawar mewah. Faras mendekati Zahra dan duduk di sampingnya.


" maafkan aku Zahra, bergantilah pakaian katakan apa yang tidak kamu sukai. aku keluar dulu." tanpa mendengar jawaban Zahra, Faras lalu keluar kamar menuju kamar Najwa. Najwa sedang beebrsih di kamar mandi ia tidak tau jika suaminya ikut masuk ke kamarnya.


Zahra menelusuri kamarnya yang sudah di persiapkan oleh Najwa, kamar yang besar kasur empuk dan lengkap perlengkapan nya bahkan Najwa membelikan baju-baju baru untuk Zahra. Lemari pakaian Zahra penuh ada baju Faras di samping nya, alat make up juga penuh.


" MasyaAlloh mba Najwa benar-benar baik semua ia persembahkan untuk ku, padahal aku adalah madunya." kini Zahra tersenyum kemudian ia mengambil pakaian gamis dan Khimar nya masuk ke dalam kamar mandi.


Najwa terkejut melihat jika Faras berada di kamarnya, Faras sudah melepas pakaian pengantin nya tersisa hanya celana boxer saja berbaring di ranjang.


" astaghfirullah mas kenapa masuk kamar ini, seharusnya ada di kamar Zahra mas."


" biarkan aku istirahat di kamar ini dulu sayang, Zahra masih sangat kaku ada di kamar itu bersamaku". Najwa hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


" tapi mas harus tetap bersama Zahra ini malam pengantin kalian mas". ucap Najwa ia berganti pakaian.


" iya mas tau, Zahra sedang bebersih jangan terlalu memaksa sayang. Nanti Zahra takut sama kita, ingat kita tidak boleh menyakiti Zahra". Najwa diam benar apa yang di katakan Faras jika tidak boleh terlalu memaksa Zahra nanti ia malah ketakutan, Zahra itu polos baru saja lulus SMA belum tau apapun dan minim pengalaman.


" ya sudah mas bebersih dulu ya jika mau istirahat". fars mengangguk.


Najwa keluar untuk ke kamar Zahra, kamar tidak terkunci Najwa mengucap salam dan masuk. Zahra sudah selesai bebersih ia sudah rapi dengan gamisnya.


" mba Najwa". dengan sopan Zahra bergeser duduk di ranjangnya. Najwa memegang tangan Zahra lalu tersenyum.


" jangan kaku Zahra jangan takut, katakan apa yang kamu sukai dan tidak kamu sukai. Bagaimana kamarnya kamu suka tidak Zahra". tanya Najwa.


" sangat suka mba kamarnya luas, seharusnya mba tidak memperlakukan Zahra seperti ini terlalu berlebihan". Zahra terkekeh ia sudha mulai menetralkan dirinya.


" apa nya yang berlebihan Zahra tidak ini memang kamar kamu, jika ada yang belum pas kamu katakan saja".


" tidak mba ini sudah cukup bagi Zahra, terimakasih banyak mba".


" tidak apa-apa mba, kemanapun mas Faras mau Zahra sama sekali tidak keberatan". Zahra tersenyum.


" kita harus membantu nya agar mas Faras bisa bersikap adil ya, dan katakan semuanya jika ada sesuatu yang kamu tak berkenan dengan kami".


" iya mba insyaAlloh". ucap Zahra.


" istirahat lah nanti keluar kamar jika makan malam ya, mas Faras biar istirahat di kamar ku dulu kasihan ia kelelahan dan langsung tertidur aku tak berani membangun kanny".


" iya mba jangan merasa tak enak sama Zahra, mas Faras juga suami mba Najwa". Najwa tersenyum ia lalu keluar kamar membiarkan Zahra istirahat.

__ADS_1


Zahra lalu membaringkan badannya untuk istirahat. Najwa kembali ke kamarnya di dapati Faras yang sudah terlelap, kemudian Najwa tidur di sampingnya. Najwa membelai wajah suaminya yang di tumbuhi bulu-bulu itu.


' maafkan najwa mas, Najwa yakin ini yang terbaik untuk mu dan jika saatnya tiba aku harus pergi sudah ada Zahra yang menemanimu dan anak-anak' monolog Najwa dalam hati kemudian ia terlelap di samping suaminya.


Zahra dari tadi tak bisa memejamkan matanya sudah menjadi kebiasaan ia tidak tidur di siang hari, dan di jam sore ia berada di warung mbantu ibunya. Zahra lalu keluar turun ke bawah menuju dapur,di lihatnya dua asisten rumah tangga sedang sibuk mengupas bawang.


" eh non Zahra ada yang bisa bibi bantu non, kenapa tidak istirahat saja". Zahra tersenyum ia mendekati bibik.


" Dari tadi tak bisa tidur bik, boleh Zahra bantu bik biar tak bosan". ucap Zahra ia mengambil sayuran yang sudah di persiapkan.


" jangan non lebih baik non Zahra istirahat saja, pengantin baru kok ke dapur. istirahat buat persiapan nanti malam non". kedua bibik itu tertawa menggoda Zahra.


" bibik bisa aja, tak apa-apa bik biarin Zahra bantu ya.". kamudian Zahra membersihkan sayurannya.


" ini di potong bagaimana bik".


" biasa aja non, potong biasa seperti akan masak cap cay" Zahra mengerti ia melakukan nya. Karena Zahra sudah kebiasaan lalu ia membuat bumbunya dan menyelesaikan masakannya.


" non Zahra bisa masak".


" Alhamdulillah bik bisa dikit-dikit".


" tapi ini bener-bener enak banget non, beda dengan yang kita masak lebih enak punya non Zahra". bibik mencicipi hasil masakan Zahra.


" sama aja bik yang penting ada rasa garamnya". Zahra terkekeh.


Semua orang masih istirahat najwa, Faras umi dan Abi. Zahra asyik bercengkrama di dapur bersama bibik, ia langsung akrab dengan pekerja di rumah itu.

__ADS_1


____


bersambung


__ADS_2