
Tak lama operasi itupun selesai, kini mata Zahra di tutup rapat dengan perban. Dokter Bilal melakukan nya dengan maksimal apalagi setelah ia tau jika itu adalah kerabat dari istrinya arsi. Hanya saja Bilal yang heran Faras bisa memiliki dua istri yang saling menyayangi. Melihat ke arah Zahra jika Zahra terlihat sangat muda di bandingkan oleh Najwa dan Faras, umur mereka memang terpaut 12 tahun. Bilal melihat Faras menyayangi keduanya tanpa ia canggung saat ada Najwa di sisinya.
' apa yang menjadi alasan Faras itu memiliki dua istri' monolog Bilal berfikir ia begitu penasaran, sembari Bilal menyelesaikan balutan perban di mata Zahra.
Bilal kemudian keluar dengan senyuman pertanda jika Operasi nya berjalan lancar dan berhasil. Semua keluarga mendekat juga arsi sang istri memegang jemari Bilal meminta keterangan.
" Alhamdulillah Operasi berjalan lancar, mba Zahra akan bisa melihat kembali nanti. sekarang ia sedang istirahat kalian boleh menemui tapi nanti setelah mba Zahra istirahat maksimal". ucap Bilal kepada seluruh keluarga Zahra.
Semua menghembus nafas panjang mereka lega, Najwa memegang lengan Faras sangat erat. Kemudian Faras memeluk Najwa, ia teringat bagaimana jika itu adalah Najwa yang ia tunggu di rumah sakit sedang memperjuangkan nyawanya. Faras mengecup kepala Najwa berkali-kali yang membuat heran seorang Bilal.
" Perban itu bisa di buka setelah satu Minggu lamanya, biar benar-benar pulih pada pasien dulu". semua mengangguk.
" terima kasih banyak nak Bilal". ucap kiyai Umar kepada keponakan nya.
" sama-sama paman kiyai sudah tugas Bilal".
" Berkunjunglah ke rumah paman, arsi ajak suamimu ke rumah paman ya".
" iya paman sebenarnya arsi sudah berencana, tapi belum karena arsi baru datnag kemarin dan mas Bilal langsung bekerja". arsi tersenyum. Bilal pamit ia akan berkunjung ke pasien yang lainnya, Bilal meninggalkan arsi bersama keluarga Najwa.
" arsi, ceritakan kepada mba Najwa kamu kok tiba-tiba bisa menikah gini". arsi cekikikan.
" Alhamdulillah mba iya jika memang jodoh tak butuh menunggu lama, arsi menerima khitbah mas Bilal dan malam itu juga mas Bilal mengucapkan ijab kabul". ucap arsi.
" MasyaAlloh arsi mba ikut senang, semoga samawa ya bisa cepat dapat keturunan".
__ADS_1
" aamiin trimakasih mba".
" sayang biar mas yang menunggu Zahra di sini, ada uminya Zahra juga ikut menunggu Zahra kamu harus pulang kasihan bayinya.". ucap Faras mengusap kepala Najwa.
" tapi mas, Najwa ingin menunggu Zahra".
" jika kamu tak hamil mas ngga keberatan, tapi kamu sedang hamil dan kasihan Rafa juga tak ada uminya satupun di rumah pasti dia celingukan mencari mu". Faras mencoba memberikan pengertian kepada najwa agar ia segera pulang, tak baik jika ia harus berlama di rumah sakit.
" nanti aku antar mba, mas Bilal sebentar lagi pulang nanti bareng sama arsi saja".
" ngga usah arsi nanti merepotkan". ucap Najwa duduk sembari mengelus perutnya, sepertinya ia merasa sudah lelah.
" tidak mba, tidak akan supaya aku tau rumah mba jika main kami tak perlu mencari nya lagi"
***
Seorang wanita tersenyum mendengar jika Zahra telah selesai operasi mata nya, sebentar lagi zahra akan melihat. Wanita itu masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Singapore tempat ia pakai untuk melakukan pengobatan, ia begitu kekeh ingin mendonorkan matanya untuk seorang Zahra.
" sayang jujur mama tak sanggup melihat mu begini, bahkan sekarang kamu tak bisa melihat hiks...hiks..."
" ma aku hanya ingin meninggalkan kenangan yang berharga sebelum aku pergi ma, mama ikhlaskan saja. ketika aku sudah pergi berikan surat ini kepada Zahra". ucap wanita itu, sebelum ia melakukan operasi untuk mendonorkan matanya kepada Zahra ia menulis surat untuk Zahra.
" sayang andai saja nyawa mama bisa di tukar dengan nyawamu". suara Isak tangis makin tersedu.
" mama inilah takdir ma, kita harus menyambut nya sebagai takdir terindah. apapun yang terjadi itu karena Allah menyayangi kita ma ikhlas kan semuanya". ucap wanita itu menurunkan ranjangnya agar ia bisa tertidur. Sakit yang di deritanya memang tidak terlihat sebelumnya, kini ia merasakan tiga bulan terakhir bahwa ia mengidap penyakit kelenjar getah bening. kelenjar ini jenisnya ganas dan bisa merenggut nyawa pasien sewaktu-waktu. Orang tuanya memutuskan untuk membawa nya ke Singapura untuk melakukan pengobatan, pengobatan lebih baik. Namun hingga sekarang tidak ada perubahan sama sekali hingga wanita itu memutuskan untuk mendonorkan matanya sebelum ia pergi.
__ADS_1
Jam sepuluh malam ketika semuanya sudah mulai tertidur, wanita itu merasakan dirinya sesak nafas hingga membuat papa dan mamanya panik di panggil nya sang dokter. Sebelum dokter datang dengan mengucapkan kalimat Allah ia menghembuskan nafas terakhirnya dengan berakhir sebuah senyuman wanita itu. Pecah tangis dari keluarga nya, bahkan membuat mama nya sampai pingsan.
Jenazah di bawa pulang ke Indonesia dan akan di kebumikan di pemakaman dekat kotanya. Tangis terdengar dari semuanya kerabat juga keluarga nya. Ia tak bisa menahan penyakitnya lagi dan Allah begitu sayang dengannya hingga ia lekas di panggil.
" ma jangan terlalu bersedih ingat kata anak kita, jika rindu kita bisa mendatangi Zahra bisa melihat matanya dan memeluknya ma. Allah sangat sayang dengan anak kita, sekarang anak kita sudah ngga sakit lagi ma ia akan bahagia di surga". ucap papa menenangkan mama saat mama tak mau di ajak pulang, ia terus menunggui anaknya di pemakaman yang sudah berada di bawah tanah.
Sakit sedih sangat menyayat hati seorang ibu ketika anaknya harus meninggalkan nya lebih dulu. Di simpannya surat itu yang akan di tujukan kepada Zahra nanti suatu saat.
" mama mau ke mana". tanya papa menahan tangan mama.
" mama mau ke rumah Zahra pa"
" jangan ma Zahra baru saja di operasi bahkan perbannya pasti belum bisa di buka, mama tidak akan bisa melihat nya sekarang. ma biarkan Zahra sehat dahulu jika mama ingin menemui Zahra". mama makin tersedu ia menangis kemudian papa menuntunnya masuk ke dalam.
Sedangkan di rumah sakit Zahra masih dalam keadaan matanya di perban ia ditemani oleh uminya dan suaminya Faras. Uminya sangat telaten mengurus Zahra juga Faras , ia tak pernah meninggalkan Zahra sedikit pun itu juga permintaan dari Najwa jika Faras harus menunggu Zahra.
" mas sudah tau belum siapa yang mendonorkan mata ini". tanya Zahra setelah ia sarapan pagi.
" belum sayang rumah sakit merahasiakan identitas pendonor nya".
" kenapa begitu mas apa keluarga nya tak ingin meminta sejenis tebusan untuk mata yang sudah di donorkan ke Zahra".
" seperti nya tidak sayang, sudah jangan di pikirkan dulu . kamu fokus dengan kesembuhan mu, Najwa dan Rafa sedang menunggu mu di rumah." Zahra mengangguk tapi tidak dengan hatinya, ia sangat ingin tau siapa pendonor itu setidaknya Zahra ingin berterima kasih.
____
__ADS_1