Rindu Bintang Kejora

Rindu Bintang Kejora
Bab. 20


__ADS_3

Bu Surti tanpa sengaja melihat Rindu yang terpuruk dalam kubangan penyesalan dan kesedihan.


Rindu berlari ke dalam kamarnya, ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjangnya. Air matanya menetes membasahi pipinya itu, ia tidak menyangka jika dia harus kembali bertemu dengan pria yang sudah berjanji padanya sehidup semati dan akan mempersuntingnya.


Dengan itu ia rela memberikan segalanya untuk pria tersebut walaupun mereka belum menikah. Tapi, apa yang terjadi padanya pria itu hingga hampir sembilan tahun barulah ia muncul di dalam kehidupannya kembali dalam keadaan yang berbeda.


"Ya Allah… sampai kapan Nona Rindu seperti ini harus hidup dalam kesedihan padahal Non Rindu perempuan yang baik, setia dan jujur, saya ingin melihat Nona bahagia seperti perempuan lain yang memiliki pasangan sendiri-sendiri, Non Bintang dan Kejora juga kasihan melihatnya harus hidup tanpa seorang kasih sayang ayah, kadang hamba melihat mereka menangis jika melihat kebahagiaan dari beberapa teman-temannya yang memiliki keluarga lengkap," batinnya Bu Surti yang tanpa sengaja melihat kejadian itu karena pintu kamarnya yang kebetulan tidak tertutupi rapat.


Berselang beberapa menit kemudian, Rindu segera melaksanakan shalat ashar, Rindu lalu segera bersiap untuk pergi ketempat pertemuan yang sudah mereka sepakati bersama.


Rindu menarik nafasnya dengan cukup keras kemudian menghembuskan nafasnya dengan panjang. Raut wajahnya penuh keseriusan dan keyakinan untuk memperbaiki kehidupan keluarganya untuk kedepannya.


"Ini yang terbaik untuk kami, agar tidak ada kesalah pahaman kedepannya yang akan berdampak jelek nantinya untuk kedua putri kembarku," gumam Rindu lalu segera menyelesaikan riasan makeup nya.


Rindu memutuskan hari ini untuk memakai hijab, ia merasa malu sendiri dengan kelakuannya selama ini yang kurang pas dan cocok ia lakukan. Dengan memikirkan segala pertimbangannya sehingga ia memilih dan memutuskan menutup auratnya.


Rindu segera meraih handbagnya yang tersimpan di atas meja nakas kamarnya. Dengan perasaan yang penuh keyakinan dan mantap ia akan menemui pria yang masih berstatus kekasihnya itu sekaligus papa dari dari kedua anaknya.


Bi Surti yang kebetulan ingin menyimpan pakaian yang sudah ia setrika di dalam lemari pakaiannya Rindu. Bu Surti terkesima dan terpesona melihat penampilan terbaik dari Rindu.


"Subhanallah Masya Allah… cantiknya Nona Rindu," pujinya Bu Surti yang berjalan mendekati Rindu yang masih berdiri mematung di depan cermin besar yang ada di hadapannya.


Bi Surti menangkupkan kedua tangannya di depan tepat pipinya Bi Surti. Ia tersenyum melihat Rindu yang berpakaian seperti itu.

__ADS_1


"Serius Bi, kalau saya cantik memakai hijab?" Tanyanya Rindu yang masih tidak percaya dengan berbagai pujian dari mulut Bu Surti.


Bibi Surti tersenyum penuh kejujuran sambil menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan dari Rindu sendiri.


"Ya Allah… Non Anda ini sudah cantik dari orok jadi memakai pakaian apapun pasti akan terlihat cantik alaminya apalagi memakai pakaian yang tertutup seperti ini semakin menambah kesan kecantikan natural dan alami dari Non, aku yakin semua pria yang melihat penampilan Anda akan tertarik dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama, tidak memakai hijab saja sudah diperebutkan oleh banyak laki-laki apa lagi sudah berpenampilan lebih teduh dan adem, pasti semakin bertambah yang antri," puji Ibu Surti Abdul Qadir yang sangat mengangumi keindahan dari penampilan barunya Rindu.


Rindu tersenyum bahagia mendengar perkataan dari mulutnya perempuan yang sudah memutuskan bersama dengan suaminya untuk mengabdi kepada Rindu karena berhubung pasangan suami istri tidak memiliki seorang anakpun.


Rindu tersenyum kegirangan mendengar segala pujian yang diberikan untuknya, "Syukur Alhamdulillah… makasih banyak atas pujiannya semoga pria yang aku tunggu dan harapkan kedatangannya akan hadir untuk memenuhi janjinya Bi," imbuhnya Rindu.


"Amin ya rabbal alamin… bibi doakan semoga segera mendapatkan pasangan pendamping hidup yang baik,sholeh, bertanggung jawab terhadap Nona dan kedua kembar cantik kita di dunia maupun di akhirat," harap doanya Bu Surti untuk majikannya yang sangat berjasa dalam hidupnya selama ini.


Rindu memegang tangannya bi Surti," kalau gitu saya pamit dulu Bi karena sudah hampir jam empat entar dia marah-marah lagi kalau aku lambat datang, assalamualaikum" candanya Rindu lalu meraih tangan kanannya Bu Surti untuk ia mencium punggung tangannya itu.


Rindu hanya tersenyum simpul menanggapi perkataan dari Bu Surti salah satu sepupu jauh almarhum bapaknya Rindu.


Sedangkan di dalam ruangan kafe Sentosa, Erka baru saja nyampe. Ia memilih tempat duduk yang agak sepi dari pengunjung agar mereka mendapatkan kebebasan dalam berbincang-bincang.


"Saya akan buktikan kepadamu sayang, jika aku sama sekali tidak berubah masih seperti dulu masih sangat mencintaimu hingga sedetikpun aku tak mampu untuk berpaling kepada perempuan lain di dunia ini," gumam Erka Mandala Jauhari.


Erka memperhatikan cincin dalam kotak emas yang baru saja ia ambil dari toko perhiasan. Sebenarnya sudah ada yang dia buat khusus untuk Rindu sejak dulu. Tetapi, kebetulan cincin tersebut kemungkinan besar cincinnya sudah tidak muat sehingga, Erka berinisiatif untuk memesan lagi cincin baru yang modelnya sama hanya saja ada di dalam lingkaran tulisan nama mereka berdua.


Erka memesan beberapa minuman dan makanan teman mereka bercakap-cakap nantinya. Ia memesan sesuai dengan apa yang paling disukai oleh Rindu. Yaitu jus alpukat seperti kesukaannya sejak dulu.

__ADS_1


Berselang beberapa menit kemudian, Rindu pun datang dan memperhatikan ke segala penjuru ruangan sudut kafe tersebut. Ia terus mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut. Hingga ekor sudut matanya melihat seseorang yang sudah berdiri sejak tadi menyambut kedatangan yang sedari tadi ia tunggu.


"Apa benar itu adalah Rindu wanita yang aku sayangi, dia semakin cantik dalam busana hijabnya, Masya Allah cantiknya bidadari surgaku," cicitnya Erka yang tersenyum smirk melihat kedatangan wanita pujaan hatinya, perempuan kedua yang paling disayanginya setelah ibundanya tercinta Bu Halimah.


Erka spontan menarik kursinya lalu segera berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah kedatangan Rindu. Tanpa ragu ia mengulurkan tangannya ke hadapan Rindu.


"Ayo sini Abang antar kamu ke meja kita," pintanya Erka dengan senyuman termanisnya tanpa gula itu ataupun terbebas dari pemanis buatan.


Rindu tersenyum malu-malu untuk menyambut uluran tangannya Erka dengan raut wajahnya yang memerah merona saking bahagianya melihat senyuman pria yang lebih sembilan tahun ia tidak lihat dan selalu ia rindukan.


"Makasih banyak Abang, maaf saya terlambat karena di depan sedikit macet," ujarnya Rindu lalu mendudukkan bokongnya ke atas kursi ketika dipersilahkan dengan melalui kode oleh Erka sendiri.


Mereka pun duduk saling berhadapan tanpa ada yang berbicara sedikitpun. Mereka hanya sama-sama saling bertatapan dengan saling mengagumi dan menyalurkan rasa rindu mereka yang sudah hampir sepuluh tahun tidak bertemu seperti sekarang ini.


Rindu kadang sesekali menundukkan kepalanya saking salah tingkah dan groginya karena akhirnya dipertemukan kembali dengan pria pujaan hatinya itu. Hingga Rindu melupakan statusnya Erka yang sudah punya anak.


"Rindu, Abang sangat merindukanmu, Abang seolah merasa hanya sedang bermimpi ketika melihatmu sebulan lalu, Abang sangat bahagia bisa dipertemukan dengan wanita yang paling aku cintai," tuturnya Erka seraya sesekali mengecup puncak punggung tangannya Rindu.


Rindu seakan-akan beruforia kembali ke masa lalu beberapa tahun lalu. Sehingga ia melupakan keadaan keduanya. Rindu segera menarik tangannya dengan paksa karena, ia baru teringat dengan kehadiran Senja dalam hidup dan hubungannya mereka.


"Maaf seharusnya apa yang kita lakukan barusan tidak boleh terjadi, ingat Abang itu sudah punya istri dan anak," cicitnya Rindu yang berusaha untuk menahan laju air matanya itu.


Erka begitu terkejut mendengar perkataan dari Rindu yang sama sekali tidak pernah dia pikirkan ataupun terlintas dalam benaknya. Erka baru sadari, jika pasti ini alasannya ketika mereka pertama kali dipertemukan kembali Rindu seperti menjaga jarak dengan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2