Rindu Bintang Kejora

Rindu Bintang Kejora
Bab. 22


__ADS_3

Rindu mengerutkan kening melihat Erka yang bukannya berbicara atau pun menyanggah perkataannya. Ia hanya tersenyum smirk dan memberikan ijin dan waktu yang sebesar-besarnya untuk Rindu berbicara mengeluarkan semua uneg-uneg yang ada di dalam pikirannya saat itu juga.


"Hahaha!!" Suara tawanya Erka Mandala Jauhari membahana di dalam kafe tersebut.


Rindu melihat Erka dengan tatapan matanya yang tidak percaya sedikit pun melihat reaksinya Erka yang menurutnya di luar dugaan.


Rindu jengkel melihat pria yang ada di depannya,tapi sayangnya pria itu sangat ia sayangi dan cintai. Rindu segera meraih handbagnya yang tersimpan di atas meja, lalu secepatnya pergi dari kafe tersebut.


Erka segera mengejar kepergian Rindu.


"Ya Allah… dia masih seperti dulu tidak suka kalau dikerjain seperti ini disaat dia serius," gumamnya Erka Mandala Jauhari sang dosen pelayaran itu.


Rindu berjalan cepat ke tempat parkiran di mana Pak Abdul berada menunggu kedatangannya yang selalu setia mengantarnya kemanapun.


"Rindu!" Teriaknya Erka yang semakin memperpanjang langkah kakinya.


Rindu hanya menoleh sekilas tanpa menghentikan langkah kakinya itu. Ia sungguh jengkel melihat kelakuan Erka yang menurutnya mempermainkannya.


"Apa dia sengaja jadikan aku sebagai pelakor! Tega banget Abang Erka membuatku kembali harus mengubur dalam-dalam harapanku untuk bersamanya,tapi itu tidak mungkin bisa terjadi karena aku dan dia sudah tidak ada jalan untuk bersama seperti dulu lagi, aku memang sangat mencintainya tapi, aku tidak boleh dan tak mungkin egois untuk hidup bersama dengan pria yang sudah beristri," ketusnya Rindu lalu memutar kenop pintu mobilnya.


Tetapi, langkahnya terhenti ketika ada seseorang yang menarik tangannya dengan kuat hingga tubuhnya menabrak dada bidang pria yang diomelin sedari tadi. Rindu segera memberontak ingin melepaskan dirinya dari dalam pelukan Erka.

__ADS_1


Rindu menatap jengah ke arah Erka dengan tatapan yang sama sekali tidak membuat Erka terpengaruh ataupun terprovokasi sedikitpun.


"Tolong lepasin! Saya tidak ingin disentuh oleh pria yang sudah beristri!" Dengusnya Rindu yang dipeluk erat oleh Erka yang hanya tersenyum menanggapi ocehan Rindu.


"Jadi, kalau aku bukan suami orang berarti aku bebas meluk kamu begitu!?" Guraunya Erka yang tersenyum penuh maksud.


Rindu yang mendengar perkataan dari mulutnya Erka segera bertindak, dia sekuat tenaga melepaskan pegangan tangannya Erka dari pinggangnya.


"Intinya saya tidak akan mengijinkan pria manapun menyentuhku lagi, cukup yang telah lalu, apa lagi pria yang sudah beristri seperti Anda!" Gerutunya Rindu yang menatap tajam Erka.


Erka mendorong tubuhnya Rindu hingga berhimpitan dengan mobilnya. Erka kemudian memegang kedua tangannya Rindu dengan sedikit menggunakan kekuatan dan tenaganya itu.


"Coba kamu lihat kedalam kedua bola mataku, apa kira-kira aku sudah menikah atau belum?" Tanyanya Erka yang sedari tadi tersenyum smirk.


"Maaf, untuk apa aku melihat ke dalam bola matanya, emangnya kalau aku lihat status kamu akan langsung berubah menjadi pria single!" Kesalnya Rindu lagi yang tidak berani saling bertatapan satu dengan lainnya.


Erka menangkupkan kedua tangannya di dagunya Rindu," Rin! Lihat Abang dan dengarkan perkataanku dengan baik-baik, saya Erka Mandala Jauhari sama sekali belum pernah menikah dan jika saya harus menikah itu dengan perempuan yang benar-benar saya sayangi dan cintai, Senja itu bukan anakku tapi, anaknya adikku Elisya yang sudah meninggal dunia sejak Senja baru berusia enam bulan dalam kecelakaan pesawat bersama suaminya." Jelas Erka dengan penuh keyakinan.


Apa yang dijelaskan oleh Erka membuat Rindu shock, terkejut dan sekaligus bahagia karena ternyata papa kandung dari putri kembarnya itu belum menikah dengan perempuan manapun.


Rindu menutup mulutnya,air matanya menetes membasahi pipinya dengan tanpa aba-aba. Lidahnya spontan keluh tanpa mampu bisa berucap sepatah katapun. Rindu tergugu dalam tangisnya,ia bahagia sekaligus sedih karena demi dia pria yang sangat penting dalam kehidupannya itu, memilih untuk membujang seumur hidupnya karena menunggu, menanti dan mencari keberadaannya selama beberapa tahun terakhir ini.

__ADS_1


Erka berlutut di depannya Rindu," Rindu Adinda Chandani Burhan maukah kamu menikah denganku,menua bersamaku hingga melewati sisa kehidupan kita bersama dengan kedua anak kembar kita!" Pintanya Erka yang berharap penuh kepada Rindu agar lamarannya diterima oleh Rindu.


Rindu semakin menangis tersedu-sedu melihat betapa sungguh-sungguhnya Erka pria yang sangat ia rindukan dan cintai seumur hidupnya itu sedang memintanya untuk menikahinya.


Rindu menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan lamarannya Erka," aku bersedia menikah dengan Abang dan menjalani sisa hidup kita hingga kakek nenek," imbuhnyal Rindu yang masih berlinang air matanya itu.


Rindu sangat bahagia mendengar perkataan dari Erka. Dia tidak menyangka jika hari ini, adalah hari dia dilamar oleh pria yang sudah hampir sepuluh tahun lamanya ia tunggu kedatangannya.


Rindu membantu Erka Mandala Jauhari untuk berdiri dari posisi berlututnya. Ia tersenyum bahagia karena penantian panjangnya akan berakhir dengan bahagia. Rindu tanpa basa-basi segera memeluk tubuhnya Erka dengan erat.


"Abang, kemana saja, aku sangat merindukan Abang," imbuhnya Rindu seraya memeluk erat tubuhnya Erka pujaan hatinya yang sudah memberikan dia dua orang putri kembar yang sangat cantik dan pintar.


"Sudah, jangan menangis lagi, cukup sudah air matamu menetes membasahi wajah cantikmu, Abang tidak ingin melihat kamu kembali untuk bersedih dan maafkanlah Abang yang terlambat menemuimu dan mencari mungkin," imbuh Erka sambil meraih tangannya Rindu untuk segera disematkan sebuah cincin yang sangat indah itu ke dalam jari manisnya Rindu dengan penuh kelembutan.


Erka membantu menyeka air matanya Rindu dengan menggunakan tangan kanannya itu. Sedangkan Rindu sama sekali hanya terdiam saja tanpa ada pergerakan yang berarti dan suara yang tidak baik untuk cukup mengungkapkan perasaannya masing-masing.


"Bagaimana kalau kita pergi ke sekolahnya Bintang dengan Kejora, sepertinya sudah waktunya mereka balik dari sekolahannya," pintanya Erka.


Rindu segera menyuruh Pak Abdul Qodir untuk pulang duluan karena,ia akan pergi menjemput anaknya bersama dengan Erka.


Rindu mendekati pintu kemudi mobilnya itu lalu tersenyum ramah dan juga malu karena apa yang sedang mereka lakukan pasti dy dengar langsung oleh Pak Abdul,"Pak,kalau pulang katakan pada bibi Surti untuk pergi ke pasar beli beberapa barang yang aku butuhkan, semua catatannya ada di atas meja nakas dalam kamarku!" pintanya Rindu ketika akan meninggalkan Abdul Qodir dengan mobilnya sendiri.

__ADS_1


"baik Nona Muda, hati-hati kalau gitu saya pamit, assalamualaikum!' jawabnya Pak Abdul Qadir.


Mobil berwarna hitam itu sudah melaju meninggalkan Erka dengan Rindu yang saling berpegangan tangan satu dengan yang lainnya itu.


__ADS_2