
Kebahagiaan tidak selamanya dilihat dari segi banyaknya materi dan harta yang Kamu miliki, tapi bagaimana Kamu bisa membuat dan melihat senyuman yang tercipta dari orang-orang yang Kamu sayangi.
Naufal terkejut melihat rumah yang dia datangi itu," ini kan rumahnya Nenek Ratih tantenya Papa yang pernah dulu aku datangi waktu aku masih kecil dulu, apa hubungan Kejora dengan Nenek Ratih sebenarnya, ataukah kedua orang tuanya Kejora sudah membeli mungkin rumahnya Nenek," batinnya Naufal Adlan Fairuz Budianto.
Naufal membantu Kejora membuka seetbelnya yang sejak tadi terpasang di tubuhnya itu.
Naufal menepuk keningnya itu," ya Allah… aku sampai lupa gara-gara kamu ini loh," pungkasnya Naufal yang menertawai dirinya sendiri.
Naufal Aslam Budianto segera menyalakan stok kontak mesin mobilnya itu. Perlahan-lahan mobil yang dikendarai keduanya sudah bertolak dari parkiran mobil yang sudah hampir dua jam terparkir di sana dalam keadaan bergoyang. Tidak ada satupun yang curiga atau mempertanyakan hal itu, karena mereka tidak ada yang peduli dengan keadaan disekitarnya.
Perjalanan mereka tempuh sekitar satu jam lebih karena, Naufal dengan sengaja memilih rute perjalanan yang cukup jauh. Mobilnya memutar arah karena masih ingin bersama dengan kekasihnya itu. Kejora tersenyum bahagia dengan apa yang terjadi padanya hari ini.
"Makasih banyak sayang," imbuhnya Kejora dengan mempersembahkan senyuman termanisnya ke arahnya Naufal pria yang sangat dicintainya itu.
"Sayang kok bengong saja yuk kita turun,apa masih ragu atau takut untuk melamarku di depan papa?" Tanyanya Kejora penuh selidik.
"Ehh nggak kok sayang, hanya saja sepertinya aku pernah lihat sebelumnya rumahmu ini,tapi lupa kapan kejadiannya," kilahnya Naufal.
__ADS_1
"Ohh gitu, sudah lupakan saja kalau hal tersebut tidak bisa Abang eehh Mas maksudnya itu mengingat kejadiannya dengan baik," pungkas Kejora yang langsung mengapit lengannya Naufal.
"Yuk kita masuk ke dalam, bertemu dengan calon Papa mertuaku," ajaknya Naufal Adlan Budianto.
Mereka berdua berjalan bergandengan tangan dengan begitu mesranya. Walaupun dalam hatinya Naufal tersirat ketakutan, kecemasan, kekhawatiran jika, pinangannya ditolak oleh kedua orang tuanya Kejora perempuan yang sangat ia cintai.
Pintu itu terbuka sebelum keduanya itu memegang handle pintu. Pintu berdaun dua itu terbuka dengan lebar dan nampak lah seorang pria yang baru berusia empat puluhan dengan wajahnya yang masih awet muda diusianya itu. Kejora segera melepas pegangan tangannya di lengan Nuafal untuk berhamburan memeluk tubuh papanya itu.
"Papa!" Teriaknya Kejora.
Erka menyambut hangat kedatangan putri bungsunya itu," sayang kok baru pulang, apa kamu baik-baik saja? Padahal Papa baru berniat untuk mencari kamu," ungkap Erka Mandala Jauhari Lubis yang tatapan matanya tertuju pada sosok laki-laki muda yang bersama dengan putrinya itu.
Naufal segera meraih tangannya Pak Erka untuk ia cium punggung tangannya itu," assalamualaikum Pak Erka," sapanya Naufal.
"Waalaikum salam, masuk Nak kita berbincang-bincang di dalam saja, enggak enak kalau tamunya berdiri terus," candanya yang mengajak Naufal ke dalam ruangan tamunya itu.
"Makasih banyak Pak," imbuhnya Naufal.
__ADS_1
Mereka bertiga pun berjalan ke arah dalam ruangan tamu tersebut. Erka diam-diam memperhatikan dari ujung kaki hingga ujung rambutnya Naufal.
"Siapa dia sebenarnya, ada hubungan apa dengan anak-ku?" Batinnya Erka yang menatap intens ke arah Naufal.
"Mas Naufal silahkan duduk dulu, aku mau naik mau ganti pakaian soalnya sudah gerah, silahkan Nas berbincang-bincang dengan papaku," ucapnya Kejora yang kemudian berlalu dari hadapan kedua pria beda generasi itu tapi, sama-sama memiliki wajah yang rupawan dengan ciri khas yang mereka miliki masing-masing.
Erka menelisik wajahnya Naufal yang langsung teringat dengan kakak sepupunya sekaligus rekan dosen di kampus pelayaran tempat ia bekerja hingga sekarang.
"Sepertinya saya pernah melihat kamu,tapi saya lupa dimana," ujarnya Pak Erka yang sekedar berbasa-basi saja.
"Saya pun demikian Pak sejujurnya sedari tadi saya memperhatikan rumahnya Bapak seperti seolah saya sudah pernah kesini sekali waktu itu saya masih kecil," jawabnya Naufal.
"Mbak Yuni!" panggilnya Erka memanggil salah satu asisten rumah tangganya itu
Perempuan paruh baya yang dipanggil itu segera berjalan tergesa-gesa art yang sudah lebih sepuluh tahun bekerja dengannya sejak istrinya masih muda dulu.
"Iya Tuan besar," sahutnya Bibi Yuni dengan berusaha mengatur nafasnya yang masih ngos-ngosan itu.
__ADS_1
"Tolong buatkan minuman untuk temannya Non Kejora," perintahnya Erka.
"Baik Tuan," balasnya Bi Yuni sembari diam-diam melihat ke arah Naufal.