Rindu Bintang Kejora

Rindu Bintang Kejora
Bab. 19


__ADS_3

"Andai tanganku bisa menghapus air matamu itu, Abang sudah melakukannya tapi, itu tidak mungkin Abang lakukan jika kamu sendiri tidak mengharapkannya, aku tidak tahu apa aku harus terus bertahan dalam keadaan seperti ini mencintaimu padahal cintamu dari dulu hingga sekarang masih tetap milik pria lain," batinnya Angga Pratama Kusuma yang kembali diam-diam ke dalam rumahnya Rindu yang sudah menguping percakapan antar Rindu dengan Erka Mandala Jauhari.


"Mungkin jalan yang terbaik aku harus bertemu dengannya karena aku tidak mungkin terus hidup seperti ini, jikapun kami sudah bertemu dan berbicara empat mata mungkin hati ini bisa lega untuk mengikhlaskan kepergiannya, tapi apa aku bisa rela mengikhlaskannya hidup dengan perempuan lain, apa aku mampu untuk melihatnya setiap hari bersama dengan perempuan lain, baru memikirkannya saja sanggup membuatku hancur berkeping-keping apalagi aku harus melihatnya dengan kedua mata kepalaku, aku tidak mampu ya Allah…," batinnya Rindu yang tubuhnya sudah bergetar hebat dalam tangisnya.


Angga segera meminta pamit pulang terlebih dahulu kepada Rindu yang sejak tadi berusaha menutupi kegalauan hatinya itu.


"Makasih banyak sudah berkunjung ke rumahku yang sederhana ini, maaf Abang hanya makanan ringan yang mampu aku suguhkan, semoga tidak sungkan dan kapok untuk datang menemui kami di sini," imbuh Rindu yang memaksakan untuk tersenyum.


Angga Pratama Kusuma berusaha untuk tersenyum tulus kepada Rindu," insya Allah… kalau Abang ads waktu pasti akan datang lagi untuk menjenguk kalian, maafkan kedatangan Abang sudah menggangu aktifitasnya dan juga istirahatnya, assalamualaikum," pungkasnya Angga yang tersenyum miris dengan nasib percintaannya yang selalu hidup dalam kesabaran untuk menanti cintanya Rindu yang tidak mungkin ia raih dan gapai walau gimanapun usahanya itu.


Erka kembali memperhatikan rumahnya Rindu dari atas jendela kamarnya. Ia tersenyum penuh arti melihat kepergian dari pria yang mengharapkan cintanya Ibu dari kedua anak kembarnya.

__ADS_1


Erka tersenyum licik," jangan harap kamu bisa mendapatkan wanitaku, kubur dalam-dalam keinginanmu itu jika tidak ingin menderita terlalu lama dalam penantian panjang yang tidak berujung," gumamnya Erka seraya tersenyum melepas kepergian Angga dari depan rumahnya Rindu.


Angga menatap intens ke arah depan pintu rumahnya Rindu yang kebetulan masih berdiri mematung di ambang pintu dengan tatapannya tertuju pada jendela kamarnya Erka, "Maafkan Abang Rindu, mungkin hari ini terakhir aku datang mengusik ketenangan hidupmu, mulai detik ini aku akan memulai kehidupan aku sendiri walaupun itu sangat susah tapi, aku akan berusaha untuk mengikhlaskan kamu dengan pria yang sangat kamu cintai karena sekeras apapun usahaku, sekuat apapun cintaku dan sebesar apapun perhatian yang aku curahkan untukmu hatimu sedikitpun tidak bisa berpaling dari pria itu,"


Cinta tak selamanya memiliki. Keikhlasan mengantarkan kamu ke pintu yang dinamakan kesuksesan.


Bukan karena dia kuat, tapi karena Tuhan yang maha kuat bersama dengan langkahnya.


Rindu menyeka air matanya dan segera masuk ke dalam rumahnya. Karena sudah terdengar adzan ashar dari beberapa toa masjid yang terdengar dari segala penjuru kota Jakarta.


"Maaf jika aku terlalu egois untuk mencintai pria yang sudah beristri, aku sudah cukup menderita selama ini dalam penantian dan mulai detik ini aku tidak akan membiarkan cintaku terenggut oleh wanita lain, biarkanlah aku egois untuk mencintai pria yang sudah beristri," gumamnya Rindu yang memutuskan untuk tetap mencintai dan menyayangi Erka dalam keadaan apapun itu.

__ADS_1


Bu Surti dan Bu Halimah diam-diam memperhatikan dan menjadi penonton dari balik masing-masing tembok rumahnya.


"Ya Allah… semoga Nona Rindu bahagia cukup beberapa tahun ini menderita membesarkan kedua buah hatinya tanpa didampingi oleh seorang pria sekaligus ayah kandung kedua putrinya itu," cicitnya bi Surti.


"Ya Allah… aku sudah cukup tua maka ijinkan aku dan berikan aku waktu dan kesempatan untuk melihat putraku bahagia dengan wanita yang dicintainya, dia pantas bahagia dengan wanita yang baik pula karena mereka juga sudah punya dua orang anak," lirihnya Bu Halimah.


Rindu berlari ke dalam kamarnya, ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjangnya. Air matanya menetes membasahi pipinya itu, ia tidak menyangka jika dia harus kembali bertemu dengan pria yang sudah berjanji padanya sehidup semati dan akan mempersuntingnya.


Dengan itu ia rela memberikan segalanya untuk pria tersebut walaupun mereka belum menikah. Tapi, apa yang terjadi padanya pria itu hingga hampir sembilan tahun barulah ia muncul di dalam kehidupannya kembali dalam keadaan yang berbeda.


"Ya Allah… kalau ini yang terbaik untuk hubungan kami kedepannya maka mudahkanlah jalan kami ini,tapi aku tidak mau menjadi orang ketiga di antara hubungannya dengan perempuan lain tapi, aku tidak bisa melihatnya bahagia dengan istrinya apa boleh aku bisa untuk egois memikirkan suami wanita lain dalam keadaan seperti ini," lirihnya Rindu dengan deraian air matanya sudah membasahi wajahnya itu.

__ADS_1


__ADS_2