Rindu Bintang Kejora

Rindu Bintang Kejora
Bab. 39


__ADS_3

Dokter Annisa memberikan beberapa resep obat dan vitamin yang paling bagus untuk Rindu konsumsi selama proses kehamilannya. Sebelum mereka pulang, Erka memberhentikan mesin mobilnya di depan salah satu apotek terlengkap yang ada di Ibu kota Jakarta.


Setelah mendapatkan apa yang dicarinya, mereka secepatnya pulang karena sudah mau masuk waktu shalat magrib juga.


Edi sangat bahagia melihat kakak sepupunya itu, karena hanya Erka yang selama ini selalu menjadi sahabat sekaligus teman curhatnya tapi berhubungan dengan masalah menghamili anak orang sama sekali tidak mengetahui hal dan kejadian tersebut.


Edi Prayogo yang mendengar teriakannya dari Abang sepupunya itu segera menghentikan langkahnya lalu berjalan ke arah Erka.


Edi memeluk tubuhnya Ersam dengan eratnya, "assalamualaikum Abang laam tidak jumpa, apa ini kakak ipar?"


Tanyanya Edi yang berusaha mengalihkannya pembicaraan mereka.


"Alhamdulillah kabar Abang baik, betul sekali perempuan cantik ini adalah kakak iparmu, kalau kamu gimana?" Tanyanya balik Erka.


"Syukur Alhamdulillah baik hanya saja anaknya orang yang tidak dalam keadaan yang baik," ucapnya Edi.


Erka mengernyitkan alisnya mendengar perkataan dari Edi itu," maksudnya?" Tanyanya Erka Mandala Jauhari penuh selidik.


"Abang sepertinya bicaranya di sana saja di sofa karena aku sepertinya sudah capek berdiri seperti ini terus sejak tadi," candanya Rindu yang memang sudah kelelahan karena beraktifitas hampir seharian di luar rumah.


"Kamu masuklah beristirahat di kamar dan jangan lupa vitamin sama obatnya kamu minum," pintanya Erka ketika Rindu berpamitan kepada kedua pria dewasa tersebut.

__ADS_1


"Baik suamiku,"


Bu Halimah segera berjalan ke arah keduanya setelah mendengar dan mengetahui jika anak sulungnya sudah kembali dari luar.


"Kejora sayang cucunya nenek, sebaiknya kalian jangan gangguin aunty kalian kasihan aunty Paramitha lagi hamil kasihan Dede bayi sepertinya butuh istirahat," ujarnya Bu Halimah yang berdiri di belakang ketiga cucu dan istri dari keponakannya itu.


"Oke Nenek lagian kami juga mau belajar sambil nungguin waktu shalat magrib, kalau adek Senja gimana apa mau ikut bareng kami untuk kerjakan pekerjaan rumahnya atau gimana nih?" Tanyanya Bintang.


Senja berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan dari kakak sepupunya itu yang sudah dia anggap kakak kandungnya.


"Saya ikut kakak saja, kasihan Aunty Mitha biarkan dia istirahat bersama Dede dalam perutnya," timpalnya Senja Alana Esiya.


"Cucu nenek emang semuanya pintar, cantik dan baik hati yang penuh pengertian,"


Erka duduk di atas sofa buludru berwarna hitam itu lalu merebahkan sedikit punggungnya ke sandaran kursi. Sedangkan Edi dan Paramitha saling duduk bersampingan satu sama lainnya dan menundukkan kepalanya saking takut dan malunya dengan kesalahan besar yang sudah mereka perbuat.


"Apa ini alasan kamu datang?'" tanyanya Erka tanpa membuka kedua matanya karena sudah yakin jika adiknya itu melakukan kesalahan yang bukan main-main sambil memijit tengkuk pelipisnya itu.


Erka sudah mengetahui sedikit seluk beluk tradisi dan adat istiadat di daerah Makassar khusunya suku Makassar asli. Erka mendapatkan informasi itu ketika kapalnya beberapa bulan berlayar di sekitar pulau Sulawesi beberapa tahun silam.


"Sudah berapa bulan kandungmu Dek?" Tanyanya Erka dengan penuh keramahan.

__ADS_1


"Sudah jalan berapa bulan perutmu?"


"Alhamdulillah sudah jalan lima bulan Abang," jawabnya Paramitha.


"Om sama Tante di Sumatera harus tahu agar masalah kalian cepat kelar walaupun keluarganya Mitha di Makassar tidak akan mudah menerima dengan mudah hal yang cukup mencoreng nama baik mereka, jadi kalian harus bersabar dan perbanyak berdoa agar Allah SWT senantiasa meluluhkan hatinya kedua mertuamu, mama setelah shalat magrib hubungi nomor hpnya Paman Salam dan juga Tante Risma mereka harus tahu kalau mereka akan segera memiliki cucu," terangnya Erka kemudian berdiri dari duduknya sebelum pergi ia tersenyum ke arahnya Mitha lalu menepuk pundaknya Edi.


"Kamu sudah hampir jadi bapak jadi dewasa dan bijaksana lah dalam bertindak agar kelak kamu tidak akan perlu menyesali keputusanmu hari ini,"


"Siap Abang, makasih banyak,"


Erka berjalan tergesa-gesa ke arah kamarnya yang berada di lantai dua karena sudah khawatir dengan kondisi istrinya itu.


"Jangan-jangan istriku ketiduran lagi padahal sudah magrib," gumam Erka.


"Alhamdulillah Abang tidak seseram yang aku bayangkan, padahal katanya orang itu Abang Erka cukup tegas dan agak kejam bagi siapa saja yang melanggar aturannya," cicitnya Paramitha yang bisa bernafas lega.


Bu Halimah tanpa sengaja mendengar cicitan Mitha," memang benar dulu puteraku seperti itu orangnya tegas dan tidak pandang bulu bagi siapa saja yang melanggar tapi setelah mengenal dan menikahi istrinya itu semuanya berubah 180 derajat jadi suami yang sangat patuh dan mencintai istri dan anaknya,"tampiknya Bu Halimah.


Perbincangan mereka malam itu terhenti karena adzan magrib berkumandang, mereka segera bubar dan masuk ke dalam kamar masing-masing.


Mitha memeluk dari belakang tubuhnya Edi," aku sangat bahagia daeng karena keluarga suamiku itu sangat humble, dengan tangan terbuka menerima kehadiranku dan juga tidak banyak pusing dan menghakimi kesalahan kita berdua."

__ADS_1


"Seperti itulah sayang kehidupan keluarga besar kami, aku itu punya saudara dari bapak itu baik-baik seperti Tante Halimah hanya dari pihak mama yang pemikiran mereka masih sedikit kolot, tapi kamu tidak perlu khawatir dengan semua itu selow saja karena cintaku hanya untuk kamu seorang Paramitha Hardani Bahar.


Bagi Like, Komentar, gift iklan,poin dan koinnya dong kakak readers...


__ADS_2