
Pelukan hangat dari Ibu Putri Meutia Hatta membuat emosi, kemarahan, kesedihan Naufal bisa reda dan pikirannya sudah tenang.
"Istighfar Nak, mungkin ada alasannya sehingga Pelangi bersikap seperti itu,besok coba kamu datang berkunjung ke rumahnya lagi untuk bertanya langsung apa sebenarnya yang terjadi, jangan cepat mengambil kesimpulan dari satu sisi saja."
Perkataan nasehat dari Bundanya itu mampu membuatnya berfikir jernih dan lebih bisa berdamai dengan situasi dan kondisinya sekarang.
"Nak apa yang kamu katakan ini, apa maksudnya Bunda sama sekali tidak mengerti tapi, semua yang kamu katakan tidak benar adanya, kamu pemuda yang ganteng,baik hati,sholeh, rajin dan ulet dan punya usaha sendiri, kenapa gadis yang bernama Pelangi itu memutuskanmu?"
Naufal berdiri di balkon kamarnya, aroma air hujan yang membasahi bumi tercium karena adanya tiupan angin hingga membawa bau tanah basah hingga ke rongga penciumannya itu. Desiran angin malam membuat bulu kuduknya berdiri karena dinginnya cuaca dan udara malam hari itu, tapi sama sekali tidak menyurutkan niatnya untuk berdiri tempatnya semula.
"Pelangi aku sangat mencintaimu sejak pertama kali aku melihatmu cintaku ini sudah tumbuh, tapi semakin bertambah besar ketika kita melewati kebersamaan yang tidak akan pernah aku lupakan hingga maut pun menjemputku, rasa sayang dan cintaku padamu tidak akan pernah berubah dan goyah sedikit pun itu janjiku padamu Pelangi Arunnika Rahmany," air matanya setitik demi setetes menetes membasahi pipinya sebagai tanda kesedihan dan luka lara hatinya.
Keesokan harinya, Kejora memutuskan untuk pulang ke rumahnya,dia tidak peduli dengan kemarahan yang akan ia dapatkan jika bertemu dengan papanya Erka Mandala Jauhari.
Pintu berdaun dua itu terbuka lebar dan masuklah Kejora Aysila Mandala dengan berjalan sangat pelan. Ia mengamati setiap sudut pojok ruangan rumahnya yang hampir empat bulan terakhir ini ia tinggalkan.
"Nona Kejora!" Teriaknya Bu Siti Aminah asisten rumah tangganya itu yang melihat kedatangan Kejora.
__ADS_1
Kejora yang hendak menaiki undakan tangga segera terhenti," eh Bu Siti, apa Papa ada Bi?" Tanyanya Kejora.
"Tuan besar pergi bersama Nona Senja dan Den Arjuna, Nona," jawabnya Bibi Siti.
Kejora bisa bernafas lega karena papa dan kedua adik sepupunya itu tidak ada di tempat.
"Memang kemana mereka perginya bi?" Tanyanya Kejora yang mulai kepo.
"Kalau gak salah ke rumahnya Pak Budianto Non, itu sepupunya bapak anak keduanya menikah hari ini," jelas Bu Siti lagi.
"Tapi, kok pulang sendiri yah Non,bibi kira Nona tinggal di Kuala Lumpur Malaysia bareng suami Nona Tuan Muda Noah Javier Rizaldi," imbuhnya Bibi Siti Aminah.
Kejora langsung salah tingkah karena melupakan hal sebesar itu," ehh a-nu bibi, saya pulang duluan karena kebetulan saya merindukan Papa sedangkan suamiku nanti nyusulnya," kilahnya Kejora yang terpaksa harus berbohong menutupi kenyataan yang ada.
Kejora segera ngacir dari tangga, ia tidak ingin berlama-lama berbicara dengan asisten rumah tangganya itu, karena dia tidak ingin keceplosan atau pun salah bicara yang berujung akan fatal jadinya.
"Maksudnya siapa yang menikah dengan pria cacat itu, tapi kenapa mereka ngomong kalau itu aku, apa ada perempuan yang mirip denganku menggantikan posisiku,tapi siapa dan tidak mungkin wajah kami mirip persis kan? Apa jangan-jangan itu adalah Pelangi, apa mereka salah tangkap dan mengira itu adalah saya, karena Pelangi juga tiba-tiba menghilang tanpa jejak sedikitpun,"
__ADS_1
Kejora menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjangnya yang sudah lama ia rindukan. Selama menjadi Pelangi ia hanya tertidur di atas kasur kapuk biasa saja. Ia melupakan sejenak tentang siapa perempuan yang menjadi kejora yang menikah dengan anak dari sahabat baik kedua orang tuanya itu.
"Auuhh!!" Dia kembali mengeluh perih ketika dia bergerak cepat untuk menimbulkan gesekan yang cukup besar sehingga bagian sensitifnya sakit.
"Ternyata sakitnya tidak sebanding dengan rasa enaknya," gumamnya Kejora lalu berjalan perlahan dan sedikit tertatih ke dalam kamar mandinya.
Jauh dari kediaman keluarga Jauhari, seorang pria sedang berjabat tangan karena untuk kedua kalinya dalam hidupnya untuk kembali menikahi seorang perempuan yang statusnya masih istrinya itu dengan nama yang berbeda.
Ruangan itu cukup sederhana, tapi dihiasi dengan ornamen pernikahan ala budaya Indonesia. Setelah dari butik dan salon, sekarang Pelangi sudah duduk dengan manis dan patuh di atas ranjang ditemani beberapa wanita yang kebanyakan dari timur tengah seperti, Pakistan, Aljazair, Arab, Qatar dan juga ada beberapa yang dari Indonesia.
Mereka menjadi saksi pernikahan antara Pelangi Arunnika Rahmany Jauhari dengan Noah Javier Renaldi. Keputusannya Noah menikahi Pelangi sesuai dengan nama yang tertera di kartu tanda penduduknya saja bukan nama sebenarnya yaitu Bintang Airen Mandala.
"Saya terima nikah dan kawinnya Pelangi Arunika Rahmany Jauhari binti Erka Mandala Jauhari dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" Dengan sekali tarikan nafas Noah berhasil mengucapkan ijab kabul dengan cukup lantang dan tegas.
"Bagaimana para saksi apakah Sah!?"
"Sah!!" Jawab mereka serentak dengan bahasa dan aksen yang berbeda-beda karena semua saksi yang hadir di dalam ruangan majelis pertemuan itu berasal dari mancanegara yang berbeda yang dengan sukarela hadir memenuhi undangan khususnya Noah.
__ADS_1