
Faras langsung membawa Zahra pulang, ia takut jika istrinya kelelahan apalagi baju bawahnya basah tadi terkena air di pantai. Faras memang sengaja hari ini tidak ke kantor ia ingin seharian menemani Zahra dari periksa hingga di rumah. Zahra tertidur di dalam mobil terlihat jika Zahra sangat lelah, Faras menepikan mobilnya sebentar membenarkan posisi tidur Zahra.
" aku tidak tau Zahra ini cinta atau bukan yang jelas aku nyaman dekat denganmu, senyummu membuatku candu ingin melihatnya setiap hari. kamu ceria padahal dalam lubuk hati mu aku tau jika kamu terpaksa melakukannya." gumam faras mengamati wajah Zahra ia membelainya sejenak dengan pelan.
Zahra tidak bangun hingga sampai di rumah Faras menggendong hingga ke kamar, umi melihatnya ia tersenyum ada kebahagiaan dalam hati umi.
' ya Allah terima kasih atas izinmu untuk diri Faras memiliki keturunan ' batin umi.
Faras melepas jilbab Zahra kemudian sepatu dan kaos kakinya seketika Zahra terbangun ia mengangkat kakinya saat sadar kakinya di sentuh.
" jangan mas"
" tidak apa-apa Zahra, ganti bajumu nanti mas pijit kakimu"
" Zahra tidak apa-apa mas jangan sentuh kaki Zahra". Faras mengusap kepala Zahra ia mengingat saat pertama melihat zahra di tempat jualan orang tua nya.
Zahra berdiri ke kamar mandi lalu mengganti pakaiannya ia benar-benar sangat lelah. Faras berganti pakaian memakai baju santai yang biasa ia pakai di rumah.
Faras menarik Zahra agar tidur dalam pelukannya, mereka beristirahat Zahra mencari posisi ternyaman tidur dalam pelukan suaminya. Faras berkali-kali mencium puncak kepala Zahra. Zahra sangat dengan perlakuan Faras kini perhatian nya lebih terhadap Zahra.
_
Dokter arif mengamati data milik Najwa berkali-kali dokter arif melihatnya dengan baik.
" bagaimana dengan pasien saya dok"
" kanker nya sudah menjalar ke paru-paru" ucap dokter arif kepada Zaskia.
"jika saja pasien melakukan kemo sejak dini mungkin tidak akan separah ini" ucap dr Arif
__ADS_1
sedikit kecewa.
" aku sudah menyarankan nya sejak awal dok tapi pasien tidak mau, bagaimana dok masuk stadium lanjutkah" tanya Zaskia penasaran.
" iya stadium empat tingkat lanjut".
" astaghfirullah, lalu apa yang akan kita lakukan dok".
" tak ada selain kemoterapi semoga saja kanker nya tidak menyebar kemana-mana, apakah suaminya sampai sekarang belum di beri tau. mungkin suaminya bisa mengambil keputusan untuk pengobatan di luar negeri, dan bisa menjadi kekuatan untuk nya. obat paling mujarab adalah pasien yang berjuang melawan penyakitnya". jelas dr Arif.
" belum dok pasien tidak ingin suaminya tau".
" lambat laun ia akan tau sendiri dok, adanya perubahan pada diri pasien seperti rambutnya yang akan rontok". ucap dr Arif lagi.
" ya itu kemungkinan terbesar nya ".
Najwa masih beristirahat ia menahan sakit yang teramat, ingin menangis namun Najwa menahannya ia tak ingin Jihan khawatir. Hanya Jihan yang menemani Najwa, bahkan orang tua nya pun tidak tau akan penyakitnya.
Tiga hari kemudian Najwa sudah nampak lebih baik ia berniat akan pulang bersama Jihan. Najwa ke mall untuk membeli oleh-oleh untuk orang rumah, najwa tersenyum sangat senang ia bisa melewati kemo pertama kali dengan baik.
" Najwa apa yang kamu lakukan jika kamu sembuh, apa kalian akan tinggal terpisah maksudku tidak satu atap dengan Zahra".
" aku belum memikirkan itu Jihan, sekarang yang ada aku bahagia dengan kehamilan Zahra. Akhirnya mas Faras punya keturunan".
" aku rasa tak mungkin kalian akan tinggal satu atap, kamu selalu melihat mereka dengan rasa cemburu, itu pasti Najwa". ucap Jihan.
" sudahlah Jihan yuk kita pulang aku sudah rindu dengan mas Faras". Jihan mendesah kasar mendengar penuturan sahabat nya seakan ia kuat menjalani semuanya.
Najwa mengabari Faras jika hari ini ia pulang namun Faras masih ada meeting di kantor ia mensilent handphone nya, meeting yang sangat penting tak bisa di ganggu. Faras sudah memberitahu Zahra jika ia akan pulang terlambat mungkin Maghrib, Zahra senang saat Faras memberi kabar untuk nya seakan beberapa hari terakhir ini Zahra merasakan punya suami yang seutuhnya..
__ADS_1
Sedangkan Najwa ia kesal sejak tadi melihat handphone nya tak ada balasan dari Faras, Najwa sudah sampai di rumah jihan sejak siang ia kembali coba menelepon Faras namun tak di angkatnya juga. Pikiran Najwa sudah kemana- mana ia berfikir jika Faras sedang bersama Zahra dan tidak mau di ganggu.
" Astaghfirullah". gumam Najwa ia menepis pikirannya yang saat ini di kuasai oleh syetan.
" ada apa Najwa, suamimu belum menjawab telepon mu". Najwa hanya diam tak menjawab pertanyaan Jihan.
" Jihan aku pulang dulu ya terima kasih atas kebaikan mu selama ini".
" kamu pulang naik apa aku antar ya".
" tidak aku sudah memesan taksi sebentar lagi datang, aku selalu merepotkan mu"
" Najwa kita ini sahabat dari lahir, tak ada kata merepotkan untuk ku kita sama-sama saling membutuhkan mungkin saat ini kamu yang butuh aku lain kali aku pasti akan membutuhkan mu.".
" katakan saja jangan ragu aku akan membantu mu sebisa ku". mereka saling berpelukan dan taksi sudah datang untuk menjemput Najwa.
Sesampainya di rumah Najwa tak melihat siapapun, ia begitu kesal tak ada penghuni rumah kecuali bibik.
" non Najwa kapan datang". tanya bibik langsung mengambil koper di tangan Najwa membantu nya.
" baru bi di mana semuanya". tanya Najwa ia tak melihat kedua mertua nya.
" ibu sama bapak pergi sejak kemarin non ada acara di rumah paman Edwar non Zahra ke kampus dan tuan Faras bekerja". ucap bibi.
" saya ke atas dulu ya bik". Najwa kemudian naik ke atas ia melihat-lihat sekitar rumah sekitar empat hari ia tinggal pergi sedikit berbeda. Najwa penasaran dengan kamar Zahra akhirnya ia masuk, Zahra tak pernah menguncinya dari luar.
Di lihatnya barang milik suaminya juga Zahra terlihat semalam mereka pasti tidur bersama, rasanya sakit hati Najwa saat membayangkan Faras dan Zahra sedang di atas ranjang itu. Najwa lalu pergi dari kamar Zahra tak kuat rasanya berada di sana. luka yang ia torehkan semakin lama melebar, awalnya Najwa yakin bahwa ia ikhlas tak akan sakit hati ataupun menuntut keadilan. Namun semakin ke sini terasa sekali jika Najwa cemburu.
___
__ADS_1
bersambung