Rindu Bintang Kejora

Rindu Bintang Kejora
Bab. 102


__ADS_3

"Saya harus pergi dari sini agar Mas Veri tidak melihatku lagi untuk selamanya, aku sudah melakukan kesalahan fatal dalam hidupku yang semoga saja aku tidak menyesali semuanya," gumamnya Najwa Ayumi Ariesta Rizaldi.


Najwa pergi dari dalam kamar hotel itu dengan diam-diam berjalan mengendap-endap. Walaupun dalam keadaan yang tidak baik-baik saja, Najwa memaksakan dirinya untuk cabut dari tempat yang penuh dengan kenangan yang cukup membuatnya entah sedih atau kecewa ataupun marah.


Najwa berjalan celingak-celinguk melihat sekitarnya,apa ada seseorang yang melihatnya keluar dari hotel dalam keadaan seperti itu di pagi buta.


"Semoga saja aku tidak bertemu dengan pria itu, aku terlalu bego melakukan apa yang diinginkannya itu," sesalnya Najwa seraya memukul setir mobilnya itu.


Veri sebenarnya menyadari dan juga melihat kepergian Najwa,tapi Ia tidak berniat untuk menghentikan apa yang dilakukan oleh Najwa perempuan yang sudah mulai dia cintai itu.

__ADS_1


"Kamu sudah berada di dalam genggaman tanganku, karena kau sudah menjadi milikku seorang," cicitnya Veri Ahmed Ali Miller.


Najwa mematikan mesin mobilnya dengan sangat pelan,agar orang-orang di rumahnya tidak ada yang curiga jika, ia nginap di luar rumah.


"Semoga saja Papi dan Mami belum bangun, Mbak Siti juga yang kadang cerewetnya enggak ketulungan itu masih ngorok di dalam kamarnya," lirihnya Najwa sambil mencari kunci pintu rumahnya itu di dalam tas handbagnya.


Najwa kembali berjalan ke dalam rumahnya bagaikan seorang pencuri yang sedang melakukan aksinya di subuh itu. Setelah berada di dalam ruangan tamunya, ia tidak melihat tidak ada orang yang bangun dari tidur panjangnya, ia mengelus dadanya dengan penuh bahagia.


Najwa sesekali mengeluh kesakitan ketika berjalan, tapi ia terus berusaha untuk menahannya rasa sakit yang menderanya itu.

__ADS_1


"Ish sakit banget, kenapa enaknya dengan sakitnya sama sebandingnya,andai aku tahu seperti ini saya pasti tidak akan memenuhi permintaan Mas Veri," cicit Najwa yang segera membuka pintu kamarnya itu.


Tubuhnya Najwa bersandar di pintunya, rasa berdebar kencang yang sebelumnya dia rasakan mulai berangsur normal dan membaik. Rasa takut,cemas dan khawatir awalnya sangat ia rasakan, tapi setelah berada dalam kamarnya rasa itu seperti menguap ke udara hingga tak berbekas.


Najwa masuk ke dalam kamar mandi," semoga dengan berendam air hangat,rasa perih dan ngilunya berkurang,"


Najwa masuk ke dalam bathubnya itu, ia bersandar pada dinding bathub itu yang terkadang tersenyum tipis jika mengingat kembali apa yang terjadi padanya beberapa jam yang lalu. Ia kadang tersenyum sendiri dan raut wajahnya memerah saking malunya jika, harus kembali teringat ketika ia meminta lagi pada pria yang jelas-jelas bukan suaminya.


Najwa mengelus perutnya itu," apa aku akan hamil,tapi itu sangat mustahil karena dokter sudah memvonis aku jika, aku tidak bisa menjadi seorang perempuan yang seutuhnya seperti perempuan lainnya yang diluar sana yang hamil dengan anak dari pria yang mereka sayangi,"

__ADS_1


Air matanya menetes membasahi pipinya itu, ia tak kuasa menahan kesedihan dan tangisannya jika, harus dihadapkan pada situasi kenyataan pahit yang selama ini dia tutupi dan rahasiakan dari semua orang terutama anggota keluarganya itu.


__ADS_2