Rahim Untuk Suamiku

Rahim Untuk Suamiku
surat najwa


__ADS_3

Zahra berdiri di dekat jendela ia melihat kedua anaknya yang sedang bermain, kini Fathan berumur dua tahun dan Rafa berumur empat tahun. keduanya sangat akrab saling melindungi menyayangi, Zahra dan Faras sering membawanya ke makam. mereka tetap memberi tau jika ibunya Najwa sudah berada di surga lebih dulu. mereka selalu mendoakan untuk uminya Najwa. Dari belakang Faras memeluk zahra ia mencium puncak kepala sang istri.


" mereka sudah besar sayang dan lihatlah mereka bahagia seperti apa yang Najwa inginkan, terima kasih sudah merawat anak-anak kita dengan baik". ucap Faras kembali ia mengeratkan pelukannya.


" sudah menjadi tugas Zahra mas, ia anak-anak kita harta yang paling berharga untuk kita". terlihat anak-anak masih bermain dengan nenek dan kakeknya. Zahra menitikkan air mata mengingat Najwa, begitu banyak pengorbanan nya untuk orang-orang terdekatnya. Faras membalikkan Najwa agar menghadap ke arahnya. ia mengusap air mata zahra, lalu mencium keningnya kembali memeluk sang istri.


" Najwa tak ingin kamu menangis seperti ini, Najwa ingin kita bahagia. Simpan air mata mu untuk kebahagiaan sayang bukan kesedihan, kita harus lebih kuat untuk anak-anak." Faras melerai pelukannya menghapus air mata Zahra kembali.


" maafkan Zahra mas, bismillah Zahra akan selalu tersenyum untuk anak-anak".


" sudah saatnya juga mereka memiliki adik sayang, mas akan segera tua jika tidak cepat punya anak lagi. umur mas sudah banyak berbeda dengan istri mas yang masih muda". Zahra mengerutkan alisnya kini suaminya terlihat manja. ia kemudian tertawa mendengar Faras mengucapkan jika ia sudah tua. memang jarak mereka lumayan jauh 12 tahun, Zahra masih terlihat sangat muda sedangkan Faras seperti kakak atau omnya Zahra.


" tak apa tua, suami Zahra yang tua ini masih kuat. Zahra semakin cinta meski rambut mas memutih". Zahra terkekeh, Faras mencubit hidung Zahra. mereka lalu berjalan ke depan ikut bermain bersama anak-anaknya.


" umi..." Fathan berlari berlindung di balik umi zahra saat Rafa mengejar nya, mereka bermain tembak-tembakan.


" adik selalu gitu pasti berlindung di balik umi, ".


" jangan cemberut sayang, adikmu bukan lawanmu. adik fathan berlarinya saja belum cepat, main sama Abi ya". Rafa sangat senang, mereka asyik bermain di halaman.


" kapan mau wisuda Zahra". tanya umi, kini Zahra sudah menyelesaikan kuliahnya dengan nilai terbaik. ia tinggal menunggu wisuda saja, sejak dulu memang Zahra pintar meskipun ia melewati kuliah sembari mengurus keluarga nya Zahra tetap mendapatkan nilai terbaik.

__ADS_1


" insyaAlloh umi bulan depan tinggal menunggu wisuda saja."


" apa ada niat untuk bekerja seperti Najwa dulu".


" bagaimana mas Faras saja umi jika di izinkan, namun jika tidak Zahra akan fokus mengurus anak-anak". umi tersenyum ia senang Zahra anaknya menurut dengan suaminya.


" kalau menurut umi mereka butuh ibu yang mendampinginya Zahra, tak ada guru terbaik selain ibunya sendiri. dan umi harap kamu segera memberi adik untuk mereka". Zahra tersenyum dorongan untuk memiliki anak lagi terucap dari orang-orang terdekat.


" insyaAlloh umi doakan Zahra".


" aamiin".


" umi... " kini gantian Rafa yang berlari ke arah uminya, ia juga minta perlindungan uminya. ia tau jika abinya tak akan menyakiti umi nya. Fathan sudah berpindah bermain dengan kakeknya.


" sudah siang sayang kita ke rumah istirahat ". ucap Faras menggendong Fathan. lalu semuanya masuk ke dalam.


Selama kematian Najwa belum ada yang memindahkan barang-barang Najwa di dalam. kini permintaan baba Umar, jika mereka harus merapikan kamar Najwa agar menyumbangkan saja barang Najwa yang masih bisa di pakai. kamar itu akan di pakai untuk Rafa dan Fathan, sebelum mereka besar mereka tidur dalam kamar yang sama.


Bibik menjatuhkan kertas yang terselip dari lemari pakaian Najwa. ia tak berani membuka karena itu milik majikannya, bibik langsung memanggil Zahra dan memberikannya untuk Zahra. Zahra membuka nya, terdapat tulisan Najwa di kertas itu yang terlihat ada bekas tetesan darah Najwa. kemungkinan itu di tulis saat Najwa merasakan sakit, ia meninggalkan pesan untuk suaminya dan madunya.


dear mas Faras dan Zahra

__ADS_1


Aku bahagia hidup bersama kalian, kalian orang-orang terbaik dalam hidupku. Mas Faras najwa mencintaimu sangat, akan aku bawa cinta ini bersama Najwa di sana kelak. kamu laki-laki terbaik tak ada yang lain mas, tak pernah dalam hidupku kamu membentakku kecuali satu kali saat aku memintamu untuk menikahi Zahra.


Zahra yang terbaik untuk mu mas, aku memilihkannya untuk mu. saat aku sudah pergi aku akan tenang, karena ada Zahra yang mengurus mu. jaga zahra selayaknya mas Faras menjagaku, cintai ia sepenuh hatimu. ia wanita baik mas sangat baik, tak pernah Najwa temui di dunia madu yang baik seperti Zahra.


Zahra, mba nitip mas Faras dan anak-anak kita ya. cintai mas Faras seperti aku mencintainya, kalian harus janji padaku jika kalian akan hidup bahagia. Jangan jadikan mba sebagai tolak ukur kesedihan kalian. tapi mba akan sangat bahagia melihat kalian hidup bahagia bersama anak-anak, aku melihat kalian di sini.


mba nitip satu nama untuk anak mu perempuan nanti jika Allah mengizinkan. Hafidza Shafiya aku suka nama itu, bukan anakmu saja ia juga anakku Zahra. aku menulis ini dengan penuh kebahagiaan karena aku sebentar lagi akan bertemu dengan Rabbku.


Jangan menangis Zahra hapus air matamu, kamu harus ingat aku tak mau melihat air matamu karena sedih. ayo tersenyum untukku, nah itu akan terlihat sangat cantik. mba pamit ya, aku sangat menyayangi kalian semua.


Salam sayang dari Najwa Lathifa.


Terima kasih telah memberikan kebahagiaan untuk ku sebelum aku pergi.


Kalian harus janji jika kalian akan bahagia bersama anak-anak.


Assalamu'alaikum...


*Najwa Lathifa*


Zahra luruh namun Faras langsung menangkapnya, bibik sudah memberitahu nya jika Zahra membaca selembar kertas yang ada di lemari Najwa. faras membawa Zahra agar ia duduk, ia mengambil kertas yang ada di tangan Zahra lalu Faras membacanya.

__ADS_1


" ingat yang Najwa katakan, kita tak boleh bersedih kita harus bahagia sayang. dari sana Najwa melihat kita, ia pasti akan kecewa melihat kita bersedih begini". Faras mengecup kening Zahra dan mengahpus air matanya.


___


__ADS_2