
Hari ini rencananya Noah Javier Rizaldi dan istrinya Pelangi Arunika Rahmany atau nama aslinya Bintang Airen Mandala Jauhari. Noah yang melihat istrinya hari ini semakin cantik saja, yang sedang duduk di depan meja riasnya.
Noah mendekap tubuh istrinya itu dari arah belakang," sayang kok hari ini kamu semakin cantik saja, kalau seperti ini Abang akan selalu jatuh cinta setiap hari," pujinya Noah seraya mengecup puncak hijabnya Pelangi.
Pelangi yang mendengar pujian dari mulut suaminya itu tersenyum penuh kegembiraan, lalu membalik tubuhnya untuk menghadap ke arah Noah.
Pelangi mengalungkan tangannya ke lehernya Noah," gimana aku enggak semakin cantik sayang, setiap hari aku mendapatkan kasih sayang dan cinta kasih yang tulus yang semakin banyak jumlahnya setiap hari dari suamiku, hingga mampu membuatku semakin cantik dan bersinar saja," imbuhnya Pelangi.
"Abang sangat bahagia mendengar perkataanmu itu," pungkasnya Noah sambil menangkupkan kedua tangannya di dagunya Pelangi.
Noah kemudian mencium bibirnya Pelangi, baru saja ingin memperdalam ciumannya tapi, pintu kamarnya tiba-tiba diketuk oleh seseorang dari arah luar.
Tok.. tokk..
"Pelangi, apa kamu sudah siap?" Tanya Nagita kakak iparnya Pelangi.
"Tunggu Mbak, saya sudah siap kok sedari tadi!" Balasnya Pelangi yang terpaksa harus berteriak seperti itu agar kakak dari suaminya itu mampu mendengar suara teriakannya.
Pelangi tersenyum tipis menanggapi sikap lucu suaminya yang ngambek dan merajuk gara-gara kegiatannya pagi itu terganggu. Pelangi mengecup sekilas sebelum membuka pintu kamarnya itu.
Pelangi berbisik," sabar setelah aku pulang Abang bisa melakukannya lagi hingga Abang nyerah sendiri," bisiknya Pelangi dengan seringai liciknya itu.
Noah semakin tersenyum penuh kebahagiaan mendengar perkataan dari Istrinya sendiri yang setiap hari dari pernikahannya membuatnya bahagia.
__ADS_1
Nagita menatap ke arah Pelangi yang hari ini penampilannya berbeda dari biasanya itu. Sehingga kedua bola matanya melotot saking kagetnya melihat Pelangi yang tampil sangat cantik dengan balutan gaun pesta yang sangat pas dan cocok di tubuhnya hingga warna kain gaunnya sangat cocok dengan warna kulitnya itu.
Pelangi tersenyum lebar lalu menarik tangannya Nagita," Mbak kok bengong saja, katanya sudah hampir terlambat ue acara pestanya tapi,kok masih melamun berdiri mematung seperti patung saja," candanya Pelangi yang menertawakan perilaku kakaknya itu.
"Ayok jangan biarkan Mbak Najwa dan Mami menunggu kita terlalu lama," tukasnya Nagita Ayana Agatha Rizald.
"Let's go Mbak," balasnya Pelangi.
Hari ini, mereka berencana akan menghadiri resepsi pernikahan dari bosnya Veri Ahmed Ali Miller calon suaminya Najwa Ayumi Ariesta yang rencananya dua minggu lagi akan menyusul mereka. Sedangkan Nagita Ayana Agatha bersama kekasihnya Nasriel rencananya setelah perceraiannya dengan mantan istrinya setelah ketok palu barulah mereka resmi bertunangan.
Berselang beberapa menit kemudian, entah kenapa perasaannya Pelangi sangat gelisah dan seperti seseorang yang sedang meresahkan banyak hal.
"Ya Allah… apa yang akan terjadi,kenapa dadaku seolah bergetar hebat dan bergemuruh," batinnya Pelangi sebelum naik ke mobil menyusul mama mertuanya dan juga kakaknya.
"Pak supir tolong mampir sebentar saja di depan toko depan belokan,ada yang ingin aku ambil," pintanya Nagita kepada supir pribadi maminya itu setelah mobil yang mereka tumpangi sudah melaju menbelaah jalan ibukota Jakarta.
"Ini saatnya yang tepat, saya tidak boleh melewatkan kesempatan emas ini mumpung dia kebetulan pengen menyebrang kapan lagi punya kesempatan sebagus ini," Gumamnya yang tersenyum penuh kelicikan.
Sebuah mobil berwarna sedan putih melaju dengan kecepatan sangat tinggi yang datang dengan tiba-tiba. Nagita Ayana Agatha yang turun dari mobilnya tanpa memperhatikan dengan seksama karena kondisi jalan yang dilaluinya itu.
Pelangi yang melihat kejadian itu segera turun dari mobilnya dan berlari kecil ke arah Nagita. Ia tidak berfikir dengan kondisinya sendiri, sedangkan Najwa dan Bu Annisa yang melihat Pelangi turun dari mobilnya dengan terburu-buru kaget dengan kejadian itu. Mereka pun mengarahkan pandangannya ke arah Pelangi.
"Mbak Nagita awas!!" Teriaknya Pelangi yang berlari kencang ke arahnya Nagita kemudian menarik tangannya Nagita sekuatnya.
__ADS_1
"Aahhh!!" Teriak Pelangi yang tubuhnya tertabrak mobil sedan putih yang sama sekali tidak peduli dengan apa yang dilakukan tabraknya karena mobil itu melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Nagita yang menjadi target sasaran dari mobil itu juga terlempar hingga ke pinggir jalan. Sedangkan Pelangi terlempar beberapa meter dari tempatnya semula.
"Pelangi!! Nagita!!" Teriaknya Bu Annisa.
Beberapa pengguna jalan sekitar tempat itu, segera berdatangan dan terkejut mendengar teriakannya Bu Annisa yang cukup tinggi dan melengking tinggi itu. Mereka secepatnya memeriksa kondisi Pelangi dan Nagita yang cukup parah kondisinya.
"Cepat bawa ke rumah sakit, korban yang satunya sepertinya sedang hamil, lihatlah banyak banget darah segar yang mengucur dari ************ pahanya," ujar seseorang saksi mata.
"Pak Udin cepat angkat tubuh kedua putriku!" perintahnya Bu Annisa seraya memeriksa kondisi Pelangi.
"Najwa telpon Noah dan Papimu cepat!" jeritnya Bu Annisa yang sudah nampak khawatir dan juga ketakutan melihat kondisi Pelangi.
"Mami ja-ngan pe-du-li-kan a-ku to-long Mbak Na-gi-ta sa-ja," lirihnya Pelangi sebelum menutup matanya.
"Tidak!! tolong Pak bantu kami untuk mengangkat kedua putriku," ratapnya Bu Annisa Sanustika.
Kecemasan terlihat dari wajah mereka, tidak lama kemudian mereka sudah berada di dalam ruangan UGD untuk menjalani pemeriksaan dan tindakan medis selajutnya.
Pelangi mengalami keguguran akibat insiden tersebut, sedangkan Nagita mengalami patah tulang di bagian kakinya. tapi sudah dioperasi. semua anggota keluarganya sudah datang di tempat rumah sakit untuk menunggu Nagita dan Pelangi.
Rasa cemas panik, takut terlihat jelas dari raut wajah mereka. Tapi berkat pertolongan Allah SWT dan tim dokter mereka pun akhirnya terselamatkan.
__ADS_1
Satu minggu kemudian...
Pelangi dan Nagita sudah pulang ke rumah masing-masing, kecelakaan itu sudah diselidiki oleh pihak kepolisian dan menangkap pelakunya juga. Awalnya mereka marah tapi, akhirnya bisa memaklumi dan menerima kesalahan perempuan itu yang tidak lain adalah keluarga mereka sendiri. Kehidupan mereka kembali berjalan normal seperti sebelumnya.