Rahim Untuk Suamiku

Rahim Untuk Suamiku
Faras ke kampus


__ADS_3

Kondisi Najwa sudah cukup membaik, dr Arif memeriksanya dan Najwa di perbolehkan untuk pulang. Faras mendorong kursi roda hingga sampai mobil ia membantu Najwa masuk ke mobil. Sebenarnya Najwa tidak senang karena Faras sudah tau penyakitnya.


" mas Faras masih marah dengan Najwa" tanya Najwa sebelum mobil berjalan.


" iya mas sangat marah padamu, kenapa kamu melakukan semuanya. hal sebesar ini kamu tutupi, kamu berjuang sendiri dengan penyakit mu." Faras menghadap ke arah Najwa meminta penjelasan.


" maafkan Najwa mas, Najwa tak ingin semuanya merasa sedih. Najwa ingin semuanya tetap bahagia". ucap Najwa


" dan kami ssmua akan bahagia di atas penderitaan mu". Faras menekankan ucapan terakhir nya.


" Bukan begitu mas, Najwa ingin melihat kalian bahagia. jika kalian bahagia Najwa juga akan sangat bahagia".


" tapi tidak harus menutupi semuanya Najwa, aku seperti suami bodoh yang bersenang-senang dengan istri mudanya sedangkan istriku yang lain sedang terbaring di rumah sakit berjuang dengan penyakitnya". ucap Faras suaranya melemah menahan tangis.


" tidak mas jangan katakan itu, Najwa bahagia apalagi Zahra hamil kita akan segera punya anak".


" pernikahan ku dan zahra terjadi karena kamu yang memintanya, yang seharusnya tidak akan pernah terjadi. memang aku bahagia dengan kehamilan Zahra tapi aku tidak ingin menyakiti mu Najwa. kamu juga yang memasukkan obat pada minumanku supaya aku bergairah, kamu mengunci kamar supaya hanya Zahra yang ada di depanku dan terpaksa aku meniduri nya tanpa adanya cinta. Hatiku rasanya tersayat ketika aku melihat Zahra menangis saat kami melakukan penyatuan, aku merusak masa depannya yang seharusnya ia masih bersenang-senang menikmati masa remajanya". Najwa terdiam apa yang Faras katakan memnag benar adanya.


" mas sudah mencintai Zahra".


" pertanyaan konyol apa Najwa jelas aku sangat mencintai mu, aku tidak tau. yang aku tau aku menyayangi nya apalagi sekarang ia mengandung darah dagingku atas perbuatan ku karenamu".


" mencoba lah mencintai Zahra mas ia masa depan mu".


" masa depan ku adalah kalian semua"


" jika Najwa pergi...."


" husst.. jangan katakan hal itu tidak ada yang akan pergi, berjuang lah demi kami untuk anak kita" Faras meletakkan telunjuknya di bibir Najwa.


Faras kemudian melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah karena najwa butuh istirahat seusai kemoterapi.

__ADS_1


Umi melihat Najwa jalan di papah oleh Faras, umi langsung menghampiri nya ia khawatir terjadi sesuatu dengan menantunya.


" ada apa dengan Najwa Faras..." tanya umi khawatir.


" tidak apa-apa umi Najwa tidak enak badan saja" ucap Najwa sembari tersenyum. kemudian umi membantu Najwa untuk naik ke atas.


" apa yang kamu rasakan nak, kemarin kamu izin ikut dengan Jihan kan" tanya umi heran.


" iya umi Najwa ikut dengan Jihan, tidak apa-apa umi Najwa hanya butuh istirahat sebentar" kembali Najwa yang menyahut ia tidak memberikan kesempatan untuk Faras berbicara kepada uminya.


Umi menarik selimut menutupi Najwa hingga dada, umi khawatir dengan menantunya.


" umi buatkan sup ya"


" Najwa tadi sudah makan umi nanti siang saja Najwa mau istirahat".


" ya sudah kamu istirahat supaya pulih kesehatan mu jangan sakit-sakit lagi, umi tinggal ke bawah".


" iya umi". umi mengecup kening menantunya penuh kasih sayang.


" mas di mana Zahra, apa dia ke kampus". tanya Najwa kepada fars, Faras sedang melepas kaos kaki Najwa.


" Zahra semalam minta ke rumah orang tua nya, ia menginap di sana".


" jemput Zahra mas"


" ya nanti aku jemput kamu istirahat lah". ucap Najwa.


" ia sedang ke kampus barusan izin mengirim pesan sama mas".


" jangan biarkan Zahra pergi sendirian mas, mas harus jemput Zahra". Najwa masih mengingat Zahra ia khawatir dengan madunya apalagi Zahra dengan perut besarnya.

__ADS_1


" iya sayang sebentar mas bebersih dulu". Faras kemudian menyahut handuk ia akan mandi sejak kemarin tak mandi.


Di kampus Zahra selalu bersama dengan Laila temannya, hanya Laila yang mengerti posisi Zahra keadaan Zahra. kritikan dan tuduhan pedas yang menimpa Zahra di kampus Laila yang menyelesaikan nya, Zahra tidak menjawab jika ada yang mengolok-olok nya. ia di katakan simpanan om-om, pelakor dan banyak lagi tuduhan itu untuk Zahra. apalagi sekarang dengan perut besarnya. hanya Laila yang mendukung Zahra karena ia tau Zahra itu anak yang sangat baik, kehamilannya bukanlah di luar nikah atau ia menjadi wanita simpanan tapi murni adanya pernikahan yang suci.


Faras menjemput Zahra atas permintaan Najwa, sebenarnya bisa saja sopir yang menjemput tapi tak di biarkan oleh Najwa ia khawatir dengan Zahra. Faras masuk ke kampus mencari sosok Zahra, ia memang sengaja tidak memberitahu Zahra. Faras ingin melihat Zahra di kampus siapa teman-temannya meskipun Faras percaya dengan Zahra hanya ingin tau teman dekat Zahra. selama ini Faras sibuk dengan pekerjaannya kini ia tak ingin hal seperti Najwa terulang, Faras tidak tau sebenarnya kondisi istri nya.


Zahra sedang bersama Laila duduk di kantin, seperti biasa Zahra menemani Laila. Seisi kampus membicarakan seorang Faras laki-laki tampan yang terlihat berwibawa, bulu-bulu yang tumbuh di rahangnya menambah kedewasaan nya.


" cowok tampan ca siapa itu". ucap lia teman kampus mereka yang kagum melihat sosok Faras ia juga salah satu yang pernah membuli Zahra karena hamil.


" wah gagah sekali, ya ampun cari siapa dia ". bisik-bisik para mahasiswa terdengar namun Zahra tak pernah merespon itu menurutnya biasa saja, teman di kampus nya sering begitu.


Laila melihat sosok Faras yang berjalan menghampiri Zahra, tapi Zahra sedang asyik membaca buku ia menunggu jemputan sopir rumah abinya Faras.


" Zahra itu suamimu kan" Laila menggoyangkan tubuh zahra, seketika Zahra terkesiap seperti tak percaya suaminya menghampirinya. bahkan semua pasang mata melihat sosok Faras yang berwibawa, gagah dan sangat tampan.


" mas Faras ke sini, mba Najwa..." Zahra Salim seperti biasa Faras mencium kepala zahra, meleleh setiap orang yang memandangnya tak percaya jika itu adalah suami Zahra.


" Najwa yang memintaku menjemput mu, sudah selesai belum" Faras mengusap kepala Zahra seperti biasa. Laila tahan napas melihat suami Zahra bahkan menelan ludahnya, sangat tampan dengan kemeja yang di gulung lengan tangannya.


" mas ini sahabat ku Laila" Faras menangkupkan tangannya di dada.


" Laila"


" terima kasih sudah menjaga Istriku".


" sama-sama pak kami berteman kami saling menjaga". Zahra tersenyum senang.


" Laila maaf aku pulang dulu ya"


" iya Zahra hati-hati" Faras tau setiap mata di kampus itu melihatnya ia langsung menarik tangan Zahra untuk di genggam menuju parkiran, Zahra mendongak ke arah Faras sebenarnya ia malu karena di lihat semua orang. namun Faras dengan enjoy berjalan dengan bergandengan tangan seakan menekankan bahwa Zahra miliknya dan dirinya milik Zahra. Bisik-bisik di kampus masih terdengar tak percaya dengan apa yang mereka lihat, Zahra sosok mahasiswi yang sederhana.

__ADS_1


___


bersambung


__ADS_2