Rindu Bintang Kejora

Rindu Bintang Kejora
Bab. 53


__ADS_3

Noah segera kembali berdiri dari duduknya dan mengambil hpnya.


"Dimas tolong ke ruangan gym sekarang juga!" Perintahnya Noah.


"Ada apa Tuan Muda?"


"Dimas cari tahu apa yang terjadi sebelum Kejora ditangkap sama anak buahmu yang ada di Jakarta, jangan biarkan ada yang terlewat sedikitpun," tatapannya Noah Javier Rizaldi tertuju pada seorang perempuan yang sedang berbincang-bincang dengan tukang kebunnya.


"Baik Bos," Dimas segera meninggalkan ruangan gym Tuan Mudanya itu.


Noah memicingkan matanya ketika melihat Kejora istrinya terlihat begitu akrab berbicara bersama dengan Ridwan sang tukang kebun. Tanpa disadarinya ia mengepalkan tangannya sekuat tenaga, karena untuk pertama kalinya Ia melihat Kejora istrinya tertawa lepas. Sedangkan jika Kejora berada du sampingnya, raut wajahnya Kejora seperti ditekuk dan lebih tidak semangat.


"Saya ingin lihat apa yang akan dia lakukan jika, aku datang menghampirinya," gumam Noah.


Noah segera menaiki kursi rodanya,tapi kembali mengurungkan niatnya karena dia tidak ingin Kejora berprasangka kepadanya kalau ia sedang cemburu.


Noah menggelengkan kepalanya," aku tidak boleh ke sana jika aku ke sana Kejora akan menganggap aku cemburu padanya," gumam Noah.


Sedang di sekitar taman, Kejora Aysila Mandala bertemu dengan tukang kebun yang ternyata berasal dari Jakarta juga.


"Ridwan namanya Mas,"


"Iya Nona Muda nama saya Ridwan berasal dari Jakarta,"


"Alhamdulillah aku punya teman baru yang juga dari Jakarta dan semoga aku dapat memetik bunga-bunga ini ketika esok sudah bermekaran," imbuhnya Pelangi.

__ADS_1


"Amin… kalau mau sepertinya dua hari dari sekarang waktunya untuk paling tepat untuk bermekaran jadi datanglah lagi Non," ujarnya Ridwan sambil menundukkan kepalanya karena takut jika ada yang melihat keduanya berbincang-bincang dan melaporkan kejadian tersebut kepada Noah majikannya yang sedikit tegas dan berhati dingin.


"Siap Pak Ridwan saya akan datang ke sini dua hari lagi, semoga bunga mawar putihnya sudah bermekaran," ujarnya Kejora.


Mereka berbincang-bincang santai sampai matahari tinggi berada di atas kepala mereka.


"Aku pamit dulu yah, assalamualaikum," Pelangi berjalan perlahan menuju ke arah dalam rumahnya sambil sesekali tersenyum jika berpapasan dengan beberapa pelayan yang bekerja di rumah suaminya.


Pelangi mengelilingi kediaman suaminya yang ada di Kuala Lumpur Malaysia. Ia mengagumi arsitektur rumah itu.


"Andai saja saya Nyonya asli rumah ini alangkah bahagianya hatiku memiliki rumah yang begitu besarnya, tapi sayangnya semua yang aku dapatkan hanya pemberian dari perempuan lain yang kebetulan mirip denganku," gumamnya Pelangi dengan berjalan perlahan menaiki undakan tangga.


Teriakan dari seseorang mampu mengalihkan perhatiannya dari pikirannya yang memikirkan banyak hal tentang kehidupannya selama beberapa minggu ini di KL.


Pelangi menghentikan langkahnya dan menunggu kedatangan Ridwan.


Ridwan menyerahkan sebuket bunga ke depannya Pelangi, "Maaf Nyonya Muda ini bunga mawar yang khusus aku petikkan untuk Nyonya semoga suka dengan bunganya," ucapnya Ridwan sang tukang kebun.


Pelangi tanpa ragu segera meraih bunga itu yang sungguh cantik dan segar serta wanginya bunga itu mampu menenangkan pikirannya Pelangi.


Pelangi tersenyum tulus," makasih banyak Pak Ridwan atas bunganya,"


"Maafkan saya Nyonya Muda karena baru sempat memetiknya untuk Nyonya,"


Pelangi kembali tersenyum ramah," tidak apa-apa kok Pak, seharusnya tidak perlu repot-repot memetik untukku," elaknya Pelangi.

__ADS_1


Noah kembali melihat apa yang keduanya lakukan, ketika sudah keluar dari lift khusus untuknya.


"Hemm!" Noah segera berdehem yang bertujuan untuk mengalihkan perhatiannya Pelangi dari Ridwan.


"Selamat pagi Tuan Muda," sapanya Ridwan lalu segera berlalu dari hadapannya Pelangi dan juga Noah.


"Bunganya cantik banget sampai-sampai kamu tersenyum terus menerus padahal orang yang memberikan bunga itu sudah pergi!" Sarkasnya Noah.


Pelangi yang mendengar perkataan dari mulut suaminya itu raut wajahnya seketika berubah menjadi datar tanpa senyuman yang selalu ia tunjukkan di hadapan Ridwan. Pelangi sudah menganggap Ridwan sebagai saudaranya sendiri karena menurutnya Pelangi kehidupan mereka sama. Sama-sama berjuang dan berusaha untuk menghidupi kehidupan mereka sendiri.


"Maaf Tuan saya akan ke atas soalnya gerah banget, cuacanya pagi ini cukup panas jadi saya akan mandi lagi," ucap Pelangi seraya mengibas-ngibas telapak tangannya di depan dirinya sendiri.


Noah mengerang kesal karena, keakraban seperti ditujukkan oleh Pelangi di depan orang lain tidak seperti dengan apa yang ditunjukkan oleh Pelangi di depannya.


"Dua rius sayang, kalau gak percaya yuk kita ke sana untuk buktikan langsung," ajaknya Noah yang sudah berjalan mendahului Pelangi yang kembali terbengong melihat dan mendengar sikapnya Noah barusan.


Pelangi menyentuh wajahnya dikedua sisinya yang merasa panas jika, Noah selalu memanggil namanya dengan panggilnya sayang ataupun perkataan yang lebih mesra dan romantisme.


Noah melihat ke arah Pelangi lalu berteriak kencang," kalau kamu mau kelaparan kamu jadi patung sekalian saja," candanya Noah. Pelangi spontan berlari terbirit-birit mengejar Noah, ujung gaun kembali ia angkat dengan jinjing.


Pelangi kembali menaiki undakan tangga satu persatu sambil sesekali mencium wangi aroma bunga mawar itu.


"Kenapa jika kau bersama denganku kamu tidak pernah tersenyum seperti awal kamu datang ke dalam hidupku," lirihnya Noah yang terpaku di atas kursi rodanya.


Ridwan melirik sekilas ke arah Pelangi yang menaiki anak tangga dengan tak bosan-bosannya menghirup aroma bunga itu.

__ADS_1


__ADS_2