Rahim Untuk Suamiku

Rahim Untuk Suamiku
melamar zahra


__ADS_3

Malam ini umi dan Abi di antar Faras ke rumah baba, umi masih belum percaya jika ini adalah keputusan Najwa. Umi tau jika keduanya saling mencintai Faras begitu juga dengan Najwa. Bagaikan di sambar petir mendengar jika Faras akan menikah lagi.


Najwa baru selesai makan malam dengan keluarganya, tak ada yang menanyakan sesuatu pun pada Najwa semenjak ia tidur di rumah baba. Baba menyuruh anggota rumah untuk diam, baba meminta tidak boleh bertanya apapun pada Najwa. Biarkan sepuas nya Najwa tinggal si rumah babanya. Sesampainya di rumah baba umi langsung memeluk Najwa dan menangis.


" umi tenang mi maafkan Najwa" umi lalu melerai pelukan Najwa, Najwa mengajaknya untuk duduk.


" nak katakan pada umi apa benar yang dikatakan Faras". umi menggemgam tangan menantunya, yang lain hanya diam menyaksikan keduanya.


" iya umi, maafkan Najwa".


" nak kenapa kamu membuat keputusan sebesar ini, umi dan Abi ikhlas menerimamu apa adanya. Jangan lakukan nak kembalilah pada Faras" . Najwa tersenyum mencoba menenangkan umi.


" Najwa akan kembali pada mas Faras jika mas Faras memenuhi keinginan Najwa umi," tanpa ada ragu pun Najwa mengatakan nya.


" nak Najwa apa benar kamu sudah memikirkan nya nak" ucap Abi.


" insyaAlloh sudah Abi". semuanya menghela nafas berat mendengar keputusan Najwa yang begitu yakin.


" Ayo nak kita pulang, itu rumah Najwa tak seharusnya kamu pergi begini.".


" Najwa akan pulang jika mas Faras menyetujui keinginan Najwa Abi".


" aku setuju Najwa, aku akan memenuhi permintaan mu"


" Faras..." teriak umi.


" maaf umi ..."


" apa pilihan mu mas ". tanya Najwa dada nya mulai bergemuruh ingin mendengar penjelasan suaminya.


" aku akan menikahi Zahra". semua melihat ke arah Faras kecuali baba yang sudah tau.

__ADS_1


" Alhamdulillah terimakasih mas, Najwa sangat berterimakasih". ucap Najwa ia tersenyum seperti ada kebahagiaan dalam dirinya tapi hatinya pasti sakit.


" semua ku lakukan hanya demi kamu Najwa, mas tidak ingin kehilangan mu". ucap Faras menahan sesak dadanya.


" Faras, najwa ... apa tidak ada cara lain nak. umi tak ingin kamu menikah lagi, umi juga tak ingin kalian berpisah".


" tidak umi ini adalah keputusan yang terbaik". ucap Najwa memegang erat tangan umi nya.


" Abi tidak bisa berkata apapun jika itu keputusan kalian, bagaimana kiyai anak-anak kita ini". Abi meminta pendapat dari kiyai Umar besannya.


" mereka sudah dewasa, mereka pasti sudah bisa memutuskan mana yang terbaik. aku ikut dengan keputusan anak-anak". umma ingin berkata tapi baba menghentikan dengan isyarat jika sudah tidak ada yang perlu di bahas lagi.


" terimakasih baba" ucap Najwa.


" malam ini kita pulang ya". pinta Faras dan Najwa mengangguk.


Pembahasan sudah selesai, Najwa ingin pernikahan suaminya lekas di gelar tidak harus menunggu lama. Pernikahan akan di gelar di rumah Faras tidak akan mewah hanya keluarga saja yang hadir. Najwa membereskan barang-barangnya ia ikut pulang bersama suaminya, Najwa pamit kepada orang tua nya. umma tak bisa menahan air mata, akhirnya luluh memeluk Najwa.


Sesampainya di rumah mereka langsung masuk karena sudah malam, Najwa pamit kepada umi untuk langsung naik ke atas. Sedangkan Faras stelah melihat istrinya masuk ke kamar ia memeluk uminya erat menangis, inilah saat hari Faras terpuruk. ia tak bisa menahan tangisnya. Tangisnya pecah di pelukan uminya, Abi mengusap bahu anak laki-laki nya itu menguatkan.


"Sudahlah nak kamu sudah mengambil keputusan berat ini, jalani semua dengan ikhlas berusaha lah menerima istri keduamu". Faras mengangguk kemudian melerai pelukannya dan naik ke atas.


Di dalam kamar Najwa sednag membereskan pakaiannya dari koper di masukkan ke lemari. Faras masuk langsung bebersih ke kamar mandi.


" mas nanti kita akan tetap satu rumah ya, di sini. mas dan Zahra menempati kamar yang ada di ujung, Najwa ngga mau jika kita harus terpisah. Aku dan Zahra akan tetap bersama menjadi istri mas Faras di rumah ini. dan di saat Zahra melahirkan Najwa bisa ikut merawat anak kita". ucap Najwa begitu bahagia membayngkan anak.


" harus satu rumah sayang". Faras hatinya begitu perih.


" iya jangan pisahkan Najwa dengan Zahra ya mas". Faras melihat istrinya begitu bahagia.


_

__ADS_1


_


Hari ini Najwa dan Faras akan pergi ke rumah zahra. Najwa begitu bahagia, di siapkan nya pakaian suaminya ia benarkan kerah baju Faras. Najwa lalu memeluk nya, merasakan hangatnya pelukan suami dan Faras mengeratkan pelukan Najwa ia sangat tak yakin jika ini akan terjadi pada hidupnya akan mempunyai dua istri.


" terimakasih mas sudah memenuhi keinginan Najwa, kamu adalah laki-laki terbaik dalam hidupku". Faras mengusap kepala Najwa lalu mengecup keningnya.


" kamu adalah istri impian ku istri terbaikku ". ucap Faras ia tak ingin mengucapkan hal yang bisa memicu kemarahan antara keduanya.


Faras, Najwa, umi dan Abi hari ini akan datang resmi untuk melamar Zahra. Mereka membawa oleh-oleh buah tangan saja, Najwa di perjalanan terlihat sangat bahagia berbeda dengan Faras, umi dan Abi. umi yang merasa sangat terpukul, mana ada wanita yang kuat hatinya memberikan suaminya untuk orang lain bahkan ia yang melamar kannya.


" assalamu'alaikum". Najwa mengucapkan salam.


" wa'alaikumsalam ". jawab Zahra dan pak Zainal, terlihat Zahra sedang membantu abinya untuk ke depan.


" mba Najwa". Zahra terkejut melihat Najwa bersama suami dan kedua mertuanya.


" silahkan masuk," ucap pak Zainal.


" maaf Zahra mba tidak memberitahu dulu jika mau ke sini". ucap Najwa, Zahra menyalami semuanya kecuali Faras ia hanya menangkupkan tangannya di depan dada dan di balas oleh Faras.


" Bapak bagaimana kabarnya". tanya Najwa.


" Alhamdulillah nak begini masih sama di kursi roda namun sudah lebih baik". umi keluar karena di belakang mendengar sepertinya ada tamu.


" pak Bu... nak Najwa, nak faras". umi terkejut ia mengenal semuanya bahkan kedua orang tua Faras karena langganan nya.


" Kedatangan kami ke sini mempunyai maksud dan tujuan bapak Zainal dan ibu, saya mengkhitbah Zahra untuk menjadi istri dari mas Faras". Zahra mengangkat wajahnya seperti tak percaya jika ini akan terjadi.


Tak ada yang tak miris hatinya, semua terlihat ingin menumpahkan air mata kecuali Najwa, semenjak datang ia terlihat sangat bahagia. Belum ada yang menjawab pertanyaan Najwa suasana menjadi hening sejenak, antara percaya dan tidak jika Najwa benar-benar melakukannya. Biasanya orang tua yang akan meminta izin mengkhitbah anak perempuan untuk anak laki-laki nya. Namun ini berbeda istri pertama yang sah meminta perempuan untuk suaminya agar keduanya menikah.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2