Rindu Bintang Kejora

Rindu Bintang Kejora
Bab. 78


__ADS_3

Naufal terkejut dengan kenyataan yang barusan diketahuinya," ya Allah… jadi selama beberapa hari ini aku sudah mencintai perempuan lain yang bernama Kejora Aysila Mandala dan gadis yang aku renggut kehormatannya adalah bukan lah Pelangi Arunnika Rahmany tapi, perempuan yang sedang terbaring lemah tak berdaya di depanku ini, perempuan yang sudah hamil calon anakku," gumamnya Naufal Arian Budianto.


Kejora sudah berada di dalam kamar perawatan VVIP sesuai dengan keinginannya Naufal. Dia melihat kekasihnya masih tidak sadarkan diri dengan raut wajahnya yang pucat pasi.


Selang infus terpasang sangat dipergelangan tangan kanannya. Tatapannya Naufal tertuju pada tangan kirinya dimana letak cincin tanda ia waktu itu melamar Pelangi setelah dari makam almarhumah mamanya itu.


Naufa tersenyum bahagia karena cincin yang beberapa minggu lalu ia beli khusus untuk Pelangi ketika mereka bepergian untuk berziarah ke makam mamanya.


Naufal tak bosan-bosannya mengecup punggung tangannya Kejora dengan penuh kasih sayang.


"Apa kamu akan marah dan benci jika kamu bangun dari tidurmu dan melihat aku ada dihadapanmu," cicitnya Naufal yang sedih melihat kondisi dari kekasihnya sekaligus tunangannya tapi, sudah diputuskan oleh Kejora secara sepihak.

__ADS_1


Hingga pukul satu malam dini hari, Kejora belum terbangun juga dari tidur panjangnya, masih pingsan tak sadarkan diri. Naufal pun saking lelahnya dan capek dengan rutinitasnya beberapa menit yang lalu ditambah sudah menjaga Kejora dari jam tujuh malam hingga matanya terpejam, walaupun sudah bersusah payah untuk menjaga agar matanya melek terus, tapi rasa ngantuk yang menderanya itu sudah tak kuasa ia tahan.


Naufal pun tertidur, sebenarnya Kejora sedari jam sembilan malam tadi sudah sadar. Kejora mengetahui, jika Naufal pria yang beberapa bulan terakhir ini sudah ia usahakan untuk melupakan semua kenangan bersamanya yang begitu singkat tapi, cukup mendalam.


Kejora awalnya terkejut melihat siapa pria yang tersedu-sedu meratapi kesedihannya. Betapa kagetnya melihat jika pria yang berada di sampingnya adalah pria yang sudah membuatnya ia hamil. Pria yang sangat ia sayangi tapi, berusaha ia lupakan.


"Ya Allah… kenapa bisa Abang Mas Naufal ada disini, seingatku tadi aku mampir ke salah satu apotek untuk beli testpack, kemudian kepalaku semakin pusing aku mulai mual dan akhirnya aku pingsan dan sekarang aku sudah berada di dalam rumah sakit, apa Mas Naufal Arian Budianto yang menolongku," lirihnya Kejora.


Kejora memikirkan banyak kemungkinan besar yang bisa terjadi ketika ia pingsan.


Tangannya berusaha untuk menekan tombol untuk memanggil perawat, karena ia melihat tidak ada air atau apapun diatas meja nakas ranjangnya itu.

__ADS_1


"Kenapa bisa sama sekali tidak ada air,apa Mas Naufal melupakan jika aku sadar bisa saja aku kehausan," omelannya Kejora.


Baru saja ingin menekan tombol tersebut, tapi karena kurang hati-hati hingga benda yang kebetulan terletak di atas meja terjatuh ke atas lantai keramik.


Prang!!! Bruk!!


Kegaduhan dan kebisingan yang terjadi akibat ulahnya Kejora membuat Naufal segera bangun dari tidurnya. Kejora segera berpura-pura kembali menutup matanya. Naufal segera mengalihkan perhatiannya ke arah lantai dan melihat tas handbagnya Kejora terjatuh.


Naufal pun segera meraih tas tersebut,ia keheranan kenapa bisa tas itu terjatuh dengan sendirinya. Naufal celingak-celinguk melihat sekitarnya, tapi sama sekali tidak ada orang lain selain mereka berdua di dalam kamar perawatan inapnya Kejora.


"Kok tasnya Pelangi bisa terjatuh sendiri? Padahal sama sekali aku sentuh lagian agak jauh dari tempat aku berada, apa… tapi itu tidak mungkin, karena Pelangi belum sadar juga," gumamnya Naufal.

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara bersin, Kejora sebenarnya sudah berjuang dengan sekuat tenaga untuk berusaha menahan bersinnya, karena hidungnya seperti digelitik itu hingga dia pun bersin.


"Atsin… atcim…"


__ADS_2