Rahim Untuk Suamiku

Rahim Untuk Suamiku
menghubungi faras


__ADS_3

Umi Aisha dan Abah Hasan masih menasehati Najwa, Najwa pun menceritakan dirinya dan kehidupannya dalam menjalani kehidupan rumah tangga nya yang berpoligami. Sebenarnya Abah Hasan sudah tau semua nya, tapi Abah tak memberitahu jika ia sudah tau agar Najwa mau bercerita supaya hatinya lebih plong.


" Najwa sangat merasa bersalah dengan mas Faras dan juga Zahra paman. Najwa tak bisa menyembunyikan kecemburuan Najwa, semua yang terjadi karena najwa. Najwa yang melakukan nya bagaimana Allah mengampuni dosa Najwa paman. Mas Faras Najwa paksa untuk menikahi Zahra juga Zahra Najwa paksa untuk menikah dengan mas Faras, mungkin awalnya mereka belum saling mencintai tapi karena berjalannya waktu mereka sering bersama mas Faras sekarang mencintai Zahra begitupun sebaliknya Zahra dengan mas Faras. Najwa cemburu paman hiks..hiks..". umi Aisha kembali memeluk Najwa.


" Allah akan selalu mengampuni hambanya yang melakukan salah nak, asal kita bertaubat dan mohon ampun. Rasa cemburu itu wajar Najwa, yang penting jangan terlalu berlebih-lebihan karena akan menimbulkan dengki di hatimu. Itu adalah penyakit hati, lawan semuanya terima keadaan mu dengan ikhlas dan legowo."


" iya paman maafkan Najwa".


" Jika kamu sudah mulai tenang hubungi suamimu nak supaya Allah juga ridho terhadapmu". Najwa mengangguk mengusap air matanya sedangkan umi mengusap punggung Najwa.


Abah dan umi pamit keluar, membiarkan Najwa berada di kamarnya ia butuh ketenangan. Di hidupkan nya handphone yang sudah beberapa hari ia matikan.


Di kediaman Faras masih sama Faras hanya sebentar berangkat ke kantor sepulangnya ia mencari Najwa kemanapun begitu pula dengan Zahra. Zahra menghubungi siapapun yang Najwa kenal namun nihil mereka tak pernah menemukan Najwa. Faras merasa tak enak badan karena beberapa hari ia sulit untuk tidur, hampir saja saat mengendarai mobil Faras menabrak orang. kemudian ia memutuskan untuk pulang ke rumah, kebetulan juga Zahra pulang dari kampus. Zahra pulang terlebih dahulu untuk memberi asi Rafa sehabis itu ia pergi mencari Najwa. Zahra melihat suaminya pulang dengan wajah yang begitu pucat.


" Mas kenapa". setelah salam di ucapkan dan di jawab oleh Zahra.


" kepalaku sedikit pusing". ucap Faras.


Faras langsung menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang tanpa berganti pakaian ataupun melihat Rafa terlebih dahulu ia tak kuat lagi. Zahra kemudian melepas sepatu suaminya kemudian pelan-pelan ia memijit kepala Faras.


" makan lalu minum obat dulu mas". ucap Zahra namun Faras sudah tidak menjawab ucapan Zahra.


Terlihat Faras sudah sangat terlelap begitu pulasnya kemudian Zahra pelan-pelan turun dari ranjang ia membenarkan posisi tidur Faras. Zahra merasa sangat kasihan dengan suaminya, semenjak Najwa pergi beberapa hari Faras jarang untuk tidur.


Umi melihat mobil Faras sudah berada di rumah namun ia tak melihat Faras, beberapa hari umi jarang sekali bertemu dengan faras ia berangkat begitu pagi dan pulang malam setelah mencari Najwa.


" Zahra di mana Faras". tanya umi.


" ada di kamar umi sedang tidur baru saja terlelap".


" apa dia sakit". ibu selalu merasakan apa yang anaknya rasakan hati nya bertaut apalagi Faras adalah anak satu-satunya umi.

__ADS_1


" kepalanya katanya sakit umi". umi mengerti kemudian bergegas naik ke atas untuk melihat Faras.


Umi memegang kening Faras tangan umi terasa panas, Faras sakit ia demam.


" astaghfirullah faras". umi lalu turun mengambil air untuk mengompres kening Faras. sedangkan Zahra sedang bersama rafa, sejak tadi Rafa rewel.


" Najwa..." Faras mengigau menyebut nama najwa tak hanya sekali tapi beberapa kali. umi sangat kasihan dengan anaknya Faras begitu pelik ujian yang dihadapi.


Najwa mencoba menghubungi nomor Faras namun tak bisa karena sinyal di rumah Abah Hasan sulit. Najwa lalu berhenti menghubungi Faras suaminya.


" kenapa mba". tanya arsi yang melihat Najwa mengerutkan keningnya.


" di sini sinyalnya susah ya".


" pakai handphone saya saja mba, di sini hanya bisa pakai kartu Smart".


" oh iya mba pakainya telkom". arsi menyodorkan sebuah handphone nya kepada Najwa, Najwa mencoba menghubungi Faras suaminya tapi tak di angkat.


" tak bisa juga mba."


Faras membuka matanya namun kepalanya masih terasa berat. di lihatnya umi duduk di sampingnya mengompres kepalanya.


" umi, Najwa sudah pulang". tanya Faras kemudian.


" belum nak istirahat dulu setelah itu kita lanjut cari Najwa lagi ya, badanmu sekarang sedang lemah kamu sakit".


" tapi umi, Najwa kemana kenapa dia tidak mau pulang. Faras banyak berbuat salah dengannya umi, Faras jahat dengan istri Faras. Faras tak bisa membahagiakan Najwa umi, hiks..hiks.." Faras terisak, Faras tetaplah anak dari seorang uminya. ia menangis di hadapan uminya, Faras sangat tersiksa.


" Faras anak umi yang paling baik, Faras juga seorang suami dan ayah yang terbaik. bisa menjaga kedua istrimu dengan baik, semua adalah takdir nak jangan menyalahkan diri sendiri. sekarang pikirkan kesehatan mu kemudian kita lanjut cari Najwa lagi". umi memeluk Faras mengusap punggungnya.


Faras memeriksa handphone nya ada panggilan tak terjawab dari nomor Najwa, ia tampak begitu bahagia.

__ADS_1


" umi, Najwa telepon umi". lalu Faras balik menghubungi Najwa istrinya, namun tak bisa tersambung. hingga beberapa kali Faras mencoba menelepon namun tak bisa tersambung lagi.


" kenapa nak ". tanya umi melihat Faras cemas.


" tak bisa terhubung handphone nya umi". jawab faras.


" cek saja di mana tempat nya, supaya terlihat sekarang Najwa ada di mana mungkin ke rumah saudaranya atau di mana". umi juga bersemangat ingin tau keberadaan menantunya, dengan kepala masih berat Faras turun mencari laptopnya. di cobanya mencari tempat tinggal Najwa sekarang.


Faras tersenyum ia sangat senang ia tau jika Najwa berada di pesantren milik Abah Hasan, dulu Faras sudah pernah di ajaknya sekali ke sana. Faras lalu bergegas untuk pergi ia pamit dulu kepada umi juga Zahra.


" Faras pamit ya umi, Faras tau sekarang di mana Najwa". binar matanya nampak bahagia.


" nak kamu sedang sakit sebaiknya bawa sopir". ucap umi.


" tidak apa-apa umi, Faras bisa sendiri".


" tapi nak". umi betul-betul khawatir.


" doakan Faras umi". ia lalu mencari Zahra, di mana Zahra sedang menggendong Rafa.


" Zahra mas pergi dulu ya untuk jemput Najwa".


" mba Najwa, Alhamdulillah di mana sekarang". tanya Zahra juga penasaran.


" ada di rumah paman Hasan".


" tapi mas pucat sebaiknya pakai sopir mas" Zahra juga khawatir dengan suaminya.


" tidak apa-apa doakan mas". ia mencium kening Zahra juga Rafa lalu bergegas pergi dengan sangat riang tak peduli dengan badannya yang masih demam.


___

__ADS_1


bersambung


mohon tinggalkan jejak komentar biar rame ya reader.


__ADS_2