Rindu Bintang Kejora

Rindu Bintang Kejora
Bab. 18


__ADS_3

Rindu seketika terdiam beberapa menit karena mencerna perkataan dari mulutnya Erka yang harus mengingatkan padanya tentang kebiasaan dan kegiatan yang sering ia gunakan dulu ketika berduaan kala mereka masih sepasang kekasih.


Apa yang dikatakan oleh Erka membuat wajahnya merona memerah. Ia tidak menyangka jika pria yang masih selalu namanya setia dalam hatinya itu mengingatkan kenangan masa lalunya yang pernah mereka lewati beberapa tahun silam.


"Ya Allah… ternyata Abang belum melupakan semua itu, padahal dia sudah punya istri dan seorang putri yang lucu dan menggemaskan," Rindu membatin.


Berselang beberapa menit kemudian, tiba-tiba mereka terdiam sesaat saling meresapi kenyataan yang ada. Hingga ucapan dari Rindu memecahkan keheningan diantara mereka.


"Kenapa tertawa seperti itu Abang, apa ada yang salah dengan perkataanku?" Ujarnya dengan raut wajahnya yang keheranan.


Bukannya menjawab pertanyaan dari Rindu malah Erka bertanya balik," Rin, apa kita bisa bertemu sebentar sore di kafe dekat belokan kafe sentosa?" Tanyanya Erka yang berharap agar Rindu bisa memenuhi permintaannya.


"Sa-ya…" Rindu kesulitan untuk menjawab pertanyaan dari pria yang sangat ia cintai dan sangat ia sayangi bahkan pria itu berhasil memberikan padanya dua orang putri kembar yang sangat cantik serta pintar.


"Saya kenapa, apa kamu tidak bisa datang karena pria yang datang ke rumahmu?" Tanyanya Erka yang mulai sedikit merasakan marah dan cemburu karena Rindu seperti ragu dan akan menolak keinginannya itu.


Rindu tersentak terkejut mendengar perkataan dari Erka yang mengetahui jika dirinya kedatangan Angga Pratama Kusuma ke rumahnya siang hari itu.


"Kenapa ia tahu apa yang terjadi di dalam rumahku, ini orang cenayang apa sampai-sampai mengetahuinya?"cicitnya dengan keheranan sambil memperhatikan seksama sekitar rumahnya itu.


"Kamu tidak perlu mencari keberadaan ku yang aku inginkan kamu menjawab pertanyaanku saja apa kamu setuju untuk datang atau tidak, bukan yang lainnya!" Kesalnya Erka karena ia melihat seorang pria yang berdiri tidak jauh dari tempat duduknya Rindu terus menguping pembicaraan mereka.


Erka menggenggam kertas yang kebetulan berada di dalam genggamannya dengan kuat hingga kertas itu kusut tak terbentuk seperti semula.


"Apa yang terjadi dengannya kenapa tiba-tiba ia marah, aku kan belum menjawab pertanyaan juga lagian aku sama sekali tidak menolak keinginannya juga," gerutunya Rindu yang menghentakkan kakinya saking gemesnya dengan sikapnya Erka.

__ADS_1


"Jadi gimana apa kamu setuju bertemu denganku sore nanti atau tidak! Hanya itu yang aku inginkan dari kamu kok enggak lebih, tapi mungkin kamu berharap seperti apa yang sering kita lakukan dulu," kelakarnya Erka yang sengaja berkata seperti itu.


Rindu kembali dibuat terenyuh setelah mendengar perkataan dari mulutnya Erka Mandala Jauhari.


"Tapi, Abang aku sama sekali tidak bermaksud dan berniat menjadi orang ketiga diantara hubungan rumah tangga Abang,nanti orang akan mengira aku adalah perempuan pelakor lagi yang akan merebut suami wanita lain!" dengusnya Rindu.


"Kalau kamu tidak ingin jadi pelakor makanya datang saja di Kafe Sentosa hanya seorang diri dan kamu akan mengetahui semua tentang apa yang akan aku katakan dan pasti kamu ingin ketahui hal tersebut iya kan jadi datang saja di kafetaria yang sudah aku sebutkan tadi dan ingat sesudah shalat ashar aku menunggu kehadiranmu karena sudah lama aku ingin makan bersamamu aku juga sudah lama merindukan suapan langsung dari tanganmu," jelasnya Erka yang sedikit memberikan bumbu candaan dalam percakapannya tersebut.


"Baiklah, aku akan datang di Kafe Sentosa setelah shalat ashar," ujarnya Rindu.


Setelah Rindu mengatakan seperti itu, sambungan telpon pun terputus. Rindu kembali kf dalam rumahnya setelah berbicara lewat telpon dengan papanya Bintang Airen Mandala dengan Kejora Aysila Mandala.


"Mungkin jalan yang terbaik aku harus bertemu dengannya karena aku tidak mungkin terus hidup seperti ini, jikapun kami sudah bertemu dan berbicara empat mata mungkin hati ini bisa lega untuk mengikhlaskan kepergiannya, tapi apa aku bisa rela mengikhlaskannya hidup dengan perempuan lain, apa aku mampu untuk melihatnya setiap hari bersama dengan perempuan lain, baru memikirkannya saja sanggup membuatku hancur berkeping-keping apalagi aku harus melihatnya dengan kedua mata kepalaku, aku tidak mampu ya Allah…," batinnya Rindu yang tubuhnya sudah bergetar hebat dalam tangisnya.


Hidup ini tak akan indah


Ceria ini tak kan ada


Tanpa kau ada di sisi


Kekasihku, kau bunga mimpiku


Tiada yang lain hanya dirimu


Yang kusayang dan selalu kukenang

__ADS_1


'Kan selalu bersama dalam suka dan duka


Dirimu satu yang kumau


takkan lagi ada selain dirimu


Cinta suci hanyalah untukmu


Dengarlah kasih, kaulah dambaanku


Walau kan datang badai menghadang


Kita kan selalu bersama


Tetap satu dalam cinta


Tiada yang mampu merubah


Wajah manis yang lembut dan ayu


Bagaikan untaian mutiara


Takkan kulepas hingga akhir masa


Kan selalu bersama dalam suka dan duka.

__ADS_1


Rindu duduk di atas ayunan putri kecilnya yang sengaja ia buat untuk tempat bermain kedua anak kembarnya. Air matanya terus menetes membasahi pipinya. Angga Pratama memperhatikannya sedari tadi, hatinya terenyuh dan tersentuh melihat perempuan yang disayanginya harus hidup menderita hampir sepuluh tahun lamanya.


__ADS_2