
"Tidak repot kok ini juga hanya minuman ringan dan kue kering saja, tidak banyak butuh waktu lama,"
Edi Prayogo yang melihat kepergian tantenya ke dapur segera berpamitan kepada istrinya itu," sayang kamu tunggu aku yah, aku mau bicara dengan Tante dulu,"
Paramitha hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan dari mulut suaminya itu. Edi berencana untuk meminta bantuan kepada tantenya itu.
"Tante apa boleh aku bicara dengan Tante sebentar saja!" Pintanya Edi.
Bu Halimah segera menghentikan menuang jus buah jeruk kedalam gelas yang baru saja ia ambil.
"Tante juga sebenarnya mau bicara tapi,kamu saja yang duluan bicaranya,"
"Sebenarnya kami menikah kawin lari Tante, kalau daerah Makassar khusunya daerah suku Makassar itu ada namanya kawin lari jika menikahi anak gadis orang lain tanpa restu dari kedua orang tuanya dan itu yang terjadi pada kami berdua," ungkapnya Edi.
"Maksudnya?"
Edi menarik nafasnya dalam-dalam," saya ketahuan menghamili Paramitha sehingga kedua orang tuanya lebih memilih untuk membiarkan anaknya itu pergi dari sana dari pada harus menikah besar-besaran dalam keadaan perut buncitnya, sehingga dengan terpaksa aku menikahi Paramitha lalu membawanya pergi dari sana jika tidak akan dibunuh oleh keluarga besarnya Paramitha karena katanya adat di daerah nya seperti itu Tante," terangnya Edi dengan panjang lebar tanpa menutupi sedikit pun yang terjadi padanya.
"Jadi Mama dan ayah kamu tahu dengan semua ini?"
Edi ikut menarik kursi yang ada di depannya lalu mendudukkan bokongnya sembari menggelengkan kepalanya itu," tidak ayah mama tidak tahu belum tahu maksudnya."
Bh Halimah memijat pelipisnya itu yang tiba-tiba pusing," anak muda sekarang sukanya mandul,"
Edi menatap jengah ke arah tantenya," mandul gimana,kalau mandul itu kami tidak akan punya calon bayi Tante," ketusnya Edi yang merasa heran dengan reaksi dan tanggapan dari tantenya itu.
Bu Halimah tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan dari keponakannya itu," ya Allah… mandul itu artinya main duluan puk!"
Bu Halimah berbicara dan menjelaskan serta mengakhiri ucapannya dengan menepuk pundaknya Edi dengan nampang yang sedari tadi dipegangnya.
"Auh sakit Tante," keluhnya Edi yang benar-benar merasakan kesakitan dibagian pundak kanannya itu.
"Tante kira kamu gak kesakitan, apa kalian setiap kali bertindak itu tidak pernah memikirkan konsekuensi dari perbuatan kalian apa? Jadi apa tidak perlu Tante katakan kepada ayah kamu juga karena kalau menurut Tante semakin cepat mereka tahu akan semakin cepat juga urusan kalian kelar juga."
__ADS_1
"Terserah Tante saja lah mana yang terbaik, saya nurut saja,kalau gitu aku ke depan dulu kasian istriku sudah nunggu lama soalnya,"
Edi segera berjalan ke arah depan tepatnya di ruang tamu. Edi juga pusing dan juga khawatir jika bertemu dengan salah satu anggota keluarganya Paramitha karena mengetahui beberapa isu tentang orang Makassar yang tinggal daerah Takalar jika ada yang kawin lari dan saling bertemu ada yang sempat dibunuh dan pihak kepolisian tidak bisa ikut campur dalam masalah tersebut.
Sehingga adat istiadat itu yang membuat Edi Prayogo kalang kabut dan pekerjaannya yang semakin bagus membuatnya sulit untuk bernafas lega dan teratur.
"Penyesalan datangnya di belakang itu selalu author bilang iya kan othor," gumamnya Edi yang melihat istrinya sudah tertidur pulas di atas sofa panjang dengan kakinya yang berselonjor.
Sedangkan di tempat lain, Rindu bergandengan tangan dengan suaminya Erka Mandala Jauhari ke dalam klinik tersebut. Mereka menjadi bahan tontonan dari beberapa pengunjung klinik dan juga pegawai klinik tersebut.
"So sweet nya mereka, jadi iri melihat mereka,"
"Iya pasangan yang sangat serasi, perempuannya cantik dan juga cowoknya cakep, semoga aku juga dapat Istri yang cantik,"
Beberapa perkataan dari mulut orang-orang tidak membuat Erka mengurangi kebucinannya. Malahan ia semakin membuat semua orang cemburu melihat kemesraan dan perhatian khusus yang diberikan kepada Rindu.
"Sayang kamu duduk di sini yah, aku ke bagian pendaftaran dulu," ucapnya Erka.
"Jangan lama yah Abang,"
Erka berjalan ke arah beberapa perawat yang bertugas untuk mencatat data-data pasien pengunjung klinik ibu dan anak tersebut.
"Maaf apa dokter Annisa ada di dalam dan kalau boleh tahu suaminya dokter Pak Rizal juga ada?"
"Kalau dokter ada sedang memeriksa beberapa pasien sedangkan suaminya ada di belakang Tuan," jawabnya Perawat itu.
"Makasih banyak atas informasinya tapi, apa aku boleh bertemu dengan Pak Rizal?"
"Boleh pak, silahkan lewat lorong itu terus saja jalannya pas ujung itu ruangannya Pak Rizal," jelas suster itu sambil menunjuk ke arah jalan.
"Sayang kita temui temannya Abang dulu yah baru kita periksakan kondisi tubuhmu, bisa kan?"
"Baik, kita ke sana dulu kebetulan aku agak kesulitan bernafas untuk mencium bau obat," ujar Rindu yang sedari tadi tidak enak badan karena mencium bau klinik yang menurutnya aneh dihidungnya.
__ADS_1
Mereka kembali bergandengan tangan menapaki setiap lorong rumah sakit. Mereka tak segan mengumbar kemesraan dan senyuman mereka.
"Berbahagialah sebelum aku datang membuat pembalasan atas apa yang suamimu lakukan padaku karena gara-gara suami kamu suamiku harus mendekam dalam penjara sudah hampir lima tahun,"
Erka tersenyum melihat sahabat baiknya sewaktu berlayar di kapal pesiar luar negeri yang sedang membersihkan kolam ikannya itu.
"Assalamualaikum Mas," sapanya Erka dari arah belakang punggungnya Kapten Rizal.
"Waalaikum salam," balasnya yang terkejut sekaligus melihat kedatangan sahabat sekaligus teman seperjuangannya sewaktu bekerja di luar negri.
Rizal segera membuang sembarang tempat selang airnya yang sempat dipegangnya itu kemudian berjalan dengan sumringah ke arahnya Erka Mandala Jauhari.
"Erka," ucap Rizal sembari memeluk tubuh tegap dan jangkung miliknya Erka.
"Mas gimana kabarnya?"
"Alhamdulillah baik seperti yang kamu lihat,"
Rizal melihat ke arah Rindu yang sejak tadi hanya tersenyum tipis sambil mendengar percakapan kedua pria dewasa itu.
"Kenalkan Mas ini Rindu Adinda Chandani istriku sekaligus ibu dari kedua anak kembarku," jelasnya Erka.
Rizal mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengingat beberapa tahun lalu tentang kekasihnya itu.
"Apa ini perempuan yang kamu katakan namanya Rindu gadis yang membuat kamu tidak bisa tidur nyenyak, makan tidak enak dan juga seolah bernafas dengan sesak karena tidak bertemu lagi dengannya?" candanya Rizal sambil mempersilakan kedua tamunya untuk duduk di salah satu gazebo kayu yang terletak di sudut halaman rumahnya itu.
Mereka berbincang-bincang santai sampai sore hari, Rindu merasa terhibur melihat banyaknya ikan mas koki dan mas koi yang berada di dalam kolam terbuka.
"Mas mau tak kerja jadi dosen di kampus tempat aku ngajar? kebetulan lagi cari tenaga pengajar beberapa orang ini dan kebetulan ada yang sesuai dengan ijasahnya Abang," tuturnya Erka.
"Saya tanya istriku dulu apa dia mengijinkan aku apa tidak karena mulai kejadian beberapa tahun lalu,Annisa sangat selektif menerima tawaran pekerjaan dari siapapun itu untukku," timpalnya Rizal.
Hingga acara praktek Dokter Annisa sudah selesai, mereka masih duduk d tempat semula tanpa ada merasakan kebosanan sedikit pun.
__ADS_1
"Sayang kesini dulu, aku kedatangan tamu spesial nih!'" teriaknya Rizal sambil menjemput kedatangan Istrinya itu.