
"Kamu dari mana saja sayang, kok baru pulang?" Tanyanya Noah yang melihat kedatangan istrinya itu.
Pelangi Arunnika Rahmany hanya mengangkat cerek yang berisi dengan air mineral yang baru saja diambilnya dari dalam lemari pendingin di dalam dapurnya.
"Ohh gitu yah, aku pikir kamu ketiduran di dalam dapur lagi, padahal baru saja Abang ingin mencarimu di bawah," ujarnya Noah yang kembali tersenyum penuh arti sembari berjalan ke arah Pelangi yang terbengong mengingat kejadian yang baru beberapa menit yang lalu.
Noah langsung memeluk tubuhnya Pelangi dari arah belakang ketika telah menaruh cerek dan gelas air di atas meja nakas ranjangnya. Noah meletakkan dagunya di pundaknya Pelangi yang sudah tidak memakai hijab yang baru saja terbuka itu.
"Sayang, Abang pengen itu lagi, boleh enggak?" Tanyanya Noah yang tangannya sudah menelusuk ke sana kemari mencari tempat yang beberapa hari belakangan ini menjadi tempat terfavoritnya itu.
Sekejur tubuhnya Pelangi merinding hingga kegelian merasakan senn tuuu haaannn dari jemari tangannya Noah yang lentik itu seperti perempuan saja.
"Abang pengen mencoba gaya lain," ujarnya lagi Noah yang terlebih dahulu meminta ijin pada istrinya itu.
Pelangi menggigit kecil bibirnya itu, seraya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan permintaan dari suaminya itu. Noah sangat bahagia karena, istrinya itu sangat penurut dan paling ia sukai adalah istrinya cepat beradaptasi dengan kebiasaan dan apa yang dilakukan oleh Noah.
Sedangkan di tempat lain tepatnya di dalam sebuah hotel… Raut wajahnya Najwa seketika pucat pasi, bayangan perkataan dari dokter kembali terlintas di benaknya itu.
"Dokter Najwa anda divonis tidak bisa memiliki keturunan,"
Air matanya seketika terjatuh membasahi pipinya, ia sangat sedih, terpukul dan hancur berkeping-keping remuk redam hatinya yang mengetahui jika kondisi kesehatannya seperti itu.
Najwa mengangkat kepalanya dan memberanikan dirinya untuk menatap ke arah Bu Sandra Dewi Ali.
__ADS_1
"Maaf sebaiknya Anda mengurungkan niatnya untuk meminangku sebelum ibu menyesal punya menantu seperti saya, saya pamit assalamualaikum," Najwa berlari sambil tak lupa mengambil handbagnya, tapi melupakan mengambil hpnya.
Bu Sandra langsung berteriak kencang memerintahkan kepada anak sulungnya itu untuk segera mengejar Najwa. Veri dengan sigap segera berlari mengejar Najwa perempuan yang sudah membuatnya hampir gila itu.
"Najwa stop! Tolong tunggu aku, aku ingin bicara empat mata denganmu!" Teriak Veri.
Najwa segera menyeka air matanya yang mewakili perasaannya yang begitu sedih dan kecewa dengan garis tangannya sendiri.
"Tolong jangan ikuti aku, berhenti jangan mengejarku lagi kita ini tidak punya hubungan apapun!" Kesalnya Najwa sambil melototkan matanya saking sedihnya melihat Veri yang terus mengejarnya.
"Hati-hati di depan sana ada kolam, please dengarkan aku!" jeritnya Veri yang terus berlari mengejar Najwa.
Karena terlalu berjalan tergesa-gesa dengan sesekali berlari hingga ia tidak melihat situasi jalan yang dilaluinya itu. Hingga kakinya terpeleset dan jatuh tercebur ke dalam kolam renang yang memang jalan yang dilaluinya itu di kelilingi oleh kolam renang.
Veri yang melihat kejadian itu langsung melompat secepatnya tanpa basa-basi. Sedangkan adiknya Veri dan bundanya sudah balik ke rumahnya.
"Najwa bertahanlah Mas akan menolongmu," jerit Veri yang mempercepat renangnya itu.
"To-long a-ku," gagapnya Najwa.
Veri membawa Najwa naik ke atas pinggiran kolam. Najwa terbatuk-batuk ketika dibaringkan ke atas kursi panjang yang sering dipakai oleh tamu hotel untuk berjemur.
"Kamu baik-baik saja kan?" Tanyanya Veri.
__ADS_1
Najwa menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan pertanyaan dari mulutnya Veri. Najwa seger memeluk tubuhnya Veri dengan erat.
"Aku kedinginan," ucapnya Najwa yang sekujur tubuhnya bergetar dan gemetaran itu seraya menggigil menahan rasa dingin.
Vero segera menggendong tubuhnya Najwa menuju mobilnya dengan berjalan tergesa-gesa.
"Bertahanlah, aku akan menghangatkan tubuhmu setelah kita sampai di apartemenku," imbuhnya Veri seraya memakaikan seatbelt ke tubuhnya Najwa.
Setelah terpasang sabuk pengamannya ditubuhnya Najwa, mereka segera pergi dari sekitar hotel tersebut. Dengan kecepatan penuh mobil meninggalkan area parkiran hotel menuju salah satu apartemen yang cukup mewah dibilangan Kuningan Jakarta Selatan.
Verie menggendong tubuhnya Najwa kembali ke dalam lift hingga ke unit apartemennya. Veri membaringkan tubuhnya Najwa ke atas ranjang king size-nya itu. Najwa segera menarik tangannya Veri hendak berdiri dari atas ranjang hingga tubuhnya Veri menerpa tubuhnya Najwa.
"Pak Veri to-long hangatkan tubuhku ini," racaunya Najwa yang langsung meee luuu maat bibirnya Verie sedang kedua tangannya melingkar di punggungnya Veri.
Veri yang diperlakukan seperti itu segera memenuhi permintaan dari Najwa dan membalas pagutan bibirnya Najwa. Hingga deee saaa haan meluncur dari bibir keduanya. Mereka saling bertukar saliva masing-masing hingga nafas keduanya tercekat di pusat pangkal tenggorokannya.
"Kamu tahan sedikit yah, mungkin agak sakit," tuturnya Veri.
Veri segera melakukan ekspansi di atas gundukan Padang ilalang yang cukup lebat ditumbuhi rerumputan yang cukup hijau. Dengan puncak gunung Himalaya melewati lembah yang cukup terjal hingga ke daerah dasar terdalam lembah yang sudah dialiri sedikit air dari puncak.
Bu Sandra Dewi Ali segera pulang dari hotel tersebut. Walaupun calon anak menantunya itu menolak untuk menikah dengan putranya dengan alasan jika dirinya tidak bisa memiliki seorang keturunan.
Veri Ahmed Ali Miller dipusingkan oleh rencana dan niat bundanya itu. Bu Sandra berniat apapun yang terjadi, dia akan melamar Najwa Ayuna Ariesta sang dokter spesialis itu langsung menghadap kedua orang tuanya Najwa yaitu Pak Rizaldi Umar Lubis dengan istrinya Bu Annisa Haerani Gottardo.
__ADS_1
Dua pasangan anak manusia yang berbeda status itu sama-sama saling memberikan keee puuu aaa saann dengan pasangannya masing-masing di tempat yang berbeda. Godaan pihak ketiga kadang kala lebih kuat dan tangguh dari pada pertahanan akal sehat sendiri.