
Beberapa hari kemudian, setiap hari Bintang dan Kejora sudah mulai sekolah. Setiap hari Pak Rudi mengantar jemput kedua anak kembar itu.
Pak Rudi sudah beristirahat di dalam kamarnya, untungnya ia juga sempat membawa istrinya pak Rudi ikut pindah bersama mereka sehingga akan ada yang membantunya mengurus rumahnya.
Rindu rencananya akan membuka toko pakaian tapi,ia masih mencari tempat dan lokasi yang strategis.
"Ya Allah... lancarkan lah segala rencana baik kami dan mudahkanlah segala urusan kami ini dan berkahi lah setiap langkah baik kami," lirihnya Rindu sambil memeluk kedua tubuhnya anak kembarnya itu.
Rindu yang terbilang warga baru di kompleks itu mendapatkan sambutan yang hangat dengan semua tetangga barunya. Seperti hari ini, Rindu yang baru saja selesai berpakaian lengkap karena akan pergi melihat dan meninjau lokasi ruko yang baru dia dapatkan.
"Assalamualaikum," suara salam seseorang dari pintu depan.
Rindu segera menyelesaikan tata riasannya lalu berjalan tergesa-gesa ke arah pintu depan," siapa yah siang-siang begini datang bertamu?"
Kebetulan hari itu, Bibi Surti sedang berbelanja ke pasar di antar oleh Pak Rudi suaminya sendiri. Pintu itu berdecit pertanda bahwa pintunya sudah terbuka.
Senyuman lebar langsung tersungging dari beberapa ibu-ibu tetangganya menyambut Rindu. Sedangkan Rindu merasa keheranan sekaligus kebingungan melihat kedatangan para emak-emak sambil membawa beberapa bingkisan parcel.
Rindu pun tersenyum ramah dan mempersilahkan mereka satu persatu masuk ke dalam rumahnya," waalaikum salam, silahkan masuk ibu-ibu maaf rumahnya sedikit berantakan dan sempit," imbuhnya Rindu.
__ADS_1
Mereka kemudian duduk dan salah satu diantara mereka ada yang menimpali perkataannya Rindu," ya elah Ibu Rindu, rumah sebesar dan serapi ini dibilang berantakan dan kecil, iya kan ibu-ibu," celutuk Bu Risa salah satu tetangganya.
"Iya nih ibu Risa, rumahnya nyaman dan bagus malahan dianggap jelek, apalah rumah kami yang jauh dari kata rapi dan cantik," tukasnya Bu Rika.
Rindu hanya tersenyum menanggapi celotehan para emak-emak rempong tersebut.
"Ibu-ibu duduk sebentar yah, saya mau buatkan minuman dulu karena tidak sempurna dan afdol jika kita berbincang-bincang tanpa ada minuman dan makanan ringan menemani kita semua," ucapnya Rindu yang segera berdiri dari posisi duduknya sambil berjalan ke arah dapur setelah berpamitan kepada sekitar tujuh orang yang kebetulan bertamu ke rumahnya siang itu.
Rindu dengan cekatan dan telaten membuat minuman dingin dan mengambil beberapa macam kue yang sudah dibuat oleh bi Surti sebelum berangkat ke pasar tradisional. Hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit saja, semua makanan dan minuman sudah berada di atas talenan yang di dalam genggamannya Rindu.
Bu Ida segera berdiri dari duduknya untuk menyambut kedatangan dari Rindu," ya ampun, ibu Rindu kenapa meski harus repot-repot segala buat minuman dan kue sagala untuk kami padahal niat kami ke sini hanya untuk berbincang-bincang santai dan saling kenal karena ibu tetangga baru kami dan juga sekalian mau mengajak ibu untuk gabung arisan dengan kami," jelasnya Bu Ida yang sudah menjelaskan maksud kedatangannya.
"Ahh tidak repot kok Bu kalau hanya memindahkan tempatnya saja ke dalam gelas dan piring karena kebetulan bi Surti sudah buat kue banyak tadi pagi,"
"Kalau begitu silahkan dicicipi makanan dan minuman ala kadarnya ibu," pintanya Rindu.
Mereka berbincang santai siang itu, Rindu memutuskan untuk ikut arisan tiga nomor sekaligus. Hingga percakapan mereka mengarah ke semua penghuni rumah sekitar blok D tersebut.
"Apa kalian sudah pernah lihat pria yang tinggal di depan itu enggak?' tanyanya Bu Reni yang baru ikut gabung dengan mereka.
__ADS_1
"Kenapa Bu Reni dengan tetangga depan?" Tanyanya Bu Sari yang mulai kepo.
"Pria duren sawit beranak satu itu yang ditinggal mati isterinya ketika anaknya baru lahir kan?" Tebaknya Bu Jia.
"Katanya dia akan balik ke Jakarta dari daerah Kalimantan gitu, hari ini kalau enggak salah sudah pulang," sahut Bu Rina.
"Berarti kita bisa cuci mata setiap hari dong," celetuknya Bu Ida yang langsung mendapatkan pukulan manja di pundaknya.
"Aaauuuhh!" Keluhnya Bu Ida.
"Ish… ish Ibu emangnya enggak puas sama suami sendiri apa! Ini nih yang kena istilah rumput tetangga lebih hijau dari pada rumput sendiri!" Ketusnya Bu Sari.
"Sudah.. sudah ibu yuk silahkan dimakan kuenya dan juga diminum minumannya," imbuhnya Rindu yang tersenyum melihat tingkah absur ibu-ibu tersebut.
Mereka kembali menikmati makanan yang sungguh menggugah selera mereka. Ada tiga jenis kue kering dan basah yang disajikan oleh Rindu.
"Dengar-dengar sih dia itu sudah duda hampir lima tahun lamanya dan dia bekerja di Banjarmasin sebagian kapten kapal loh gajinya tinggi tapi, sayang sangat betah dan setia sama mendiang istrinya itu, karena anak tunggalnya di rawat sama mamanya sendiri," jelasnya Bu Risa yang sangat mengetahui hal tersebut karena mereka berdekatan rumah.
"Andai saja saya masih single mungkin saya akan tertarik padanya," candanya Bu Reni yang mengundang gelak tawa dari semua orang.
__ADS_1
Rindu bersyukur karena walaupun mereka ceplas-ceplos tapi, satu sama lain masih tetap saling menghargai dan memiliki rasa kekeluargaan dan kebersamaan yang tinggi pula.
Rindu bahagia dengan kedatangan tamunya siang itu, tapi entah kenapa ketika pria duren sawit disaat sosok pria itu menjadi topik pembicaraan hangat mereka, hatinya merasakan kepo dan penasaran dengan pria itu.