
"Aaaahhhhh kenyang juga". Ujar Raina menyentuh perutnya.
" Alhamdulillah ". Ujar Rasya.
Raina hanya cekikikan.
" mau kemana lagi?". Tanya Raina
Rasya menarik tangan Raina berjalan ke suatu tempat.
Sampai di satu ruko, Rasya mengajak Raina masuk.
"Pilih baju yang menurutmu bagus". Ujar Rasya
"Mau ngapain Sya?". Tanya Raina bingung
" kita mau jadi Abang None". Ujar Rasya tersenyum.
Raina sungguh excited.
Setelah mereka siap, kameramen momotret mereka berdua.
Mereka sangat menikmati moment ini.
"kamu sangat cantik menggunakan hijab seperti ini". Rasya menatap Raina dengan mata yang berbinar.
Raina tersipu malu.
Selesai menggunakan baju khas betawi, mereka berjalan menuju depan museum untuk menyewa sepeda.
Mereka sangat bahagia terutama Raina. Ia bisa melupakan semua masalah di hidupnya.
Rasya mengenjot kayuh sepeda membuat Raina tertawa bahagia.
"Ayo yang kenceng lagi". Ujar Raina tertawa.
" capek". Ujar Rasya berhenti dengn nafas yang cepat tak tentu.
"Makanya olahraga". Raina turun dari sepeda.
Rasya turun dari sepeda Dan memberikan pada pemilik sepeda.
" kita pulang yuk ini udah sore". Ujar Rasya melihat jam di tangannya.
"Tapi Aku masih ingin bersamamu". Jawab Raina menggenggam tangan Rasya.
" kapanpun Kamu mau, kita bisa pergi lagi". Ujar Rasya mengusap pipi Raina.
"Yaudah". Ujar Raina cemberut.
" Aku janji, akan memberikan surprised lagi untuk kamu. Tapi sekarang kita pulang ya". Rasya membujuk.
"Yaudah kita pulang". Jawab Raina masih cemberut
__ADS_1
" Senyumnya mana". Rasya menggoda Raina
Raina tersenyum lebar.
"Ma Shaa Allah cantiknyaaa calon istriku". Rasya mencium keninh Raina.
" ayo kita pulang". Rasya menarik tangan Raina
Merekapun pulang.
Perjalanan cukup jauh Dari pusat kota ke arah Selatan. Raina terlihat sangat lelah sampai Ia ingin tertidur.
"Rain, jangan tidur nanti Kamu jatuh". Rasya menggerakkan bahunya karena Raina terlelap di punggung Rasya.
Rasya berhenti.
" Rain, Rain bangun". Rasya mencoba membangunkan Raina.
Raina terbangun.
"Kok berhenti?". Tanya Raina
" Kamu naik taksi aja ya? Lihat Kamu sangat mengantuk. Kamu ketiduran Aku Takut Kamu jatuh". Jawab Rasya cemas.
"Nggak aku mau pulang denganmu mengambil mobil di rumah sakit". Jawab Raina.
" Aku antar pulang aja ya". Ujar Rasya
Rasya melajukan lagi motornya.
Raina bingung karena Rasya tidak berhenti di rumah sakit.
" Sya kok dilewat". Tanya Raina bingung
"Kan Aku udah bilang Aku mau antar Kamu pulang. Udah Kamu diem aja duduk manis. Jawab Rasya
Raina begitu cemas. Dia Takut papa menghajar lagi Rasya.
Sampai di depan gerbang rumah.
" jangan masuk ya". Ujar Raina
"Loh Aku mau ketemu orangtua mu". Jawab Rasya.
Rasya berjalan kedalam Rumah.
" Sya tunggu jangan masuk". Raina menarik tangan Rasya.
Rasya tak menggubris Raina.
"Assalamualaikum". Rasya memberi salam
Mama Rasya membuka pintu.
__ADS_1
" Raina, Rasya. Aduh Rasya kenapa kamu kesini? Papa Raina pasti marah. Kamu pulang ya". Ujar Mama Raina khawatir.
"Saya mau antar pulang Raina Tante". Ujar Rasya santai
" iya sekarang kita sudah sampai. Kamu pulang ya". Raina mendorong pelan Rasya sambil melihat kedalam Rumah.
"Siapa yang datang? Raina sudah pulang?". Tanya papa Raina yang berjalan menghampiri pintu.
"Aduh Papa". Raina panik
Papa Raina membuka pintu. Melihat Rasya kembali papa Raina memukul Rasya.
" masih berani Kamu datang kemari". Teriak papa Raina
"Pah udah dong". Mama Raina mencoba menghalangi suaminya.
" Pah apa salah Rasya, dia hanya ingin mengantarku pulang ". Ujar Raina menangis melihat Rasya jatuh ke lantai.
" gara-gara dia Kamu tidak jadi pergi dengan Nico kan tadi siang". Ujar Papa Raina emosi.
"Aku yang menolaknya bukan salah Rasya". Ujar Raina
" Rain, sabar". Ujar Rasya.
"Sabar gimana sih liat wajah kamu". Raina menangis
" sekarang Kamu pergi dari rumah ini". Papa Raina mengusir Rasya
Raina berdiri.
"Pah, kenapa sih Papa tidak pernah Bahagia atas kebahagiaan ku?? Apa salahku pada papa?? Aku gak mau nikah sama Nico". Ujar Raina emosi
Plak!!! Papa Raina menampar Raina.
" Papa ". Mama Raina menghampiri Raina.
" Om jangan tampar Raina, Om bisa menghajar Saya, saya yang salah". ujar Rasya berdiri.
Papa raina pergi. Mama Raina menyusul.
"Kamu gak apa-apa kan?". Rasya menyentuh pipi Raina yang terkena tamparan.
" Maafkan Aku". ujar Rasya
"Aku kan udah bilang jangan bertemu Papa. lihat sekarang". Raina menangis menyentuh pipi Rasya.
" Sakit tamparan ini tak sebanding saat Aku melihat Papa menghajarmu". Raina menangis.
"Rain, jangan menangis. susah payah aku membahagiakanmu hari ini. jangan rubah perasaanmu". Rasya mengusap air mata Raina. " Luka ini tak sebanding dengan kebahagiaan mu. Aku mohon jangan sedih. anggap aja ini hadiah dari Papamu atas kebahagiaan yang aku berikan hari ini untuk putrinya". Rasya tersenyum.
"Sudah jangan menangis". Rasya memeluk Raina.
" Sampai kapan kita harus begini???". Raina menangis dalam pelukan Rasya.
__ADS_1