
Di perjalanan Faras menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang meski badannya demam ia masih terus menjalankan mobilnya sendiri. Berhari-hari ia terus saja mencari keberadaan Najwa, di tempat di mana yang ia senangi di kotanya namun tak pernah membuahkan hasil. kepalanya mulai berdenyut lagi, mobil sebentar lagi sampai di tempat tujuan.di tempat paman Hasan kondisi jalannya tak sehalus di kota di mana Faras tinggal. Faras berhenti ia tak tahan dengan pusing kepalanya, Faras menepikan mobilnya lalu ia meminum obat yang ia bawa. setelah cukup baginya untuk istirahat lalu ia kembali melajukan mobilnya, Faras sudah tak sabar bertemu dengan Istrinya.
Masuk ke gerbang pesantren di mana banyak santri yang lalu lalang, Faras memarkirkan mobilnya. kemudian ia turun menuju rumah Abah Hasan pengasuh pondok pesantren. Najwa masih berada di kamarnya bersama arsi mereka sedang beristirahat. Faras mengetuk pintu rumah Abah hingga beberapa kali namun tak ada yang menjawab. Arsi menggeliat ia mendengar ada seseorang yang mengetuk pintunya. ia mencoba beranjak bangun memakai jilbabnya dan keluar untuk membukakan pintu. Arsi membukakan pintu tiba-tiba Faras jatuh badannya limbung tak sadarkan diri. arsi lalu berteriak mencari pertolongan, Najwa langsung bangun dan berlari ke depan.
" ada apa arsi". tanya Najwa ia melihat ada seseorang yang jatuh di hadapan arsi.
" ini mba sepertinya suami mba Najwa pingsan". Najwa terkejut ia membelalakkan matanya kemudian berlari menemui arsi. Najwa mencoba melihat wajah Faras ternyata benar itu suaminya.
" astaghfirullah mas Faras". seketika Abah pun datang dan ada santri yang ikut akan mengambil kitab di kediaman Abah.
Najwa juga panik ia memegang kepala suaminya yang panas, Abah dan para santri mengangkat tubuh Faras untuk di bawa ke kamar tamu. Najwa pun panik Faras tak kunjung sadar, arsi sedang memanggil dokter yang ada di sekitar pesantren.
" Kenapa ini". tanya Abah ia tau jika Faras sudah dalam keadaan tergeletak.
" saat arsi buka pintu kak Faras sudah tergeletak Abah". abah mengerti jika Faras baru saja datang. Dokter sedang memeriksa Faras dsn Najwa berada di sampingnya sembari menangis.
" bagaimana dok dengan suami saya". tanya Najwa
" dehidrasi, kurang istirahat, ia demam keadaan nya sedang tidak stabil." kata dokter menjelaskan.
" Istirahat jangan terlalu lelah dulu dan makan makanan teratur serta bergizi". ungkap dokter.
" iya dok".
" ingat jangan di bebani dengan banyak pikiran dulu". Najwa mengangguk dokter memberikan obat dan vitamin kemudian ia pamit tak ada yang begitu serius hanya demam biasa faktor dari kelelahan dan kurang tidur.
__ADS_1
Najwa mengusap kepala Faras berkali-kali terlihat sekali jika ia pucat, Najwa merasa bersalah dengan perbuatannya. suami yang amat ia cintai terbaring tak berdaya, Abah masuk melihat keadaan Faras.
" bagaimana keadaan Faras ndok" tanya Abah melihat ke arah Faras yang terlihat pucat.
" badannya masih demam paman".
" selesai kan masalah kalian jangan pernah menghindari masalah sebelum terpecah kan, kamu lihat sekarang keadaan suamimu ia pasti beberapa hari memikirkan mu dan mencari mu hingga sakit" ucap Abah Hasan.
" iya paman Najwa merasa sangat bersalah".
" ya sudah paman tinggal dulu ke pesantren mau ada kajian sebentar, semoga Faras lekas sadar". Abah Hasan kemudian keluar menuju pondok.
Najwa menunggu Faras sembari mengompres keningnya, ia duduk di samping ranjang Faras. tiba-tiba Najwa terlelap ia tidur di letakkan kepalanya di bibir ranjang. Faras terbangun kepalanya masih terasa berat, ada seseorang di sampingnya kemudian ia melihat itu adalah istri nya. Faras tersenyum senang kini ia bisa melihat Najwa kembali. Faras berusaha untuk duduk tapi ia tak bisa terlalu terasa berat kepala nya. Pergerakan Faras membuat Najwa terbangun, Najwa mengernyitkan keningnya.
" mas sudah bangun, Alhamdulillah". ucap Najwa kepada Faras.
" mas merindukan mu sayang". Faras menarik diri Najwa ke dalam pelukannya.
" maafkan Najwa mas". Najwa mulai menangis.
" tidak sayang mas yang minta maaf , maafkan mas". Faras mengeratkan pelukannya. Najwa menangis di pelukan Faras ia sangat merindukan suaminya, bau maskulin dalam tubuh Faras selalu ia rindukan.
" jangan menangis lagi, mas ngga mau melihat mu menangis." Faras mengusap air mata di pipi Najwa.
" Najwa salah mas, najwa pergi tanpa minta izin dengan mas Faras. Najwa hanya tidak mau kalian mengugurkan janin Najwa." Faras kemudian mengusap perut Najwa yang belum membuncit itu.
__ADS_1
" mas tau bagaimana perasaan mu sayang, mungkin jika mas dalam posisi mu akan sama. bagaimana kabar calon anak kita sayang". Faras berusaha mencairkan suasana agar Najwa tak menangis lagi
" Alhamdulillah mas ia sangat baik tak menyusahkan uminya, bagaimana Rafa dan Zahra mas mereka tak ikut". tanya Najwa ia mengingat madunya dan Rafa anak dari madunya dan suaminya.
" Alhamdulillah mereka baik, Zahra tak henti mencari mu sayang. sepulang kampus ia terus mencarimu dan Rafa tadi sedikit rewel ia merindukan mu uminya". ucap Faras.
" Najwa juga merindukan mereka di sini mas, Najwa minta maaf". kembali Faras mengusap kepala Najwa.
" iya semuanya merindukan mu". Faras kemudian mengecup kening istrinya.
" Mas sedang demam kenapa mas nekat untuk ke sini bahkan tanpa membawa sopir". Najwa khawatir dengan keadaan suaminya bahkan sampai sekarang demamnya belun turun.
" mas ingin cepat sampai menemuimu sayang, mas begitu khawatir padamu".
" maafkan Najwa mas, sekarang mas makan dulu lalu minum obat biar lekas sehat kita bisa pulang". Faras mengangguk kemudian Najwa ke dapur mengambil kan makan untuk Faras suaminya.
Najwa membawakan sepiring makanan ia suapi suaminya perlahan. Faras makan dengan sedikit lahap ia memang sangat lapar siang tadi tidak makan. beberapa hari ia lalai dengan kesehatannya, Zahra sudah memperingatkan beberapa kali tapi Faras tetap tak nafsu untuk makan ia sangat mengkhawatirkan Najwa istrinya.
" terima kasih" ucap Faras istrinya dengan sabar menyuapi Faras hingga makanan habis.
" mas istirahat lagi ya biar turun demamnya". setelah minum obat Najwa meminta Faras untuk tidur lagim
" iya tapi sayang temani mas, mas rindu ingin memelukmu dalam tidur". Najwa tersenyum malu ia lalu ke dapur menaruh piring kotor tadi.
Faras mencoba menghubungi Zahra namun belum bisa sinyal di tempat ini susah ia juga tak ingin jika Zahra khawatir apalagi saat berangkat tadi Zahra sangat mengkhawatirkan Faras karena keadaannya yang masih demam. Akhirnya Faras mengirim pesan jika suatu saat terkirim Zahra bisa membacanya. ia memberitahukan jika ia sedang bersama najw saat ini, belum bisa pulang karena masih demam. pesan itu akhirnya terkirim juga namun Zahra sedang menyusui Rafa.
__ADS_1
___
bersambung