
Pelangi duduk termenung memikirkan perkataan kakeknya yang masih terngiang-ngiang di telinganya sembari menatap cincin dan kalung yang melingkari lehernya itu. Ia tidak menyangka jika, kakeknya dengan susah payah menabung uang untuk menebus emasnya di pegadaian, padahal sebelumnya ia ikhlas sudah. Emas itu pun ia tidak pernah tahu jika bukan kedua kakek neneknya yang belikan untuknya. Dugaannya selama ini adalah pemberian mereka sendiri.
Pak Dedi mengalami kecelakaan ketika pulang dari menjual sayur. Pak Dedi ketabrak mobil truk hingga keadaannya seperti sekarang ini. Kedua tangannya harus diamputasi dan kedua kakinya mengalami patah tulang. Pelangi tertidur di kursi panjang yang di depan ruangan ICU.
"Pelangi sebenarnya kamu bukanlah cucu kandungnya Kakek, kakek dan nenek menemukanmu di pinggir sungai saat kakek menangkap ikan di sungai sekitar sembilan tahun lamanya, ini benda yang kamu pakai saat kau kami temukan dan ini mungkin juga yang akan mengantar kamu ke orang tua kandungmu cucuku,"
Kejujuran yang baru di dengarnya itu cukup membuatnya terkejut. Karena kasih sayang dicurahkan oleh kedua orang tua itu sangatlah tulus. Sama sekali tidak menunjukkan jika, ia hanya cucu angkat saja.
"Ya Allah… aku tidak menduga jika mendiang nenek yang begitu menyayangiku bukanlah Nenek kandungku, terus aku ini siapa?"
Hingga menjelang subuh, barulah matanya bisa terlelap karena terlalu banyak memikirkan hal-hal yang begitu rumit dan sulit untuk ia pecahkan.
Keesokan harinya,ia kembali berangkat bekerja di salah satu toko yang ada di Mall terbesar yang ada di kota. Hijabnya mempercantik penampilannya Pelangi. Kulitnya yang putih mulus dan bodynya yang tinggi semampai menjadikan dia cukup mudah untuk mencari pekerjaan.
"Pelangi," panggil seseorang ketika Pelangi sedang menyusun beberapa stok pakaian yang baru masuk di tokonya itu.
"Iya Bu Nining," jawabnya Pelangi.
"Kamu pulanglah karena katanya kamu disuruh ke rumah sakit secepatnya," jelas Bu Nining kepala toko tersebut.
"Apa tidak apa-apa Bu kalau saya pulang?" Tanyanya yang sedikit bimbang dan cemas jika ia pulang gajinya akan dikurangi.
"Tidak apa-apa kok, saya yang mengijinkan kau untuk pulang, jadi tidak masalah," imbuhnya Bu Nining.
"Makasih banyak kalau begitu Bu,saya permisi dulu," ujarnya Pelangi.
Noni salah satu rekan kerjanya Pelangi mendatangi Bu Nining.
__ADS_1
"Apa yang terjadi Bu kenapa Pelangi bisa pulang apa yang terjadi dengan kakeknya?" Tanyanya Noni dengan penuh selidik.
Bu Nining menarik nafasnya dalam-dalam," kakeknya sudah sekarat, beruntung kalau Pelangi masih sempat melihat kakeknya, kasihan sekali hidupnya masih cukup muda tapi begitu banyak cobaan yang mendera kehidupannya," tutur Bu Nining.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun, semoga Pelangi bisa tabah dan sabar menghadapinya, Amin ya rabbal alamin," timpalnya Noni yang turut sedih dengan nasib temannya itu.
Pelangi bergegas menuju rumah sakit, biasanya perawat akan langsung meneleponnya jika ada sesuatu yang terjadi pada kakeknya, tapi sekitar dua minggu lalu terpaksa hp yang dipakainya selama ini harus ia jual demi pengobatan kakeknya ini yang ketabrak mobil.
"Ya Allah… jaga dan lindungilah kakekku, panjangkan lah umurnya," gumamnya berjalan melewati setiap lorong rumah sakit.
Tapi,apa yang diharapkan tidak sesuai dengan kehendak sang Maha Pencipta Allah SWT telah memanggil Pak Dedy untuk selamanya. Dia melihat kakeknya sudah terbujur kaku diatas bangkar rumah sakit. Baru saja ditutupi kain putih sekujur tubuhnya ketika, Pelangi menginjakkan kakinya di dalam kamar perawatan kakeknya itu.
"Tidak!!" Teriaknya histeris melihat kakeknya sudah tiada dan pergi untuk selamanya.
Baru sekitar satu tahun lebih kepergian neneknya karena sakit, sekarang kakeknya yang tega meninggalkannya seorang diri di dunia ini. Pelangi mempercepat langkah kakinya menuju jasad kakeknya itu dan langsung memeluk tubuhnya.
"Ya Allah… apa yang terjadi padamu Kakek, kenapa tega meninggalkan Pelangi sebatang kara, aku harus gimana lagi aku tidak tahu harus hidup seperti apa tanpa kalian," ratapnya Pelangi.
Berselang beberapa menit kemudian, sore itu jenazah Pak Dedy disemayamkan di rumah duka dan langsung dikebumikan setelah beberapa saat mengingat tidak ada satupun sanak saudara yang ditunggu kedatangannya sehingga, prosesnya berjalan cepat dan lancar.
Pelangi berlutut di hadapan pusara kakeknya, gundukan tanah menjadi saksi kepedihan dan kesedihan hatinya itu. Air matanya terus menetes membasahi pipinya tak henti-hentinya ia mengusap dan menyeka air matanya yang terus menetes membasahi pipinya.
"Kakek, maafkan Pelangi yang belum mampu membalas jasa dan kebaikan kakek semoga dilain waktu Allah SWT masih memberikan waktu dan kesempatan untuk Pelangi agar membalas budi baik kakek dan nenek,"
Makam Pak Dedy bersebelahan dengan almarhumah istrinya Bu Siti.
"Selamat jalan kek, kamu orang baik insya surga tempatmu, amin ya rabbal alamin," lirihnya Pelangi.
__ADS_1
Satu persatu orang-orang yang mengantar kepergian Pak Dedy ke TPU setempat meninggalkan Pelangi seorang diri. Berbagai ucapan duka dan ucapan berbela sungkawa terus berdatangan dari beberapa tetangga dan orang yang mengenal baik Pak Dedy.
Waktu terus berlalu, tanpa disadari sudah lima bulan kepergian pak Dedy. Pelangi terus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Walupun, ia sudah dipecat di Mall tempat sebelumnya dia bekerja,tapi ia bersyukur karena masih banyak yang menerimanya bekerja.
Seperti kafe sekarang yang ditempati ia bekerja, sudah hampir lima bulan juga ia bekerja di sana. Setiap hari, Pelangi bekerja dengan giat dan tekun sehingga ia tidak pernah mendapatkan teguran dari pemilik kafe maupun sesama pekerja.
Pelangi duduk di salah satu kursi kosong di sekitar kafe sembari menghitung jumlah uang yang dia dapatkan, "Alhamdulillah hari ini bisa juga gajian full," cicitnya Pelangi.
"Iya Pe, kita bersyukur karena bulan ini gaji cukup banyak dan tidak ada potongan, apa kamu mau ikut denganku pulang atau masih ada keperluan?" Tanyanya Neneng Sri Wahyuni.
"Mbak pulang duluan soalnya aku mau cari hp murah dulu, aku enggak enak minjem punya Mbak mulu," tuturnya Pelangi seraya menyodorkan sebuah hp ke dalam genggaman tangannya Neneng.
"Padahal aku tidak berharap kamu balikin kok hpnya, tapi kamu ada niat untuk beli yang baru yah sudah tidak masalah kok bagiku," tukasnya Neneng.
"Makasih banyak yah Mbak sudah sangat membantu Pelangi selama ini, aku sangat bersyukur punya teman yang selalu baik padaku dimanapun aku bekerja," ucap syukur Pelangi.
Neneng menyentuh lengannya Pelangi," kamu tidak perlu sungkan lagian apa yang kamu dapatkan adalah buktinya kamu itu baik sehingga semua orang yang dekat denganmu baik-baik,"
Pelangi tersenyum lebar mendengar perkataan dari Mbak Neneng.
"Saya pamit duluan yah Mbak, assalamualaikum," ujarnya Pelangi lalu berjalan beberapa langkah ke arah kanan kafe.
Tapi, tiba-tiba ada orang yang menarik tangannya Pelangi dengan kuat lalu memasukkan Pelangi ke dalam mobil sedan hitam.
"Uuhhh," teriaknya Pelangi yang mulutnya sudah dibekap pakai kain dan tangannya juga sudah diikat.
"Bos, Kejora sudah kami tangkap dan sudah dalam keadaan aman,apa kami langsung membawa menghadap Tuan Muda?" Tanyanya seorang pria yang bertubuh kekar.
__ADS_1
Pelangi dibawa ke suatu tempat di salah satu komplek perumahan elit di daerah bilangan Jakarta Selatan.
"Kenapa mereka mengatakan jika namaku Kejora, siapa Kejora itu apa jangan-jangan mereka salah tangkap," Pelangi membatin.