
"Apa yang kamu katakan benar sekali Nak, semoga Mama dan papa bawain kalian pulang adek yang ganteng," timpalnya Bu Halimah.
"Iya Mama, Senja juga bantu Mama dan papa berdoa agar kami punya dede bayi lagi," pungkasnya Senja yang ikut nimbrung dengan pembicaraan mereka.
Rindu tersipu merona malu mendengar perkataan anggota keluarganya itu. Dia tidak menduga jika anak-anaknya akan meminta hal semacam itu, padahal mereka juga baru nikah tidak mungkin setelah pulang dari bulan madu,dia akan langsung hamil.
Tapi, demi kebahagiaan mereka, Rindu dan Erka hanya menganggukkan kepalanya dan setuju dengan permintaan mereka.
"Bintang, Kejora jangan nakal yah sayang, bantu jagain adik Senja kasihan nenek Halimah jika harus menjaga kalian bertiga," ujarnya Rindu sambil mencium pipi kedua anaknya secara bergantian.
"Jangan khawatir Mama, kami pasti akan anteng saja dan tidak akan buat gaduh rumahnya nenek dan juga akan bantu jagain adek Senja," tukasnya Kejora Aysila Mandala.
Erka ngelus puncak surau anak keduanya itu dengan penuh kasih sayang," Papa bangga pada kalian dan sangat bersyukur karena selain putrinya Papa cantik, pintar dan juga baik hati suka tolongin orang lain lagi," pujinya Erka Mandala Jauhari dengan penuh kebahagiaan dengan sifat dan karakternya kedua anaknya itu.
"Percayakan semuanya pada the twins Papa, kami sudah besar bukan anak kecil lagi jadi jangan terlalu khawatir dan mencemaskan dengan kondisi dan keadaan kami di sini, mama dan papa fokus dengan kegiatan kalian berdua oke!" Imbuhnya Bintang Airen Mandala yang berpikir dewasa dengan keluarga kecilnya itu.
Setelah berbincang-bincang beberapa saat kemudian, Erka dengan istrinya Rindu Adinda Chandani Burhan sudah berangkat ke hotel ternama bintang lima yang sudah mereka pesan beberapa hari sebelumnya.
"Hati-hati Papa, Mama… jangan kendor gaspoll saja!" Teriaknya Bintang yang berteriak ketika mobil kedua orang tuanya sudah meninggalkan daerah komplek perumahan tersebut yang masih sanggup keduanya dengar.
Erka hanya menaikkan tangan kirinya lalu melambaikan ke arah ketiga anaknya yang masih berdiri di ambang pintu. Rindu menumpukan kepalanya di pundak kirinya Erka pria yang belum cukup sehari menghalalkan hubungan mereka berdua.
__ADS_1
"Abang, aku sangat bahagia sudah menjadi istrimu dan milik Abang seutuhnya," tuturnya Rindu yang tersenyum bahagia sepanjang perjalanan mereka.
Erka mengecup punggung tangannya Rindu sepenuh jiwa raganya itu. Erka pun selalu tersenyum bahagia karena penantian panjangnya berujung dengan kebahagiaan yang tidak terkira.
"Abang juga sangat bahagia karena bisa menikahimu dan memilikimu seutuhnya, maafkan Abang yang sudah membuat kamu menunggu Abang beberapa tahun lamanya, makasih banyak kamu selalu menjaga milikmu, hatimu, tubuhmu serta semua yang ada pada tubuhmu hanya untuk Abang seorang," ujarnya Erka.
Rindu tersenyum penuh bahagia mendengar perkataan dari suaminya itu," Alhamdulillah makasih banyak Abang,mari kita sama-sama mengisi sisa hidup kita ini dengan beribadah kepada Allah SWT dan penuh dengan kebahagiaan yang hakiki dan mari kita sama-sama saling mengingatkan dalam kebaikan dan tegurlah aku jika adek salah langkah dan salah dalam bertutur kata dan mari kita bersama-sama memperbaiki semua kesalahan dan kekeliruan yang dulu kita lakukan bersama," tutur Rindu.
Erka memberikan sebuah amplop putih yang sudah lusuh dan warnanya sudah sedikit pudar tidak seperti awal ia pegang. Amplop itu dulu rencananya ingin diberikan oleh Erka untuk Rindu sebelum pergi berlayar di luar negri. Tapi, dihari itu, Rindu dinyatakan sudah pulang ke kampung halamannya tanpa jejak dan kabar sedikitpun.
"Sayang bukalah amplop itu,maaf mungkin tulisannya sudah tidak jelas untuk dibaca, tapi isinya itu adalah ungkapan hatiku," ujarnya Erka sambil memberikan amplop kedalam genggaman tangannya Rindu.
Isinya seperti ini, ungkapan perasaannya Erka ketika mereka akan berpisah beberapa waktu sekitar delapan tahun yang lalu.
Aku bisa mengendus baumu
Jangan pernah lari dariku
Karena kita telah berjanji
Biar matahari bohong pada siang
__ADS_1
Pura-pura tak mau panas
Tak perlu menyiksa diri sendiri
Sembunyikan cinta yang ada
Aku tak perlu bahasa apapun
Untuk mengungkap aku cinta kamu
Aku tak pernah beristirahat
Untuk mencintai Kamu sesuai janjiku, promise
Seribu wajah menggoda aku
Yang ku ingat hanya wajah kamu
janjiku tak pernah main-main
Sekali kamu tetap kamu.
__ADS_1
Air matanya Rindu menetes membasahi pipinya setelah membaca isi kertas tersebut yang terlipat begitu rapi dan bersih di dalam sebuah amplop putih.