
Setelah sarapan mereka berbincang dihalaman belakang.
"Mama, Papa dan Kakak. Aku ingin memberikan sesuatu". Ujar Risya.
"Apa itu?". Tanya Raina.
Risya memberikan sesuatu.
"Ah undangan Wisuda? Selamat ya Risya, akhirnya Kamu diwisuda juga". Ujar Raina memeluk Risya.
"Selamat ya Sayang, Mama Papa bangga padamu". Ujar Papa.
"Risya, selamat ya. Kakak sangat bangga padamu. Akhirnya kuliah kedokteranmu selesai juga dengan baik". Ujar Rasya mencium kening Risya.
"Kapan Wisuda nya?". Tanya Mama
" 2 minggu lagi Mah, pokoknya kalian semua harus datang ya". Ujar Risya.
"Tentu sayang, kita pasti akan datang". Ujar Mama.
Ditempat lain, Ayesha telah siap dengan menggunakan pakaian Raisa.
"Wah ternyata size kita sama". Ujar Raisa gembira
"Iya. Terimakasih Raisa telah meminjamkan pakaianmu". Ujar Ayesha.
"Ah tidak perlu berterimakasih, lagipula kita akan menjadi saudara. Kita akan sering-sering sharing barang kan?". Ujar Raisa tersenyum.
"Baju ini cocok untukmu. Kamu bisa memilikinya. Tenang saja baju itu baru kok belum pernah Aku gunakan". Ujar Raisa.
"Ah tidak usah ini kan baru pertemuan pertama kita, Aku sudah merepotkanmu". Ujar Ayesha tidak enak.
"Ah anggap saja hadiah pertemuan kita. Terimalah Aku mohon". Ujar Raisa menggenggam tangan Ayesha.
"Terima saja, pakaian itu sangat cocok digunakan oleh mu daripada si nenek lampir". Ujar Rangga yang masuk kedalam kamar Raisa.
"Heh serangga, kalau masuk kamar orang ketuk pintu dulu". Gerutu Raisa.
"Ahhhh Kamu juga sering masuk ke kamar ku tanpa ketuk pintu". Ujar Rangga.
Rangga dan Raisa terus berdebat. Ayesha yang melihat sangat bingung apa yang mereka debate kan.
__ADS_1
"Sudah cukup, ayo kita kebawah untuk sarapan". Ujar Ayesha menghentikan pertengkaran Rangga dan Raisa.
Merekapun berhenti berdebate.
"Kalian pernah mencoba Pakistani breakfast tidak?". Tanya Ayesha.
Rangga dan Raisa serentak menggelengkan kepalanya.
"Mau coba? Aku akan membuatkannya". Ujar Ayesha.
"Wah calon istriku akan memasak untukku. Hari yang sangat indah". Ujar Rangga menggoda Ayesha.
"Alah dasar cowok bisanya gombal". Saut Raisa.
"Alah dasar jomblo bisanya gerutu". Balas Rangga.
Ya Tuhan, mereka berdebate lagi. Ujar Ayesha dalam hati menepuk dahinya sendiri.
"Enough! Hey saudara kembar yang manis, ayo kita kebawah". Ayesha menarik kedua nya untuk turun.
Mereka pun turun menuju dapur.
"Aku tidak tahu, Aku tidak pernah masuk dapur". Ujar Raisa.
"Ah dasar wanita jadi-jadian, tempat dimana tepung disimpan saja tidak tahu". Ujar Rangga.
"Eh serangga, Aku kan business woman mana faham sama beginian". Gerutu Raisa.
"Bi... Bibi". Raisa memanggil Bi Inem
"Ada apa non?". Tanya Bi Inem
"Bahan makanan disimpan dimana?". Tanya Raisa.
"Nona butuh apa?". Tanya bi Inem.
"Ayesha, apa yang Kamu butuhkan?". Tanya Raisa.
"Tepung dan mentega". Ujar Ayesha.
"Bi ambilkan Tepung dan mentega". Ujar Raisa.
__ADS_1
Bi Inem pun mengambil apa yang disuruh Raisa.
Setelah bahan ada, Ayesha mulai membuat Pakistani breakfast yaitu paratha.
Ayesha sangat serius membuat adonan. Rangga terus memandangi Ayesha.
"Awas matamu lepas itu". Ujar Raisa.
"Diam Kamu. Lihat tuh calon istriku. Sangat cantik saat memasak". Ujar Rangga yang terus memandangi Ayesha.
"Kamu beruntung dapat Ayesha. Tapi Ayesha seperti mendapat musibah akan menikah denganmu". Ujar Raisa.
"Heh nenek lampir, bisa tidak berbaik hati sedikit padaku? Jahat sekali mulutmu". Ujar Rangga kesal.
"Ah pria macam Kamu dikasih hati minta ampela". Ujar Raisa.
Astaga, bagaimana Om dan Tante menghadapi kedua anaknya ini ya? Tidak ada hentinya berdebat. Ujar Ayesha dalam hati menggelengkan kepalanya melihat tingkah mereka berdua.
Membutuhkan waktu setengah jam untu Ayesha membuat sarapan.
"Ta da sudah jadi". Ujar Ayesha.
Ia membuat 4 buah roti paratha, 3 mangkuk yoghurt dan 3 gelas Chai (Teh yang dicampur susu).
"Ayo dicoba". Ujar Ayesha.
"Apa ini namanya?". Tanya Raisa.
"Ini adalah roti paratha. Biasanya kita memakannya dengan yoghurt atau dhal. Dhal itu kacang yang kita masak kari. Sebenarnya masih banyak Pakistani breakfast lainnya, namun Aku memasak dengan bahan yang ada dirumah ini saja". Ujar Ayesha.
Mereka pun mencoba makanannya.
"Hemmm roti ini seperti tidak asing untukku. Seperti rasa roti maryam". Ujar Raisa.
"Betul. Mama sering membuat roti maryam. Cuma kalau roti maryam size small sedangkan paratha Size extra large". Ujar Rangga.
"Kalian suka?". Tanya Ayesha.
"Ya suka. Senang juga bisa mencoba makanan baru". Ujar Raisa.
Mereka pun sarapan dengan berbincang ringan pertanyaan-pertanyaan normal yang mereka tanyakan.
__ADS_1