Rahim Untuk Suamiku

Rahim Untuk Suamiku
bekal


__ADS_3

Faras memeluk Zahra lebih erat ia terus mengusap punggung Zahra dan mencium puncak kepala Zahra agar Zahra tenang. Suara petir sudah tidak ada lagi dan hujan pun sudah mereda. Zahra melerai pelukannya dari Faras ia mengingat saat ini seharusnya Faras berada di kamarnya Najwa. Zahra saja sangat ketakutan bagaimana dengan Najwa.


" mas kenapa ke sini, mba Najwa sendirian mas, pasti dia takut seperti Zahra". Faras kembali menarik Zahra ke pelukannya.


" Najwa itu wanita yang kuat ia tidak takut dengan petir, Najwa yang menyuruh ku dtang ke sini". Faras menyelipkan anak rambut Zahra yang megahalangi matanya.


" hujannya sudah reda mas, tak ada petir lagi sebaiknya mas Faras kembali ke kamar mba Najwa". Faras tersenyum ia mengingat kedua istri nya begitu perhatian, Najwa dan Zahra berusaha membuat Faras untuk adil.


" tidurlah Zahra, aku akan kembali ke kamar Najwa jika kamu sudah tertidur pulas. Najwa tak akan membiarkan mu ketakutan lagi". zahra mengangguk kemudian ia memposisikan tidurnya agar nyaman. Faras memeluk Zahra mengusap perutnya ia bersolawat.


Najwa belum bisa memejamkan mata ia mengingat Faras suaminya, hujan sudah reda tapi Faras belum kembali ke kamar Najwa. Najwa berfikir jika ia tak boleh egois, semua terjadi karena dirinya. Pukul 11 malam faras kembali ke kamar Najwa setelah ia melihat Zahra benar-benar tertidur pulas. namun mata Najwa masih terjaga ia mengulang-ulang hafalannya karena belum bbisa tertidur.


" belum tidur sayang". Faras masuk ke dalam selimut Najwa mencari kenyamanan malam itu begitu dingin.


" belum mas, Najwa masih murajaah". ucap Najwa ia memeluk suaminya mencari posisi ternyaman.


" habis perjalanan panjang tidurlah sayang kamu pasti lelah". keduanya tertidur pulas hingga pagi


Najwa dan Faras turun untuk sarapan di lihatnya Zahra sedang menyiapkan sarapan. Senyum merekah pada bibir Zahra.


" Zahra kenapa kamu yang sibuk mengerjakan nya biarkan bibik saja" Zahra tersenyum.


" bibik sudah larang non tapi non Zahra kekeh mau masak , non Zahra yang masak pagi ini". ucap bibik


" ya ampun Zahra jangan terlalu di forsir ingat kandungan mu". ucap Najwa ia lalu membantu Najwa.


" ngga apa-apa mba, Zahra bosan hanya masak sedikit saja." Najwa mnghela nafas ia takut terjadi apa-apa dengan kandungan Zahra.


" Yang penting kamu jangan terlalu lelah Zahra, kasian janinmu setelahnya istirahat lah. "


" iya mas hari ini memang Zahra tak ada jam di kampus"


" setiap mas Faras makan masakan mu liat tuh zahra lahapnya". ucap Najwa Zahra terkekeh mereka berdua menertawakan suaminya.

__ADS_1


" kenapa kalian tertawa" Faras bingung ia melihat dirinya mengusap wajahnya kali aja ada nasi yang tertinggal.


" kenyangin mas awas nanti ngantuk di kantor". kata Zahra.


" tak apa tidur kan CEO, bebas". Najwa terkekeh.


" kalian ini menertawakan suami dosa Lo". Faras kembali melahap makanannya.


" mau di bawakan bekal mas kebetulan Zahra masak agak banyak". ucap Zahra, memang ia memasak makanan kesukaan suaminya.


" iya boleh biar mas ngirit ". Najwa dan Zahra terkekeh kembali'.


" ngirit, uangmu tak akan habis mas jika hanya makan di warung"


" ya mas mau ngirit, biar ngga jajan. uang mas habis untuk jajan kalian berdua".


Najwa dan Zahra di rumah mereka tak pergi ke manapun. Faras pamit untuk berangkat bekerja seperti biasanya keduanya Salim dan Faras mengecup kepala kedua istri nya. pemandangan yang sangat indah.


" mba maunya apa". tanya balik Zahra.


" laki-laki Alhamdulillah perempuan juga mau, apapun mba mau. kalau kamu".


" sama mba, Zahra apapun mau". mereka tersenyum.


" Zahra kamu sudah mencintai mas Faras". tanya Najwa namun Zahra tak ingin menyakiti hati Najwa, mungkin memang Zahra sudah jatuh cinta dengan Faras apalagi ada benih Faras dalam rahimnya.


" Zahra itu ngga ngerti soal cinta mba, yang jelas Zahra itu nyaman dengan kalian. Kalian semua baik sama Zahra, Zahra di sini di perlakukan dengan sangat baik. terimakasih mba".


" mba liat sepertinya kalian sudah saling mencintai". Zahra mendongakkan kepalanya melihat ke arah Najwa.


" cinta itu kita merasa nyaman dengan seseorang kita rindu dan cinta itu pengorbanan".


" pengorbanan apa maksud nya mba". Zahra ingin tau penjelasan.

__ADS_1


" iya kita akan memberikan kepada yang orang kita cintai apapun, berkorban untuk nya agar ia bahagia".


" seperti mba Najwa yang berkorban untuk mas Faras". Najwa terhenyak, tapi memang betul apa yang di katakan Zahra, demi cintanya terhadap dengan suaminya hingga ia rela mencarikan rahim untuk suaminya.


" kalau mba itu beda Zahra, itu untuk mba juga. mba Najwa juga ingin punya anak tapi Allah tidak mengizinkan nya jadinya agar tetap keturunan itu bergaris pada mas Faras mba najwa memilihmu untuk mas Faras". Zahra tersenyum mendengar penuturan Najwa.


Siang hari Faras ingin menelepon istri nya sedangkan keduanya berada di rumah, karena kebiasaan akhirnya Faras tetap menelepon Najwa terlebih dahulu.


" assalamu'alaikum mas, sudah makan apa belum".


" wa'alaikumsalam ini baru di buka bekalnya, sayang sudah makan".


" belum sebentar lagi tunggu Zahra". Zahra turun ia baru selesai shalat zuhur.


" Zahra sini mas Faras lagi telepon, kita makan bareng kalau gitu". mereka makan bersama meski Faras berada di kantor.


Bulan demi bulan Najwa lewati, ia selalu izin menemani Jihan ke rumah neneknya. Jihan memang menjenguk neneknya tapi mereka tidak menginap langsung ke rumah sakit untuk kemoterapi. Saat ini Faras belum curiga karena ia sibuk dengan urusan Zahra. Jihan memang sahabat Najwa sudah sepantasnya Najwa menemani Jihan setiap kali Najwa pergi.


kehamilan zahraa sudah berumur tujuh bulan menginjak ke delapan, dan Najwa sudah kemoterapi hingga empat kali. Perubahannya adalah Najwa semakin nampak kurus kini Faras mulai aneh melihat istrinya. Setiap di tanya Najwa mengatakan jika ia sednag diet.


" sayang tak usah diet kenapa, kamu gemuk mas juga ngga masalah tapi kalau kurus begini nanti di kira kamu tak mas kasih makan". ucap Faras ia membelai rambut Najwa, namun Faras terkejut rambut Najwa mulai rontok di tangannya bahkan tidak sedikit. Faras hanya terdiam tidak mengatakan nya lada Najwa.


" Najwa kepengen langsing mas supaya pakai baju apapun cukup".


" bagi mas seperti apapun dirimu mas sudah cinta, menerima apa adanya dirimu sayang. cukup sampai di sini dietnya ya kalau kurus nanti tak hangat mas peluknya." Najwa terkekeh mengingat jika ia gemuk seperti apa.


" mas bulan depan Najwa mau ikut Jihan lagi ya,".


" sayang sudah empat kali kamu ikut Jihan, kali ini tidak usah ya". Najwa ingin membaut alasan bagaimana jika ia tidak berangkat kemo yang beberapa bulan pasti akan gagal dan mengulang dari awal lagi.


___


bersambung

__ADS_1


__ADS_2