Rahim Untuk Suamiku

Rahim Untuk Suamiku
Rahim Untuk Suamiku


__ADS_3

Najwa berusaha bersikap biasa saja setelah apa yang ia ketahui dalam dirinya, ada yang bilang penyakit itu memang bisa di sembuhkan namun keyakinan Najwa terkikis karena dirinya memikirkan sang suami. Suami yang sempurna baginya, tiada pernah menyakiti selalu membuatnya bahagia. hari ini Najwa kembali lagi ke madrasah setelah ujian semester ia akan memberikan nilai di berikan kepada wali kelas. Jika di luar rumah Najwa selalu pikirannya tentang suami, ia melamun tangan di letakkan di dagu sembari tatapannya kosong.


" Bu Najwa ..." panggil Aira guru kelas 3 madrasah.


" Bu Najwa..." kemudian ia menggoyangkan tangan di depan Najwa, tetap Najwa tak merespon. lalu Bu Aira menggoyang kan badan Najwa.


" iya Bu bagaimana". sahut Najwa kemudian.


" kenapa Bu Najwa melamun saya panggil dari tadi tidak menyahut".


" maaf Bu tidak apa-apa sedikit pikiran saja". ucap Najwa tersenyum.


" nilai punya Zahra ini betul dapat 100 murni". hanya Zahra yang punya nilai tinggi di banding yang lain. Pada semua mata pelajaran hingga bu Aira menanyakan ke semua guru pada mata pelajaran nya.


" iya Bu ini lembar anak-anaknya yang sudah saya nilai di bawa". Najwa menyodorkan lembar siswa itu, ternyata benar nilai Zahra sempurna.


" baik Bu terima kasih, semoga masalah ibu yang membuat ibu melamun cepat terselesaikan". ..


" aamiin, terima kasih banyak bu doanya". Aira meninggalkan Najwa yang belum beranjak dari bangku itu.


Najwa melihat Zahra melintas ia teringat dengan suaminya Faras, entahlah pikiran Najwa kenapa melihat Zahra seperti melihat masa depannya.


" astaghfirullah". gumam Najwa.


Faras akan menjemput Najwa seperti biasa di sore hari, kini Najwa pergi ke rumah jihan saja menggunakan motor yang biasa ia kenakan. Di jalan ia bertemu dengan Zahra dan ibunya yang sedang membawa singkong untuk dijual nya sore hari, menaruh singkong di boncengan sepeda nya Zahra dan ibu berjalan kaki menuntun sepeda.


" Zahra kamu jalan kaki". Najwa berhenti.


" eh ibu, iya bawa singkong tak bisa kita naiki". Zahra terkekeh.


" kamu bawa singkongnya biar ibu Najwa naik motor sama saya"


" aduh ibu jadi merepotkan". ucap zahra ia tak enak selalu saja Najwa menolongnya.

__ADS_1


" tidak apa-apa, kita satu arah saya mau ke rumahnya Jihan". akhirnya Najwa membawa ibunya Zahra di antar ke rumahnya.


Jihan sudah menunggu di rumahnya, sebelum ke rumah jihan Najwa mengabari terlebih dahulu. Jihan tau pasti ada yang sangat penting ingin di sampaikan oleh sahabatnya itu.


" Najwa berapa hari kamu tak kerumah ku rasanya kangen tak dengar nasehatmu". ucap Jihan ikut merebahkan di ranjang bersama Najwa.


" maaf mas Faras pergi jadi aku menggunakan kesempatan untuk ke dokter".


" kamu sudah periksa tentang dirimu". tanya Jihan langsung mengarah ke topik.


" iya sudah".


" terus bagaimana hasilnya Najwa". ia penasaran dengan wajah menuntut menatap Najwa.


" semuanya sudah jelas Jihan".


" apa maksudmu". Jihan makin penasaran dengan sahabat nya itu.


" aku mengidap penyakit kanker serviks". ucap Najwa kini satu sahabatnya yang tau selain dokter Zaskia.


" aku tidak bercanda Jihan ini benar". Jihan menganga lalu menutup mulutnya seolah ia tak percaya dengan yang di ucapkan najwa.


" ya Allah Najwa kenapa bisa begitu". Jihan kemudian duduk ingin penjelasan dari najwa.


" kemarin sewaktu mas Faras pergi aku memeriksa kan diriku di bantu oleh dokter Zaskia, dokter itu temannya mas Faras. kemaren aku mengambil hasil dari pemeriksaan ku, dan itu hasilnya aku mengidap kanker serviks". Najwa mengeluarkan hasil medis yang di tas. ia bawa untuk di beritahukan kepada sahabatnya itu. Jihan dengan seksama melihat hasilnya ia terkejut benar yang di bacanya, kanker serviks stadium 3.


" kamu sudah memberitahu suamimu". tanya Jihan.


" tolong rahasiakan ini kepada siapapun Jihan, hanya dokter Zaskia yang tau tentang ini".


" lalu apa yang akan kamu lakukan Najwa, ini hal yang serius kamu tak akan menghadapi nya sendirian." Jihan mencoba bicara kepada Najwa.


" tidak Jihan, mas Faras adalah laki-laki terbaik yang pernah aku temui. ia memberikan kebahagiaan nya untuk ku, aku tak ingin menyakiti nya. aku ingin memberikan kebahagiaan untuk nya".

__ADS_1


" apa maksudmu Najwa, kamu jangan gila". cercah Jihan.


" aku akan mencarikan Rahim Untuk Suamiku demi kebahagiaan nya"


" Najwa jangan berfikir yang kamu sendiri tidak akan sanggup melakukan nya". Jihan tak habis pikir sahabatnya akan melakukannya seperti itu, tak ada wanita manapun yang akan sanggup di duakan apalagi ia dalam keadaan sakit.


" aku sudha pikirkan sebelumnya Jihan, di sisa umur ku aku ingin memberi kebahagiaan untuk suamiku."


" Najwa..." Jihan justru malah menangis ia memeluk Najwa, sebenarnya Najwa juga ingin menangis dadanya terasa sesak.


" lalu kamu sudah memperoleh siapa yang akan kamu jadikan madumu" tanya Jihan penasaran dengan kegilaan sahabatnya itu.


" belum, aku ingin bukan wanita biasa ia punya keimanan yang setara dengan suamiku". Jihan memegang kepalanya sendiri ia bingug dengan apa yang di pikirkan sahabatnya itu.


" ya ampun Najwa jangan berfikir sampai ke situ, katakan saja penyakit mu pada Faras dan berobat lah supaya kamu sembuh itu akan lebih baik Najwa".


" Meskipun nanti aku sembuh aku tak akan bisa memberikan keturunan kepada mas faras Jihan, meskipun ia selalu mengatakan jika itu tak akan mengubah apapun pada dirinya tapi aku tak boleh egois aku ingin dia punya keturunan dari darah dagingnya" Jihan lalu memeluk Najwa, sungguh sahabatnya itu wanita yang luar biasa. Kebanyakan hal yang terjadi itu suami atau mertua yang menginginkan keturunan namun kini malah sang istri ingin membahagiakan suami dan mertuanya.


" apapun keputusan kamu semoga ini yang terbaik Najwa".


" insyaAlloh Jihan doakan yang terbaik untuk ku". Jihan mengangguk, ia pun tak bisa berbuat apa-apa cukup mendukung keputusan sahabatnya dan mendoakan yang terbaik.


Najwa kembali lagi ke rumah orang tua nya sebentar lagi suaminya akan menjemputnya. Ia mencoba selalu menjadi periang, memberikan senyuman termanis untuk suaminya. Faras seperti biasa ia tepat waktu menjemput istrinya.


" sayang aku tadi bertemu Zayn di kantor, ia ikut papa nya . anak itu lucu sekali, ia menanyakan mu katanya ingin bertemu". ucap Faras di dalam perjalanan.


" kapan kita menemuinya mas,, Najwa juga rindu dengan nya".


" tadi mas bilang nanti jika lari pagi lagi hari Ahad".


" wah pasti senang ya mba Zaskia punya Zayn yang tampan juga imut begitu" Faras diam ia lupa jika itu akan membuat Najwa teringat tentang sosok seorang anak.


" mas aku mau anak dari darah daging mas sendiri". Faras sontak memberhentikan mobilnya, untung saat itu sepi tak ada banyak kendaraan berlalu lintas.

__ADS_1


___


bersambung


__ADS_2