
Najwa menangis di dalam pelukan Faras air mata nya jatuh begitu saja, merasakan hangatnya pelukan suami. Sangat jelas jika Faras sangat mencintai Najwa meski terdapat kekurangan Najwa, bahkan kedua orang tua Faras pun sama. mereka tak pernah mengungkit kekurangan Najwa mereka sangat menyayangi menantu satu-satunya itu. Faras yang merasakan tangisan sang istri ia lalu membuka matanya dan bangun, Faras menarik Najwa agar duduk. baru kali ini Faras melihat istrinya menangis hati Faras terasa teriris.
" Sayang sekarang apa sebenarnya maumu, aku tak ingin menyakiti mu sedikit pun. permintaan mu itu sangat berat untukku, bahkan hati ini sudah penuh akan adanya dirimu sayang". Faras menghapus air mata istri nya.
" sudah Najwa katakan mas aku ingin anak dari darah daging mu".
" apa nantinya itu tidak akan menyakitimu, kamu harus membagi semuanya dengan madumu". ucap Faras.
" insyaAlloh tidak akan mas". Faras memeluk istrinya ia mengeratkan sangat lama seakan akan kehilangan istri tercinta nya itu.
" ayo sekarang kita pulang ini sudah sore ". Faras melerai pelukannya ia mengajak Najwa untuk pulang, Faras meredam pikiran berharap jika Najwa mau merubah keputusan yang ia ambil.
Setelah makan malam seperti biasa mereka melakukan murajaah hafalannya. kini gantian Faras yang tersendat saat membaca surat An Nisa, ia mengingat arti dari ayat tersebut tentang poligami. Faras mencoba melupakan masalah nya saat ia membaca Al Qur'an. Setelah selesai Faras dan Najwa berbincang sejenak sebelum tidur.
" Sayang apa kamu tak ingin merubah keputusan mu". tanya Faras sembari menyelipkan rambut istri yang menutupi wajah beberapa helai.
" keputusan Najwa sudah bulat mas, insyaAlloh itu yang terbaik untuk ku juga untuk mu". Faras menghembus nafas kasarnya.
" itu akan menyakiti keduanya sayang kamu juga Zahra".
" Najwa tidak akan pernah tersakiti mas, berikan perhatian mu penuh kepada Zahra". Faras mencium puncuk kepala Najwa berusaha menguatkan sang istri, Faras yakin wanita tak akan siap untuk di madu.
" jika mas mencintai Najwa lakukan semuanya demi Najwa mas,".
" akan mas pikirkan lagi sayang".
" tak perlu mas pikirkan lagi pilihannya cuma satu".Faras tau apa yang di maksud Najwa, jika ia tidak menikahi zahra ia kehilangan Najwa.
Faras lalu memejamkan matanya untuk tidur, tidur di pelukan istri nya. Najwa masih terjaga entah pikiran nya masih memikirkan hal yang terjadi, keputusan nya sudah tak ingin ia cabut lagi.
Di pagi hari Najwa memasukkan beberapa helai pakaian nya membuat Faras yang melihatnya heran. Untuk apa semua pakaian itu, kalau untuk ia sumbangkan kenapa harus di masukkan dalam koper atau kopernya mau Najwa sumbangkan juga. batin Faras ia melihat istrinya, Faras sedang berganti pakaian untuk siap berangkat bekerja.
" sayang mau di sumbangkan ke mana baju-bajunya". tanya Faras sembari mengancingkan baju nya.
__ADS_1
" mas Najwa akan tinggal di rumah baba sementara, Najwa harap mas sudah mengambil keputusan yang Najwa berikan". Faras mengerutkan keningnya.
" tapi tidak perlu juga kamu harus tidur di rumah baba sayang, di sini saja".
" tidak mas, jika mas memilih menikahi Zahra aku akan pulang dan jika tidak Najwa tidak akan kembali lagi ke rumah ini". Faras memegang lengan Najwa agar Najwa berbalik melihat ke arah nya, namun sebelum Faras berkata Najwa sudah mendahuluinya.
" izinkan Najwa untuk pergi mas ku mohon". dengan wajah sendu dan mata yang berkaca, Faras tak akan sanggup jika melihat istrinya menangis lagi.
" semoga di sana pikiran mu akan jernih dan akan mengubah keputusan mu".
" keputusan ku tak akan pernah berubah apapun itu mas". terang Najwa.
Najwa lalu menarik kopernya turun ke bawah, umi dan Abi yang melihatnya tampak heran. beberapa hari ini anak dan menantunya memang beda.
" bawa koper sayang". ucap umi kepada Najwa dengan masih terheran.
" iya mi abi, izinkan Najwa tinggal dulu di rumah baba". Abi menyenggol kaki umi agar umi tidak bertanya lagi.
" masih bersiap sebentar lagi turun mi". Umi menyiapkan makanan nya menyendokkan nasi ke dalam piring Abi. Faras turun dari tangga dengan pakaian lengkap nya dan tas di tangannya.
" Faras kamu juga akan ikut menginap di rumah kiyai". tanya umi.
" tidak mi mas Faras mungkin banyak pekerjaan nanti di sana mas tak bisa leluasa istirahat". ucap Najwa mendahului Faras yang ingin menjawab.
" insyaAlloh mi Faras juga akan tidur di sana, Faras menyusul malam saja". umi dan Abi merasa tampak aneh saja dengan keduanya. Najwa melihat ke arah Faras agar ia tidak ke rumah baba nya.
Faras mengantar Najwa ke rumah baba terlebih dahulu sebelum ke madrasah. Faras juga menurunkan koper Najwa, di antarnya ke kamar Najwa. Baba melihat dari atas namun baba tak ingin bicara jika tidak ada yang bercerita. Faras berangkat ke kantor dan Najwa ke madrasah kali ini Najwa menggunakan motor matic nya. Faras masih saja tidak tenang di ruang meeting ia tak bisa berfikir jernih akhirnya ia izin untuk istirahat di ruangan nya kepalanya sedikit pusing. Faras pulang lebih dulu ia lagi-lagi memberhentikan mobilnya di ujung jalan untuk melihat Zahra. Faras berfikir akan menemui ayahnya Zahra yang pasti kini berada dirumahnya.
" assalamu'alaikum". ucap Faras ia melihat bangunan yang sudah lumayan tua itu, Faras bertanya kepada Jihan rumah Zahra namun Faras berpesan agar tak mberitahu Najwa jika ia ke rumah Zahra.
" wa'alaikumsalam" jawab adik Najwa.
" mau cari siapa pak"
__ADS_1
" bapak ada dek"
" ada sebentar saya panggilkan". pak Zainal mendorong kursi roda nya untuk ke depan. Faras yang melihat kaget, jadi semenjak itu pak Zainal sudah tidak bisa jalan lagi.
" oh nak Faras silahkan duduk nak".
" bapak masih ingat saya".
" iya kamu istri nya Najwa kan, ". Faras mengangguk namun ia bingung bagaimana memulainya. Faras hanya basa-basi bertanya soal kesehatan pak Zainal saja.
" nak Faras ke sini pasti ada perlu kan, apa menyangkut soal Zahra".
" iya pak, apa istri saya pernah ke sini dan membicarakannya". tanya Faras penasaran.
" iya nak Najwa sudah meminta izin kepada kami, nak Najwa itu anak yang sangat baik bahkan kami tak sanggup menolak permintaannya".
" saya pun begitu pak di hadapkan dengan pilihan yang sulit, apa bapak mengizinkan Zahra jika saya nikahi untuk jadi istri kedua saya sedangkan umur kami terpantau jauh sekali".
" ya saya mengizinkan nak, umur bukanlah patokan untuk jarak antara suami dan istri bahkan. Rasulullah dengan Khadijah umurnya juga terpantau jauh.". Faras diam.
" nak Najwa pasti punya alasan yang tepat untuk keputusannya ini nak Faras.".
" Najwa ingin saya mempunyai anak dari darah daging saya pak".
" pikirkan lah yang terbaik nak, keputusan itu memang sulit serahkan semuanya kepada Allah SWT minta petunjuk Nya". ces adem hati Faras mendengar penuturan pak Zainal.
" baik pak maafkan saya sekali lagi". pak zainal mengusap bahu Faras
Faras pamit pergi ia sudah berbicara panjang lebar kepada pak Zainal.
______
bersambung
__ADS_1