Rindu Bintang Kejora

Rindu Bintang Kejora
Bab. 76


__ADS_3

"Senja, Mbak enggak antar kamu soalnya Mbak buru-buru kamu nebeng saja dulu sama Arjuna ke kampus, gimana apa Arjuna setuju kalau Senja tidak masalah kan dek?" Tanyanya Kejora seraya menyeka ujung bibirnya itu.


Keduanya menatap bersamaan ke arah kakak sepupunya itu," tidak masalah kok Mbak kan Arjuna diantar sama supir pribadi yang baik hati enggak sombong pasti tidak mempermasalahkan semua itu," tukas Arjuna.


"Kalau gitu aku pamit yah, assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh,"


Kejora berjalan sesekali memegang keningnya, karena kepalanya terasa sakit. Kejora sudah berada di dalam kelasnya untuk mengikuti mata kuliahnya yang terakhirnya itu. Kejora melanjutkan pendidikan S2 nya di Indonesia karena, dia tidak ingin pergi jauh keluar negeri dan meninggalkan papanya. Bagi Kejora di dalam negeri juga kualitas pendidikan juga tidaklah kalah dari luar negeri.


"Kejora, apa kamu baik-baik saja?" Tanyanya Dara temannya Kejora yang kebetulan duduk di kursi sebelah kanannya itu.


"Enggak tahu ini, tiba-tiba kepalaku seraya berdenyut nyut-nyutan," jawab Kejora yang mengurut pelipisnya itu.


"Wajah loh pucat banget, kamu harus periksakan ke dokter kondisimu setelah ini, karena saya khawatir ada yang aneh pada kesehatanmu untuk agar apa yang terjadi padamu segera ditangani dengan baik," ujarnya Dara Adinda Sultan.


"Thanks Bestie atas perhatiannya, kalau gitu aku pamit, perasaanku enggak enak banget, ini mungkin beberapa hari ini tidur, istirahat dan makanku enggak teratur jadi seperti ini," tutur Kejora yang meraih tasnya lalu segera berpamitan kepada Dara teman baiknya selama ini.


Kejora yang menghilang itu harus cuti satu semester. Seharusnya sudah lama ia lulus tapi, perjodohan yang dialaminya membuatnya harus cuti dari kampusnya sehingga pendidikannya dan gelar S2 nya terhambat dan tertunda.


Kejora secepatnya berjalan ke arah parkiran mobil, ia baru teringat jika sudah dua bulan lebih belum datang bulan. Sehingga ia mulai curiga dengan kondisinya itu.


"Sebaiknya aku ke apotek untuk memastikannya terlebih dahulu sebelum ke rumah sakit,tapi semoga saja dugaanku salah dan keliru, aku tidak ingin hamil yah Allah… apa yang akan terjadi padaku jika aku hamil padahal aku belum menikah sedangkan pria yang telah melakukan itu padaku sama sekali tidak mencintaiku," lirihnya Kejora.


Untungnya jarak tempuh dari kampusnya terbilang singkat dekat, sehingga ia masih sanggup untuk menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang dengan kepalanya yang pusing itu. Kejora segera masuk ke dalam apotek tersebut, ia tidak mengunci pintu mobilnya karena daerah itu cukup aman dari jangkauan penjahat.


Dengan berjalan tertatih dan sempoyongan, Kejora masuk ke dalam ruangan apoteker itu. Setelah mendapatkan barang yang diinginkannya,ia kembali melanjutkan perjalanannya ke salah satu toilet umum yang ada di samping apotek.


"Bismillahirrahmanirrahim semoga negatif," cicitnya Kejora seraya melakukan tes pada urine-nya.


Berselang sekitar beberapa menit kemudian, hasilnya pun sudah ada. Matanya melotot saking kagetnya melihat keterangan di atas tespack itu. Apa yang ditakutkannya terjadi juga, Ia positif hamilkn. Betapa hancur berkeping-keping remuk redam hatinya setelah mengetahui jika, dirinya hamil.

__ADS_1


Air matanya menetes membasahi pipinya itu, ia tidak percaya akan hal itu. Tetapi itulah kenyataannya dia hamil anaknya pria yang sudah ia tinggalkan dan campakkan setelah mereka melewati malam yang begitu panjang dengan air rintikan hujan yang turun lebatnya sore itu.


"Tidak!!" Kejora berteriak kencang di dalam kamar kecil itu dengan menutup mulutnya agar tidak ada yang curiga dan mengetahui apa yang telah terjadi padanya.


Tubuhnya terduduk di atas closed, air matanya semakin membanjiri wajahnya itu. Dia tidak menduga jika perbuatannya itu bisa berakibat fatal seperti ini. Padahal seingat mereka hanya melakukan dua kali saja kala itu. Lalu mereka berpisah dan tidak pernah lagi bertemu ataupun saling berkabar tentang kehidupan mereka.


"Naufal Arian Budianto, gue hamil anak loh!!" Pekiknya Kejora lagi.


Kejora segera secepatnya pergi dari tempat tersebut, tapi ia tidak tahu harus kemana lagi. Langkahnya sempoyongan ke arah mobilnya. Ia kemudian masuk ke dalam mobilnya dalam keadaan yang sangat mengkhawatirkan.


Rasa mual dan pusing kembali menderanya. Dia hendak memutar stok kontak kunci mesin mobilnya,tapi ia tidak mampu melakukan hal tersebut. Hingga ia terjatuh pingsan dengan kepalanya bersandar di setir mobilnya itu.


Satupun tidak ada yang curiga dengan apa yang terjadi padanya. Karena semua orang yang berlalu lalang di tempat itu masing-masing punya kesibukan sendiri-sendiri.


Adzan magrib telah berkumandang, seseorang yang baru saja turun dari mobilnya tanpa sengaja mendengar seseorang yang berbicara. Satunya tukang parkir dan satunya tukang becak yang kebetulan mangkal di depan halaman apotek.


"Rido, apa kamu perhatikan mobil itu sejak siang dan sekarang sudah malam mobilnya itu belum pergi juga, apa pengemudi dan pemiliknya ketiduran?"


"Tadi kalau enggak sengaja aku perhatikan seperti dari dalam toilet,ia menangis tersedu-sedu dan berjalan sempoyongan dengan menenteng sebuah kantong kresek di tangan kirinya itu," jelas Rido lagi.


"Apa jangan-jangan pemilik mobil itu pingsan tak sadarkan diri yah," tebaknya Somad.


"Bisa jadi Bang," imbuh Rido.


Pria yang mendengar perkataan dan percakapan dari keduanya itu segera mendekati mobil tersebut. Dia mencoba membuka pintu itu, tapi ia bersyukur karena ternyata tidak terkunci. Ia semakin penasaran karena beraninya tidak mengunci mobilnya dengan kondisi yang seperti itu.


Matanya terbelalak melihat seorang perempuan muda dengan hijab berwarna pastel kuning itu sudah tergeletak dalam posisi yang tangannya terlentang ke bawah dan matanya terpejam.


"Mbak bangun, apa yang terjadi padamu?" Tanyanya yang berusaha menyadarkan Kejora.

__ADS_1


Somad dan Rido segera berjalan ke arah orang itu yang setengah berteriak untuk membangunkan pemilik kendaraan yang bernomor plat polisi 4356 itu.


"Apa yang terjadi Pak?"6 tanya Ridho.


"Ini Pak Mbak ini sepertinya pingsan karena sudah lama aku bangunin tapi,gak sadar juga," jelasnya orang itu.


"Gimana kalau disandarkan ke jok mobilnya supaya kita lihat dengan jelas apa yang terjadi padanya," usulnya Shomad.


Tanpa menunggu lama orang itu segera menjalankan saran dari Somad. Matanya kembali melotot saat menyadari siapa perempuan muda yang terbaring lemah itu.


"Ya Allah… Pelangi Arunika Rahmany," teriaknya yang saking panik dan takutnya ia menyebut namanya Pelangi dengan lengkap.


"Apa Tuan mengenalnya?" Tanya Rido.


"Dia calon istriku Pak," jawab Naufal Arian Budiyanto.


"Kalau gitu secepatnya bawa ke rumah sakit saja Pak sebelum terlambat," usulannya Pak Somad.


"Pak aku titip dulu mobilku,nanti akan ada yang datang mengambilnya aku akan antar calon istriku ke rumah sakit," ujarnya Naufal yang jelas terlihat di raut wajahnya yang ketakutan, cemas, panik bercampur menjadi satu bagian di dalam pikiran dan hatinya itu.


Dengan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup terbilang tinggi itu. Naufal terus melaju di atas aspal malam itu juga.


"Pelangi apa yang terjadi padamu sayang, kenapa kamu seperti ini?" Lirihnya Naufal.


Berselang beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di depan lobi rumah sakit. Naufal segera menggendong tubuhnya Kejora ke dalam ruangan ICU yang cukup berat karena, memang bodynya Kejora lebih besar dari Bintang walaupun tinggi mereka nyaris hampir sama tinggi.


"Suster! Tolong!" Teriaknya Naufal sembari menurunkan tubuhnya Kejora diatas bangkar rumah sakit.


Suster dan beberapa perawat lainnya bergegas membantu Naufal untuk menangani kondisinya Kejora dengan secepatnya mendorong tubuhnya Kejora ke dalam ruangan ugd tersebut.

__ADS_1


"Tolong berikan yang terbaik kepada istriku Dokter," harapnya Nuafal setelah dokter berdatangang untuk memeriksa kondisi kesehatannya Kejora.


__ADS_2