Rindu Bintang Kejora

Rindu Bintang Kejora
Bab. 49


__ADS_3

"Putriku kamu sudah menjadi seorang istri mulai detik ini baktimu sekarang sepenuhnya pada suamimu, raihlah keridhoan dan keberkahan dalam hidupmu dan berbaktilah kepada Noah nak dan cintai serta sayangilah suamimu itu dengan setulus hatimu," ujarnya Pak Erka Mandala Jauhari ketika Pelangi sungkeman dan bersimpuh di depan pria yang sama sekali tidak dikenalinya tapi, dengan niat untuk berakting totalitas harus bersikap seperti putri aslinya itu yang ada di dalam benak pikiran Pelangi.


Kejora bersembunyi di balik tembok sebuah kafe yang baru saja dibuka. Hingga suara seruan dari seseorang mampu mengalihkan perhatiannya itu.


"Pelangi! Apa yang kamu lakukan disini?" Tanyanya Naufal Arkansa Dirga.


Kejora tersentak terkejut mendengar perkataan dari pria itu yang memanggilnya dengan panggilan Pelangi.


Kata-kata bijak itu terngiang-ngiang di telinganya Pelangi sembari menyisir rambut panjangnya itu dengan pelan. Tapi ketika pintu itu terbuka lebar, Pelangi segera memakai hijabnya karena tidak ingin rambutnya dan bagian tubuh lainnya dilihat oleh Noah yang sudah berstatus suaminya itu.


Noah tersenyum penuh maksud ke arahnya Pelangi, "Ingat baik-baik apapun yang dikatakan oleh Mami dan Papi dan juga Papamu anggap semua itu hanya angin lalu dan kamu perlu tahu jika pernikahan ini bagiku hanya pura-pura saja jadi, mulai detik ini kita harus memerangkan peran kita dengan baik tanpa ada yang menuntut tanggung jawab apa lah itu," terangnya panjang lebar.


Seperti oase di padang pasir, Pelangi merasakan kebahagiaan yang tidak terkira. Raut wajahnya yang sedari tadi lesu,loyo, dan tidak bersemangat sekarang berubah drastis jadi ceria.


Pelangi spontan berdiri dari duduknya lalu memegang kedua tangannya Noah," serius apa yang Tuan katakan?"


Noah Javier Atmanegara Rizal dibuat terkejut dengan kenyataan yang ada. Ia tidak menyangka jika reaksinya Kejora seperti itu.


"Tolong lepaskan tanganmu dari tanganku, kamu tidak perlu bersikap seperti ini juga kali," ketusnya Noah.


Pelangi segera mengangkat tangannya dari tangan Noah sambil tersenyum cengengesan.


"Kemasi sebagian barang-barangmu, karena malam ini juga kita akan berangkat ke Malaysia," perintah Noah lalu bangkit dari duduknya di atas kursi rodanya.


Pelangi kembali dibuat terkejut melihat apa yang dilakukan oleh suaminya itu. Ia menutup mulutnya saking tidak percayanya dengan kenyataan yang ada di depan matanya itu.

__ADS_1


"Ka-mu tidak cacat!?" Raut wajahnya Pelangi pucat pasi saking terkejutnya mengetahui jika pria yang dinikahinya itu yang mereka anggap cacat dan lumpuh itu ternyata mampu dan sanggup berjalan walaupun sedikit terpincang-pincang.


Noah menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya Pelangi," ingat apa yang kamu lihat hari ini adalah cukup kamu saja yang tahu semuanya, jangan sampai ada orang lain yang tahu!" Ancamnya Noah yang jarinya masih berada di atas bibirnya Pelangi.


Pelangi segera menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan persyaratan dari Noah. Hanya butuh waktu yang singkat saja, semua pakaian dan barang-barang yang akan ia bawa ke Kuala Lumpur Malaysia hanya sedikit saja.


"Ya Allah… kenapa semua pakaiannya cukup terbuka dan seksi kalau gini aku harus pilih pakaian yang mana?" Pelangi kebingungan karena semua pakaian yang berada di dalam lemarinya Kejora Aysila Mandala itu pakaian yang tidak mungkin cocok untuk orang yang memakai hijab setiap harinya.


Apa yang dilakukan oleh Pelangi dilihat langsung oleh Noah," kamu tidak perlu banyak mikir, saya akan belikan pakaian yang cocok untuk kamu pakai jika kita sampai di KL," imbuhnya Noah.


Pelangi dan Noah sudah berpamitan kepada kedua orang tuanya dan juga papa mertuanya. Mereka berangkat ke Malaysia dengan penuh perasaan yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Pelangi harus terjebak dalam situasi pernikahan yang aneh menurutnya dengan status kehidupan orang lain sedang Noah sedari dulu memang belum siap menikah ditambah kecelakaan maut yang mengakibatkan kakinya harus lumpuh sementara waktu.


Jauh dari Malaysia negara tetangga, tepatnya di Jakarta Indonesia tercinta. Kejora terpesona pada pandangan pertamanya. Dia kebingungan dengan situasi yang terjadi karena, banyak orang yang memanggilnya dengan panggilan Pelangi.


"Pelangi kenapa hari ini kamu datang ke kafe tidak memakai hijab, pakaian kamu juga sangat seksi!" Sarkasnya Naufal Pria yang sedari dulu menyukai Pelangi secara diam-diam tanpa berani mengungkapkan perasaannya.


Naufal tidak menjawab pertanyaan dari Pelangi,ia melirik ke sekitarnya lalu menarik tangannya Pelangi ke arah samping kafe tersebut. Mereka berjalan beriringan dengan bergandengan tangan menuju salah satu ruangan khusus.


"Ini kan kamar pribadinya, kenapa juga aku dibawa ke sini?" Gumamnya Kejora.


Naufal yang menyadari arti tatapan dari matanya Kejora mengerti dengan arti tatapan itu. Naufal menepuk keningnya Kejora.


"Hentikan pikiran jelek kamu itu, saya membawa kamu kesini karena, aku ingin agar kamu segera mengganti pakaian kau dengan ini," ucapnya Naufal yang salah tingkah dengan tatapan matanya Kejora yang tajam itu.


Naufal segera membuka pintu lemarinya lalu mengambil beberapa lembar potong pakaian khusus perempuan. Kejora kembali terkejut melihat isi dalam lemari berpintu empat tersebut.

__ADS_1


"Ini kan kamarnya, tapi kok banyak stelan pakaian perempuan di dalam lemarinya, apa sebenarnya hubungannya dengan perempuan yang dia panggil Pelangi itu?"


"Jangan bengong mulu, cepat ganti pakainmu itu karena sudah waktunya bekerja!" Tegasnya Naufal.


Kejora berjalan ke arah dalam kamar ganti, ia bergegas mengganti pakaiannya dengan pakaian yang diberikan oleh Naufal. Tapi, Kejora begitu terkejut karena ada hijab diantara pakaian yang akan dipakainya itu.


"Ini cara pakainya gimana?" Kejora kebingungan dan juga keheranan karena sama sekali tidak pernah memakai hijab seumur hidupnya,tapi almarhumah Mamanya memakai hijab. Ia pernah melihatnya memakai hijab.


"Saya pakai sesuai dengan caranya mama Rindu saja," cicitnya sambil memakai hijab itu dengan asal.


Tapi, Kejora sangat terkejut melihat hasil dari apa yang dia kerjakan. Hijab itu sudah menutupi mahkota kepalanya dengan cantik dan rapi. Dia tidak menyangka jika, wanita muda yang berusia sekitar dua puluh tahun itu adalah dirinya.


"Sangat cantik dan cocok aku pakai, pria itu sangat mengerti dengan apa yang pas aku pakai, tapi ngomong-ngomong kenapa dia memanggilku dengan sebutan nama Pelangi? Apa jangan-jangan ada perempuan yang mirip denganku," gumam Kejora.


Naufal segera mengetuk pintu karena sudah cukup lelah berdiri di depan pintu masuk kamarnya.


"Ya Allah… ini anak ganti baju atau tidur? Jangan-jangan ketiduran lagi," ketusnya Naufal sambil mengetuk pintu kamar itu.


Tok.. tok..


Bunyi ketukan pintu yang dilakukan oleh Naufal mampu membuyarkan lamunannya itu. Kejora segera menghentikan kekaguman pada dirinya sendiri.


"Tunggu! Sabar dikit kenapa!" Teriaknya Kejora dari dalam kamar ganti.


Naufal berbalik badan ke arah depan ketika mendengar pintu berderit. Naufal terpana melihat penampilan dari Kejora. Ia cukup terkesima dan terkesan dengan gaya berpakaian dan berhijab dengan model baru yang dipakai oleh Pelangi.

__ADS_1


"Cantik!" Lirihnya Naufal yang tak bisa berkata-kata mengungkapkan apa yang ada di dalam hati dan pikirannya itu.


__ADS_2