
Ditempat lain Risya sudah menunggu Aldo datang.
selang 30 menit Aldo pun sampai. Ia keluar dari mobil Dan menghampiri Risya.
"Maaf ya telat. Diluar macet banget". Ujar Aldo.
" gak apa-apa santai aja". Ujar Risya.
Aldo membuka kan pintu untuk Risya.
Didalam mobil
"Jadi kita ke tempat rekreasi aja nih?". Tanya Aldo
" Iya habis nya bete dirumah gak ada orang". Ujar Risya bete.
"Kak Raina & kak Rasya kemana?". Tanya Aldo.
" honeymoon ke puncak". Ujar Risya.
Aldo hanya tertawa kecil.
"Ok hari ini Aku temani Kamu". Ujar Aldo berbangga.
" Baiklah ". Jawab Risya.
" bagaimana skripsi kamu?". Tanya Aldo.
"Sampai sekarang sih fine fine aja". Jawab Risya.
" oh bagus lah kalau gitu". Jawab Aldo.
__ADS_1
"Terus Kamu jadi mengambil spesialis jantung?". Tanya Risya. " perasaan setauku Papa Kamu polisi kan? Kok Kamu malah jadi dokter? ". Tanya Risya penasaran.
" ya sebenarnya sih dulu Aku juga ingin menjadi polisi seperti papa. Tapi Papa melarang". Ujar Aldo.
"Loh kenapa?". Risya makin penasaran.
" papa bilang, lebih baik cari impian lain karena jadi polisi sangat berbahaya".
Risya masih mendengar cerita Aldo dengan menopang dagunya dengan tangannya.
"Kata Papa kerja di kepolisian sangat berbahaya. Kita harus pintar dalam melihat situasi. Papa bilang dia melihat Aku sangat tidak cocok untuk menjadi seorang polisi. Terus papa bilang lebih baik Aku menjadi dokter. Pertama dokter bisa membantu orang lain, kedua bisa bantu Om Surya & kak Raina mengurus rumah sakit nya". Ujar Aldo.
" ooooo begitu". Ujar Risya
"Iya begitulah. Aku ambil spesialis jantung ya Karena dulu almarhumah Mama sakit jantung. Ya Mama pernah bilang kalau Aku mau menjadi seorang dokter ambil lah spesialis jantung. Kamu sembuhkan orang-orang yang sakit jantung seperti Mama. Ya jadi Aku ingin menjadi dokter spesialis jantung karena ingin selalu mengingat mama.". Ujar Aldo.
Risya hanya tersenyum mendengar alasan Aldo mengapa Ia menjadi seorang dokter.
"Entahlah Aku masih bingung". Jawab Risya.
" kenapa bingung?". Tanya Aldo
"Ya banyak pertimbangan sih. Antara bedah atau penyakit dalam". Jawab Risya.
" Smoga kami bisa mendapatkan yang terbaik ya". Ujar Aldo menggenggam tangan Risya
Risya terkejut dengan apa yang dilakukan Aldo.
"Maaf". Ujar Aldo melepas genggamannya.
Risya terlihat canggung.
__ADS_1
" Kamu mau lanjutkan kuliah dimana?". Tanya Risya melepas canggung
"Rencana sih di Australia di Universitas xxxx. Aku sudah mendapatkan beasiswa disana". Ujar Aldo
" oh ya ?? Hebat dong". Ujar Risya.
"Papa selalu bilang, jika Kamu sudah memutuskan sesuatu maka harus bertanggung jawab. Ya Aku sudah memutuskan untuk menjadi seorang dokter jadi aku harus bertanggung jawab belajar maksimal untuk menjadi seorang dokter yang baik". Ujar Aldo sambil memandang ke depan
Risya terlihat kagum dengan kehidupan Aldo. Ia merasakan debaran kencang di Dada nya.
Dadaku kenapa berdebat sekencang ini?. Ujar Risya dalam hati menyentuh dadanya.
" Kamu kenapa?". Tanya Aldo memandang sekilas Risya
"oh gak apa-apa". jawab Risya. " berapa lama lagi kita sampai?". Tanya Risya
"ya sekitar 30 menit lagi". jawab Aldo.
" oh OK". jawab Risya
"bisa kita ke minimarket dulu? Aku ingin membeli kopi Dan roti". ujar Aldo
" loh memang Kamu belum sarapan?". Tanya Risya
Aldo hanya menggelengkan kepalanya.
"kenapa gak bilang? kan tadi bisa makan dirumah ku dulu". jawab Risya sedikit marah.
" tenang aja, aku sudah biasa telat sarapan. hahahahahaha ". jawab Aldo tertawa
" yasudah kita berhenti dulu untuk mencari makanan untukmu". jawab Risya.
__ADS_1
perhatian sekali kamu. ujar Aldo dalam hati memandang Risya