
Zahra sudah tidak masuk ke sekolah lagi, ia berada di rumah karena semua urusan sekolahnya sudah selesai. Zahra ikut mempersiapkan sarapan buat keluarga nya umi sejak tadi hanya diam bukan marah dengan Zahra tapi bingung apa yang harus umi lakukan, tak ada hal lain.
Faras hari ini harus keluar kota ada pekerjaan sedikit, ia pamit denagn istrinya. Najwa berniat akan menemui Zaskia lagi untuk melakukan pemeriksaan dengan dokter arif. bersyukur Faras tidak ada di rumah ia dengan luasa pergi tanpa was-was, Najwa berangkat sejak pagi.
" Sudah siap untuk pemeriksaan lanjut Nona Najwa". tanya dokter arif sudah siap dengan alatnya semua di lakukan oleh suster dan Zaskia dokter arif hanya memantau lewat layar monitor saja.
" iya dok siap insyaAlloh". ucap Najwa.
" penyakit kanker serviks ini bisa di sembuhkan jika di ketahui sejak awal, namun nona Najwa terlambat ini sudah masuk ke stadium lanjut". dokter arif tak mengatakan jika sudah berbahaya.
" namun nona Najwa jangan khawatir dengan tekad nona untuk sembuh juga ikhtiar untuk pengobatan nona bisa sembuh. kita harus optimis yakin sembuh". Najwa hanya diam saja.
" Di minum rutin obatnya ya Najwa." ucap Zaskia ia merasa pilu.
" baik mba, terimakasih sudah membantu".
Najwa keluar dari ruangan dokter arif seketika akan bertabrakan dengan seseorang ia langsung berhenti melangkah.
" astaghfirullah".
" maaf maaf... saya tidak sengaja". ibu itu membantu Najwa membereskan obatnya yang terjatuh. Ketika akan memberikan plastik berisi obat Najwa terkejut melihat umi dan abinya Zahra . orang yang ia tabrak adalah umi dan Abi Zahra.
hari ini memang jadwal kontrol Abi, hanya umi yang mengantarkan dengan menaiki taksi. Umi kaget Najwa keluar dari ruangan dokter arif yang semua tau jika dokter arif adalah spesialis kanker..
" nak Najwa sedang apa dan obat ini" tanya umi mempunyai seribu pertanyaan di benaknya.
" tidak apa-apa Bu kebetulan saya lagi main saja ke sini". namun umi tak percaya gelagat Najwa sangat berbeda ia gugup. umi langsung memegang tangan Najwa mengisyaratkan umi ingin penjelasan Najwa.
" umi ingin bicara padamu nak Najwa". najwa sudah tidak bisa lagi mengelak ia lalu duduk di kursi tunggu depan ruangan dokter arif, kebetulan hari itu pasien sepi karena dokter sedang istirahat.
__ADS_1
" sedalam-dalamnya bangkai di pendam lambat laun akan ketahuan juga nak". ucap umi Najwa hanya diam.
" katakanlah pada umi semuanya, apa ini berkaitan dengan kamu meminta Zahra untuk menikah dengan suamimu". wajah Najwa langsung sontak terangkat menatap wajah umi, Najwa langsung tanggap apa yang umi Zahra katakan. Ternyata Zahra memberitahu semuanya kepada orang tua nya.
" jadi ini yang membuat mu nekat melakukan nya". ucap Abi Zainal.
" maaf pak bu saya mohon jangan katakan apapun pada Zahra, saya tidak memaksa Zahra. jika Zahra tidak mau pun tidak apa-apa hanya saja saya melihat Zahra wanita yang subur ia anak saliha akan cocok dengan suami saya. Sebelum saya pergi saya ingin memberikan kebahagiaan untuk suami saya. Tolong rahasiakan hal ini dengan Zahra". pinta Najwa.
" kamu sakit apa nak Najwa ". tanya Abi penasaran.
" Najwa mengidap penyakit kanker serviks stadium lanjut pak". ucap najwa membuat Abi dan umi terkejut sontak umi melongo menutup mulutnya kaget.
" innalilahi nak apa selama ini tak ada yang tau tentang penyakit mu". Najwa mengangguk.
" bahkan suamimu".
" iya Bu mereka tak ada yang tau, aku tak ingin melihat kesedihan di mata semuanya dari itu najwa menginginkan mencari wanita untuk suamiku. Najwa ingin pergi dengan tenang". ucap Najwa.
" dari itu sebelum saya pergi suamiku sudah memiliki pendamping yang baik". potong Najwa saat umi sedang ingin berbicara.
" Najwa mohon, jangan katakan hal ini pada siapapun meski Zahra". Najwa turun memohon kepada umi dan Abi, umi mengangkat tubuh Najwa agar kembali duduk.
" baiklah jika memang itu maumu, semoga kamu lekas sembuh".
" Bu tak ada niat saya membantu ibu untuk menukarnya dengan Zahra, saya tulus membantu keluarga ini. Semua keputusan ada di tangan Zahra saya tidak memaksa Bu, Zahra anak yang baik." ucap Najwa.
" iya nak semoga ada jalan keluar untuk mu". umi memeluk Najwa kemudian pamit untuk pulang.
Di perjalanan umi dan abi membisu cukup lama, mereka larut dengan pikirannya masing-masing.
__ADS_1
" Abi tak tega melihat nak Najwa mi".
" apa yang harus kita lakukan bi jangan pernah memaksa zahra biarkan ia memilih sesuai dengan pilihannya". ucap umi.
" kasihan nak Najwa mi" umi mengangguk.
Sudah dua Minggu Zahra mimpi hal yang sama berturut-turut. ia resah selalu memikirkan Najwa yang selama ini baik dengan keluarganya. Zahra menemui umi dan abinya yang sedang duduk di ruang tengah.
" umi, Abi, petunjuk istikharah itu seperti apa." tanya Zahra.
" mimpi, juga keyakinan di hatimu". ucap Abi dan menoleh ke arah umi.
" dalam dua Minggu ini Zahra bermimpi hal yang sama berturut-turut". ucap Zahra lalu ia menceritakan semuanya kepada umi juga Abi.
" lalu apa keputusan mu nak". Zahra menggeleng.
" Zahra takut menyakiti Bu Najwa mi, seperti yang Zahra lihat di televisi dan cerita orang-orang".
" cerita nya beda nak, di sini nak Najwa yang memintamu untuk menjadi madunya, dan yang jelas nak Najwa sdah memikirkan nya dengan matang" jelas umi.
" pikirkan dengan baik jangan melakukan sesuatu hanya karena keterpaksaan Zahra, umi tak mau kamu menyesal di kemudian hari". pesan umi.
" Najwa memang wanita yang sangat baik, ia selalu membantu siapapun. Dan kamu sudah tanya dengan rencana ini kepada najwa, apa suaminya menyetujui rencana Najwa". tanya Abi, ia juga tak ingin jika anaknya di anggap menjadi perebut suami orang.
" belum bi, tapi kenapa hati Zahra condong untuk hal ini bi. ".
" Jika memang kamu yakin Abi mengizinkan kamu menikah dengan suaminya Najwa, tak semua menjadi madu itu menyakitkan. Abi sangat tau siapa nak Najwa, insyaAlloh nasibmu akan berbeda dengan orang di luar sana. Najwa begitu menyayangi suaminya dan ia juga menyayangi mu selayaknya adik selama ini Zahra". Zahra diam ia berfikir memang dari hati ia sudah siap, demi membalas kebaikan Najwa semuanya kepada keluarganya.
Seperti yang Jihan katakan setelah melahirkan Zahra bisa bebas melanjutkan kuliahnya juga adik-adiknya bisa sekolah dan orang tuanya bisa mendapatkan pengobatan. Hari ini Zahra ingin menemui Najwa ia ke rumah jihan agar Jihan menghubungi Najwa jika ia ingin bertemu. Dengan senang hati Najwa akan siap mendapatkan jawaban dari Zahra.
__ADS_1
___
bersambung