Rindu Bintang Kejora

Rindu Bintang Kejora
Bab. 23


__ADS_3

Rindu dan Erka menuju sekolah kedua putri kembarnya, mereka akan memberikan kejutan kepada anaknya itu.


Erka tak hentinya menciumi punggung tangannya Rindu sedangkan tangan kanannya masih setia dibalik kemudi mobilnya.


Rindu mendekati pintu kemudi mobilnya itu lalu tersenyum ramah dan juga malu karena apa yang sedang mereka lakukan pasti dy dengar langsung oleh Pak Abdul,"Pak,kalau pulang katakan pada bibi Surti untuk pergi ke pasar beli beberapa barang yang aku butuhkan, semua catatannya ada di atas meja nakas dalam kamarku!" pintanya Rindu ketika akan meninggalkan Abdul Qodir dengan mobilnya sendiri.


"baik Nona Muda, hati-hati kalau gitu saya pamit, assalamualaikum!' jawabnya Pak Abdul Qadir.


Mobil berwarna hitam itu sudah melaju meninggalkan Erka dengan Rindu yang saling berpegangan tangan satu dengan yang lainnya itu.


Dari jauh seseorang tanpa sengaja memperhatikan apa yang mereka lakukan. Ia tidak menyangka jika kedatangannya di Jakarta akan mendapatkan jawaban atas penantian beberapa tahun belakangan ini.


"Semoga kalian bahagia, mungkin aku harus pergi dari sini karena aku tidak mungkin akan bisa menjalani kehidupanku dengan bayang-bayang kalian berdua, adek Rindu semoga engkau bahagia dengan pilihanmu itu dan semoga cinta kalian hingga kakek nenek," gumamnya Angga Pratama Kusuma.


Pria yang selalu setia mendampingi Rindu ketika masih mengandung buah hatinya. Pria yang baik hati yang tidak pernah menuntut lebih agar cintanya terbalaskan.


"Memang seperti inilah jalan takdir kita berdua, aku akan pergi dari tanah air Indonesia tercinta, aku akan memenuhi panggilan dari teman untuk bekerja di Qatar, aku berharap kamu akan selalu bahagia dan tersenyum ceria Rindu, cintanya Abang akan selamanya untukmu seorang," lirihnya Angga Pratama Kusuma sambil menyeka air matanya kemudian segera menyalakan mesin mobilnya itu.


Angga Pratama Kusuma adalah anak kepala desa tempat kelahiran bapaknya Rindu. Ia sejak kecil sudah menaruh perhatian pada Rindu, ketika Rindu masih berusia sepuluh tahun kala itu mengunjungi kakek neneknya di kampung kalau tersebut.


Sejak itu, Angga memutuskan untuk mencintai Rindu hingga lebih sepuluh tahun Rindu kembali ke sana, tapi dalam keadaan hamil tanpa suami.


Angga dan kedua orang tuanya tidak mempermasalahkan statusnya Rindu yang seperti itu. Karena mengingat siapa bapaknya dan kakeknya Rindu. Tapi,apa mau dikata takdir,garis tangan mereka mengatakan jika Rindu bukanlah jodohnya.

__ADS_1


Angga dengan legowo, berbesar hati mengikhlaskan wanita pujaannya untuk menikah dan menjalani hidupnya dengan pria idaman dan pujaan hatinya sekaligus papa biologis dari kedua anaknya itu.


Satu bulan kemudian, tepatnya hari minggu adalah hari sakral yang dipilih oleh kedua belah pihak keluarga untuk melangsungkan pernikahan mereka berdua. Semua keluarga besar dari kedua belah pihak sudah datang. Baik itu sanak saudara dari luar pulau Jawa, Jakarta sudah berdatangan untuk meramaikan pernikahan akad nikah Rindu dengan Erka.


Segala persiapan sudah dilakukan dan mencapai 99%. Mereka sudah tidak sabar menunggu hari pernikahan mereka. Semua anggota keluarganya bahagia karena akhirnya hari ini akan bersatu dalam tali ikatan pernikahan yang sudah lama mereka berpisah jarak dan waktu serta tempat.


Raut wajah kedua pasang calon pengantin tampak berseri-seri merona bahagia. Mereka menunjukkan kemesraan dan kebahagiaan mereka tanpa ragu di hadapan para undangan yang sudah datang memenuhi ballroom hotel terbesar di daerah itu.


Erka Mandala Jauhari sudah duduk di sebelah kirinya Rindu Adinda Chandani Burhan. Mereka sudah saling berhadapan dengan Pak penghulu yang sudah bersiap menikahkan mereka berdua.


Satu persatu tamu undangan sudah datang memenuhi kursi yang sudah dipersiapkan dan diatur dengan baik oleh pihak wedding organizer. Mengingat Erka adalah salah satu dosen kampus PPIP pelayaran sehingga nuansa pagi itu didominasi dengan nuansa pelayaran yang bertema kelautan seperti gaung pengantin mempelai pria dengan balutan jas putih lengkap seperti seorang perwira kapal.


Adae acara khusus yang dipersembahkan oleh anak taruna dari kampus khusus untuk dipersembahkan oleh untuk sang mempelai pengantin. Hingga tibalah saatnya, mereka akan mengucapkan ikrar janji suci pernik dalam balutan akad nikah.


Erka melirik ke arah kiri terlebih dahulu tepatnya ke arahnya Rindu sebelum menjawab pertanyaan dari pak Azahari. Rindu yang menyadari jika,ia ditatap sekilas oleh calon suami sekaligus calon imamnya itu hanya tersenyum manis menanggapi lirikannya Erka.


"Saya siap Pak!' jawabnya dengan tegas dan lantang.


"Baiklah kalau begitu ikuti apa yang saya katakan, saya nikahkan dan kawinkan engkau saudara Erka Mandala Jauhari dengan Rindu Adinda Chandani Burhan dengan mas kawin uang senilai lima belas juta dua ratus dua puluh dua puluh tiga ribu rupiah dengan emas kawin satu pasang emas murni 24 karat dan juga seperangkat alat sholat dibayar tunai!' ujarnya Pak Azahari dengan suara yang cukup besar itu.


"Saya terima nikah dan kawinnya Rindu Adinda Chandani binti Burhan Kusuma dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!'" tuturnya Erka dengan suara yang cukup besar dan hanya dalam sekali tarikan nafas yang panjang dengan intonasi yang cukup jelas itu.


"Apakah Sah?" Tanyanya Pak Azahari menatap sekeliling ruangan tempat pelaksanaan akad nikah tersebut.

__ADS_1


"Sah!!' jawab mereka serentak.


"Alhamdulillah, kalau begitu," tuturnya Pak Azahari dengan tersenyum bahagia.


Pak penghulu segera membacakan beberapa doa dan ayat suci Al-Quran dan juga petuah dan wejangan pernikahan. Ucapan selamat dari doa yang diberikan oleh beberapa orang membuatnya sangat bahagia. Satu persatu para tamu undangan mengucapkan doa yang tulus dari mereka untuk kedua pasangan pengantin baru itu.


Bintang Airen Mandala dengan Kejora Aysila Mandala dan juga Senja sangat antusias kala itu saking bahagianya mereka sampai berteriak histeris mengucapkan kata sah. Bahkan suara mereka sudah menggema di dalam ruangan gedung pelaksanaan acara itu.


Tamu tak henti-hentinya berdatangan memberikan doa restu untuk kedua pasangan tersebut. Senyuman manis terus terpancar dari kedua pasangan pengantin baru tersebut.


Hingga sore hari,acara pun berlangsung meriah dan ditutup dengan kelelahan dari raut wajahnya Rindu. Malam harinya, kedua pasangan pengantin baru itu berpamitan kepada mertuanya untuk berangkat ke hotel yang dipilih oleh keduanya.


Mereka tidak melakukan honey moon karena kesibukan dari Erka Mandala Jauhari sebagai salah satu dosen di kampus PPIP pelayaran Jakarta. Keluarga kecil itu duduk di dalam ruangan tamu rumahnya, Erka meninta ijin kepada ketiga putrinya itu untuk pergi bulan madu.


"Bintang, Mama ingin pergi dengan Papa apa kalian tidak keberatan jika kami pergi?" Tanyanya Rindu di depan kedua anak kembarnya yang kebetulan sekarang mereka berada di rumah mertuanya itu.


Bintang baru ingin membuka mulutnya dan menjawab pertanyaan mamanya,tapi didahului oleh Kejora Aysila Mandala yang sangat antusias dan eksaitik mengijinkan kedua orang tuanya untuk pergi.


"Mama,saya sama kakak sama sekali tidak permasalahkan kok, kami malah sangat senang jika kalian pergi bulan madu karena pasti Mama akan segera berikan kami adek cowok iya kan Nek!?"


Kejora merangkul pundak kakak kembarnya sambil menatap ke arah Neneknya Bu Halimah.


"Apa yang kamu katakan benar sekali Nak, semoga Mama dan papa bawain kalian pulang adek yang ganteng," timpalnya Bu Halimah.

__ADS_1


"Iya Mama, Senja juga bantu Mama dan papa berdoa agar kami punya dede bayi lagi," pungkasnya Senja yang ikut nimbrung dengan pembicaraan mereka.


__ADS_2