Rahim Untuk Suamiku

Rahim Untuk Suamiku
malam pengantin


__ADS_3

Hujan rintik-rintik mengawali malam pengantin mereka seakan ia memberikan irama untuk setiap insan. malam Jum'at di mana yang kata orang adalah malam terbaik untuk hubungan para pasangan. Menurut Faras baba sangat pengertian sekali ia memilihkan malam pertama pas di malam Jum'at untuk mendapatkan pahala yang besar. Kiyai tersohor itu adalah mertuanya, menjadi menantunya suatu kehormatan baginya. istrinya tak hanya cantik namun ia pintar dan begitu cerdas.


Najwa sudah mempersiapkan baju untuk istirahat suaminya. Faras selesai membersihkan diri ia keluar kamar mandi masih dengan mengenakan handuk di lilit kan di pinggangnya. Najwa yang telah selesai menata tempat tidurnya tak sengaja melihat suaminya, begidik merinding rasanya melihat suami dengan polos tanpa baju. Faras tau jika Najwa tak sengaja menatap nya, Najwa yang telah mengalihkan pandangan justru Faras malah mendekat.


" mandilah sebelum aku ikut masuk memandikan mu". bulu kuduk Najwa merinding ia tersipu malu dengan tak menatap suaminya Najwa masuk ke kamar langsung membawa baju ganti nya. Faras tertawa seakan lucu melihat istrinya yang sangat gugup.


Najwa cukup lama di dalam kamar mandi hampir satu jam ia di sana. Faras duduk dan bersandar di kepala ranjang ia memainkan ponselnya sambil senyum-senyum membaca pesan dari para temannya. Najwa keluar sudah komplit dengan piyama panjang dan jilbabnya, ia belum siap jika tak memakai hijab di depan suaminya padahal rambutnya basah karena engap seharian di acara tersebut. Najwa berusaha memberikan bau wangi pada tubuhnya, sebelumnya ia tak pernah memakai parfum karena itu adalah hal yang perlu ia lakukan untuk sang suami tanpa menolak pemberian dari umma Najwa mau menerima. Faras melihat jilbab Najwa basah karena air di rambutnya yang masih ada.


" Najwa punya pengering rambut"


" ada mas". Najwa mencari ia letakkan di dalam lemari kemudian memberikan kepada Faras suaminya. Faras mendekati Najwa ia tuntun istrinya di depan cermin meja rias, Faras pelan membuka hijabnya ia akan mengering kan rambut istrinya.


" kenapa tak kamu keringkan terlebih dahulu rambutmu Najwa, nanti kamu bisa masuk angin tidur dengan rambut yang basah." ucap Faras dengan pelan-pelan ia membuka hijab istrinya dan pelan mengering kan rambut sang istri. Faras takjub istrinya sangat cantik tanpa hijabnya dengan rambut yang di gerai. rambut yang lebat dan hitam serta lurus.


" Najwa bisa sendiri mas".


" tak perlu malu Najwa aku ini suamimu biasakan setelah ini, kamu diam saja biar aku yang mengeringkan". Najwa hanya diam, merinding kala tangan Faras mengenai lehernya. Faras menyadari hal itu justru ia meletakkan bibirnya di bagian leher sampinh sang istri, bagaikan sengatan listrik bagi Najwa. Faras mengecupnya sekali.


" kenapa kamu tegang dan gugup maaf mas mencicipi duluan soalnya mas liat kamu tegang bikin mas jadi ngga sabar".


" Najwa malu mas".


" aku tau ini pertama kalinya bagimu dan juga aku, tapi aku laki-laki normal Najwa. tak mungkin aku biarkan wanita cantik berada di depan ku begini apalagi halal". Najwa hanya tersenyum saja jantungnya berdegup kencang hingga iramanya tak beraturan.


" boleh sekarang".


" kita sholat dulu mas". Faras mengangguk akhirnya mereka solat terlebih dahulu.


Suara petir kecil menggelegar Najwa takut tanpa sengaja ia langsung memeluk Faras. Faras justru mengeratkan pelukannya senang istrinya memulai terlebih dahulu.

__ADS_1


" kamu takut". Najwa hanya mengangguk. Faras kemudian membuka mukena Najwa dan mengangkat tubuh Najwa ia bawa di atas ranjang. Sebelumnya Faras berdoa dengan doa yang baik. Perlahan Faras menggenggam jemari Najwa, dan tak lama bibir itu bertaut bahkan makin panas. Angin sepoi hujan gerimis masih mengiringi malam pertama pengantin itu.


****


Najwa mengerjap matanya ia mendengar lantunan ayat suci Al Qur'an, Faras sedang bertilawah. Faras tau jika Najwa sudah bangun ia tersenyum apalagi mengingat kejadian semalam malam pengantin yang sempurna kini mereka sudah memberikan haknya masing-masing.


" sudah bangun sayang". Najwa tersipu malu apalagi ia masih dengan polos tanpa busana hanya tertutup selimut saja.


" kenapa mas tak bangunkan Najwa".


" mas tak tega sayang kamu tertidur pulas sekali, mas tau kamu lelah. mas minta maaf." saat akan bergerak rasanya Najwa merasakan sakit pada daerah intimnya.


" mas bantu ya nampaknya istri mas yang sudah tak perawan lagi kesusahan berjalan". kemudian Faras meletakkan Al Qur'an sarung dan ia buka baju kokonya kemudian membantu istrinya ke dalam kamar mandi. Faras menggendong Najwa membuat Najwa sangat malu, ia sembunyikan di dada suaminya.


" hey, tak perlu malu sayang bukankah semalam aku sudah melihatnya bahkan kamu pun sudah melihatnya".


" mas ku mohon jangan katakan itu lagi, Najwa sungguh malu".


***


Pagi yang begitu cerah matahari nampak tersenyum mengikuti kebahagiaan dua insan yang telah menyatu. Hari pertama Faras berada di rumah mertuanya, pagi itu setelah ia berpakaian rapi juga Najwa turun ke bawah. memang Faras tak mengizinkan turun membuatkan minum, Najwa masih merasa kesakitan. Sudah mendingan akhirnya mereka berdua turun pas di waktu jam sarapan pagi.


" maaf umma Najwa tak membantu umi di dapur". sembari ikut menyiapkan sarapan.


" tidak apa-apa sayang umma juga pernah jadi pengantin baru". Najwa tersipu malu kiyai hanya terkekeh saja mendengar nya, faraspun tersenyum dengan malu-malu.


" umma jangan bikin Najwa malu, tak baik jika di dengar adik".


" adikmu sudah berangkat ke sekolah katanya ada ujian, ia tak sarapan di rumah membawa bekal saja tadi".

__ADS_1


" kakak-kakak pada kemana ma dan keponakan mereka tak ikut sarapan bersama,".


" mereka pergi ke pasar katanya kangen sama nasi kuning mbok daseh, mumpung mereka ada di sini jadi mereka sarapan di sana".


" ya ampun berarti Najwa yang turunnya kesiangan ya ma jadi tak ikut mereka".


" sudah yuk kita sarapan, baba mu juga akan pergi mengisi ke pondok milik ustad Ahmad." kemudian mereka sarapan bersama.


" maaf pak kiyai dan nyai Faras mau minta izin".


" jangan panggil kiyai lagi nak Faras panggillah sama seperti Najwa memanggil".


" i iya baba, Faras minta izin mau bawa Najwa pulang besok."


" oh, silahkan nak sekarang Najwa adalah tanggung jawab mu lagian rumah ini kalian tak begitu jauh juga. Najwa masih akan mengajar di madrasah nak". Najwa menoleh ke arah Faras.


" Najwa suka mengajar ba mudah-mudahan suami Najwa mengizinkan".


" gimana nak Faras". Abah menoleh ke arah Faras. bagaimana pun juga Faras akan mengizinkan perjanjian awal Najwa mengajukan syarat bahwa ia akan tetap mengajar di madrasah milik baba nya.


" tidak apa-apa baba Faras tak keberatan, asalkan pulangnya tidak terlalu sore. agar Najwa tidak kelelahan."


" hanya mengajar mas insyaAlloh tak akan lelah. Najwa bisa istirahat di rumah baba setelah mengajar". sebenarnya Faras keberatan namun ia urungkan karena istrinya hanya ingin menyalurkan ilmunya agar tak bosan berdiam diri di rumah menjadi ibu rumah tangga.


_________


bersambung


beri saran untuk novel ini, maaf penulis masih belajar sangat amatiran. sisipkan komentar kakak readers.

__ADS_1


terimakasih🥰


__ADS_2